Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Mereka Sudah Di Tangkap?


__ADS_3

Semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga setelah menyelesaikan makan malam bersama. Thomas lega luar biasa , saat dilihatnya Andreea sudah mulai melupakan kesedihannya. Menantunya itu sedang bergelayut manja di lengan Anita sembari mendengarkan Anshara yang berceloteh menceritakan bagaimana siang tadi Anggara datang ke kampus mereka, membuat tiga gadis yang selama ini memusuhi Andreea terdiam seribu bahasa.


"Kenapa mereka sangat membencimu?" Anita menolehkan pandangannya pada Andreea.


Andreea menggeleng. "Entahlah, Bu. Salah satu dari mereka teman SMA ku, dia selalu menyebutku anak miskin karena sekolah dengan beasiswa. Sedang dua lainnya , aku bahkan tidak kenal."


Thomas mengernyit tidak suka. "Anak miskin? Apa dia tidak tahu harta kekayaan Ardhani bahkan bisa membeli yayasan sekolahmu."


Andreea terkekeh. "Biarkan saja , selama mereka tidak menyentuhku aku tidak masalah." Andreea lalu mengalihkan tatapannya pada Anshara. "Menyenangkan kan , melihat mereka sangat kesal karena kita meladeninya dengan tertawa?"


Anshara mengangguk. "Itu seru sekali, Ayah harus lihat wajah mereka lain kali." Ia terkekeh.


Anita dan Thomas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bodoh sekali, apa tidak tahu kalau beasiswa juga diberikan untuk murid berprestasi?" Kali ini Anshara menggerutu sebal.


Ponsel Anggara bergetar , dan dari semua orang hanya Thomas yang menyadarinya. Mereka saling melirik , dan Anggara memutuskan untuk mengabaikan panggilan itu.


"Pindahlah! Kau lama-lama memonopoli Ibuku." suara Anshara terdengar lagi, kali ini ia merangsek masuk diantara Andreea dan Anita.


"Kemari." Anggara menatap Andreea lembut.


"Cih. Kau sangat perhitungan." Andreea menggerutu lalu beranjak duduk ke sebelah Anggara.


Ponsel Anggara bergetar lagi. Andreea dapat melihat dengan jelas nama Damar tertera disana. Ia menoleh pada suaminya , karena pria itu tidak kunjung mengangkat panggilan.


"Tidak apa-apa. Aku akan menjawabnya nanti." Seperti tahu pertanyaan yang ada di kepala istrinya , Anggara membelai pelan rambut Andreea.


Anita dan Thomas mengerjap. Perlakuan manis Anggara ini, baru pertama kali mereka melihatnya. Wah putra sulung yang bahkan jarang tersenyum itu bisa juga bersikap lembut pada istrinya.


"Sudah , kalian naik ke atas." titah Thomas pada Andreea dan Anshara. "Ayah dan Kak Gara ingin mendiskusikan beberapa hal."


Mereka menurut , berjalan beriringan menaiki tangga setelah mengucapkan selamat malam pada Anita dan Thomas. Tapi bukannya masuk ke dalam kamarnya sendiri , Andreea malah mengekori Anshara masuk ke kamarnya.


"Setelah ini, semua akan baik-baik saja kan?" Andreea menerawang ke langit-langit kamar setelah merebahkan tubuhnya di atas ranjang Anshara.


"Kau mengkhawatirkan sesuatu?" Anshara menyusul merebahkan diri disamping Andreea.

__ADS_1


Andreea menoleh. "Jika mereka mengincarku, bukankah kau dan semua keluarga ini juga dalam bahaya?" Ia mengalihkan lagi tatapannya ke langit-langit kamar. "Kita tidak tahu, orang-orang seperti apa mereka." gumamnya pelan.


"Kita tidak tahu, tapi Ayah dan Kak Gara pasti akhirnya sekarang tahu. Jangan khawatir." Anshara bergerak menelungkup dan memainkan ujung sarung bantalnya.


"Ree, yang harus selalu kau ingat mereka berhasil mencelakai Ayahmu bukan karena mereka sangat kuat dan Ayahmu terlalu lemah, bukan. Sudah ku bilang, Paman Ardhan hanya tidak mengetahuinya lebih awal." sambungnya lagi.


Andreea mengangguk-anggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Anshara , semoga memang benar.


**


Andreea mengerjap saat merasa penglihatannya silau terpapar sinar matahari. Ah benar saja, ia menebak diluar sana sudah sangat terang meski hanya sedikit saja cahaya yang berhasil masuk melalui sela-sela kecil gordennya.


Andreea mendongak pada jam dinding, sudah pukul tujuh pagi.


"Aku di kamar?" batinnya setelah mengenali interior kamarnya sendiri.


Andreea ingat , semalam ia tertidur di kamar Shara saat sedang asik bercerita dengan adik iparnya itu. Dan pagi ini ia terbangun di dalam kamarnya sendiri. Sudah pasti Anggara yang menggendongnya.


Setelah mandi dan bersiap, Andreea segera turun ke bawah. Di meja makan , sudah ada Anita dan Anshara.


Anita mengangguk. "Hum. Kak Gara tidak berpamitan? Mungkin tidak ingin menganggu tidurmu." Ia membelai kepala Andreea lalu mengedikkan dagu sebagai isyarat agar menantunya itu duduk.


"Kau tidur atau pingsan? Bahkan semalam kau tidak terbangun saat Kak Gara menggendongmu." Anshara menyahut meski kesulitan karena roti yang mengisi penuh mulutnya.


"Ada yang sakit?" Anita bertanya karena Andreea tidak menanggapi ucapan Anshara. Andreea tidur lebih cepat semalam , dan bahkan tidak terbangun saat mungkin Anggara beraktifitas di kamarnya pagi tadi, mungkin saja karena ia kelelahan.


Andreea menggeleng. "Aku baik-baik saja Bu."


"Jika terlalu lelah , istirahat saja di rumah."


Andreea menggeleng lagi. "Aku akan ke kampus saja, hanya berdiam diri aku bisa bosan."


Anita mengambil posisi duduk di samping Andreea, dia mengenggam tangan gadis itu lalu menatapnya dalam.


"Pagi ini, Ayah dan Kak Gara melengkapi beberapa hal di kantor polisi. Mereka akan memastikan orang-orang itu segera di tangkap." Anita mengamati raut wajah Andreea. Masih ada kesedihan disana , meski Anita juga menangkap raut kelegaan di wajah menantunya.


"Ayah dan Ibumu.. relakan mereka , hum? Jangan menangis terlalu lama, mereka pasti akan sedih."

__ADS_1


Andreea mengangguk lalu tersenyum. "Kematian Ayah dan Ibuku, itu takdir kan Bu? Meski dengan cara yang menyakitkan. Asal orang-orang itu dihukum , aku tidak akan perhitungan lagi. Aku akan banyak tersenyum , agar Ayah dan Ibuku tidak khawatir meninggalkanku disini."


Andreea memang sudah bertekad. Ratusan kali ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa kematian itu adalah takdir , meski caranya sangat menyakitkan dan tidak mungkin bisa ia lupakan. Waktu tidak bisa di putar lagi, semua yang sudah terjadi tidak bisa di ubah lagi. Ia akan menyimpan orang tuanya di dalam hati dan kenangan, ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi.


Anita mengangguk, lalu membelai kepala Andreea. Sedang Anshara , hanya menunduk sambil menahan air matanya. Apa yang terjadi pada Andreea terlalu berat , ia tidak bisa membayangkan jika itu dirinya mungkin ia tidak akan bertahan.


"Habiskan rotimu! Kenapa malah menangis , cengeng sekali." Andreea tentu saja menyadari jika Shara di seberang sana berusaha sekuat tenaga menahan air matanya.


"Cih! Lihat siapa yang bicara!"


Mereka lantas tertawa lalu segera menghabiskan sarapannya saat ponsel Andreea berdering panjang.


"Ya , Kak?"


"Sayang, sudah bersiap?"


"Ya , aku sedang sarapan dengan Shara dan Ibu. Sebentar lagi kami berangkat."


"Hari ini saja lewatkan jadwal kuliahmu. Aku akan minta Paman Heri mengantarmu ke kantor polisi setelah mengantar Shara ke kampus."


Deg. Andreea bergeming. Kantor polisi?


"Apa..." Andreea menjeda sejenak kalimatnya. "Apa mereka sudah ditangkap?"


"Hum , tidak apa-apa. Tidak ada masalah , hanya polisi butuh mengkonfirmasi beberapa hal padamu. Kau baik-baik saja , kan?"


"Ya , tidak apa-apa."


"Baiklah , aku tutup. Hati-hati di perjalanan."


Andreea menutup panggilannya , lalu menatap Anita dan Anshara bergantuan.


"Kak Gara bilang , aku harus ke kantor polisi setelah mengantarmu lebih dulu ke kampus."


"Tidak! Aku ikut saja."


**

__ADS_1


__ADS_2