
Anggara menyandarkan dahinya pada roda kemudi mobilnya. Sesekali ia menoleh menatap pergelangan tangannya.
"Lama sekali." Batinnya menggerutu.
Tadi pagi, Andreea mengatakan bahwa mata kuliah terakhir mereka berakhir pukul satu siang, jadi Anggara sudah ada di halaman parkir kampus sejak pukul setengah satu.
Anggara memutuskan keluar dari mobilnya dan bersandar di pintu mobil sembari menunggu istri dan adiknya. Kemeja panjang berwarna emerald yang lengannya ia gulung sampai batas siku, serta kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana. Bayangkan saja bagaimana tampannya pria itu sekarang. Beberapa gadis terlihat jelas menatapnya. Anggara bukan tidak tahu, ia hanya tidak peduli.
"Hai." Seorang gadis menyapanya dengan senyum sumringah.
Tapi Anggara , masih saja mempertahankan wajah dinginnya.
"Kak , apa kau kakak Anshara?"
Anggara hanya mengangguk. Ia bahkan tetap bersandar pada mobilnya, tidak sama sekali berniat menegakkan tubuhnya yang mana sebagai tanda menghormati lawan bicara.
"Sudah ku duga. Kalian sangat mirip. Siapa lagi disini yang berwajah bule selain Anshara." Giselle benar-benar tidak pandai membaca situasi, padahal Anggara jelas menunjukkan sikap tidak bersahabat.
"Kak , kau tahu tidak kalau ada yang selalu membuntuti Anshara kemanapun?"
Anggara menegang, kini ia menegakkan tubuhnya. "Membuntuti? Kau yakin?"
"Hum!" Giselle bersorak dalam hati, akhirnya Anggara mau berbicara dengannya. "Dia selalu mengikuti kemanapun Anshara pergi, kami sudah coba memperingatkannya tapi Anshara tidak mau dengar. Benar kan?" Ia menoleh pada Siska dan Imel yang juga ada disana.
Imel mengangguk.
__ADS_1
Anggara sudah akan merogoh ponselnya saat kembali terdengar gadis itu bersuara.
"Andreea itu memang tidak tahu diri. Menjadi parasit dimanapun dia berada." Giselle menggerutu
"Siapa?"
"Ah , namanya Andreea. Kami satu sekolah dulu saat SMA. Dia bahkan menerima bantuan beasiswa. Kau tidak tahu, kak? Ku pikir , dia putri pembantu di rumahmu karena dia sudah mengekori Anshara bahkan sejak sebelum masa orientasi."
Jika bukan di kampus , rasanya Anggara ingin menjambak rambut gadis ini.
"Kau satu sekolah dengan Reea?"
"Ya , berhati-hatilah kak. Dia pasti akan mengambil keuntungan dari keluargamu."
Anggara baru akan menjawab saat pekikan suara adiknya itu sampai di telinga.
"Ku suruh pulang. Dimana Reea?" Anggara tidak mendapati istrinya itu bersama Anshara.
Anshara mengedikkan dagunya ke arah dia datang tadi. "Sedang mengobrol." Terlihat di sana Andreea sedang berbicara dengan seorang pria.
"Kak Vian lagi? Astaga gadis itu." Giselle menyahut cepat. "Kak lihatlah , dia bahkan menggoda banyak pria." Giselle mengalihkan tatapannya pada Anggara.
"Kau ingin mati?" Anshara mendelik marah. "Jangan dengarkan dia Kak, Reea berteman baik dengan semua orang."
"Kau selalu saja membela--"
__ADS_1
"Sayang, kemari." ucap Anggara saat dilihatnya Andreea sudah berjalan mendekat.
Bukan hanya Anshara, Giselle, Imel dan Siska yang terkejut dengan panggilan Anggara pada Andreea. Andreea sendiri bahkan hampir jantungan karenanya.
Anggara mengusap pelan puncak kepala Andreea ketika gadis itu sudah berada di dekatnya.
"Jangan terlalu dekat dengan pria lain, aku cemburu." Pria itu seperti lupa jika mereka tidak hanya berdua sekarang.
"Baiklah. Kak , kau datang menjemput kami?" tanya Andreea setelah mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan Paman Heri di sekitar mereka.
"Hum." Anggara menggumam. "Kau senang? Aku merindukanmu."
Andreea terbatuk-batuk. Astaga ada apa dengan Anggara siang ini. Dia jadi salah tingkah , terlebih melihat tatapan tiga gadis yang seperti ingin mengulitinya.
Andreea berdehem pelan , lalu melingkarkan tangannya di lengan Anggara. "Terima kasih." ucapnya sembari sedikit mendongak menatap Anggara dengan tersenyum.
Anshara geleng-geleng kepala , sampai kapan mereka akan bertahan di halaman parkir begini. Baru saja ia ingin protes , Anggara sudah menginterupsi.
"Apa ada yang membuatmu kesal? Aku bisa dengan mudah mengeluarkan siapapun dari kampus ini jika kau mau. Tidak peduli mahasiswa atau dosen sekalipun." Anggara masih saja membelai rambut Andreea dengan sayang.
Giselle dan dua temannya menelan ludah dengan susah payah. Sedang Anshara setengah mati menahan tawanya.
Andreea menggeleng. "Tidak masalah , aku masih bisa mengatasinya."
"Katakan jika ada yang membuatmu tidak nyaman." Anggara lebih dulu membuka pintu belakang mobil , lalu menoleh pada Anshara. "Ayo." Ia berjalan memutar dan membuka pintu penumpang depan dengan Andreea yang mengekorinya.
__ADS_1
"Sudah ku bilang , anjingnya sangat galak. Kau masih saja tidak percaya." Bisik Anshara pada tiga gadis yang pucat pasi di hadapannya. Ia lalu terbahak sebelum masuk ke dalam mobil bersamaan dengan Anggara yang juga memasuki pintu mobil bagian pengemudi.
**