Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Ancaman Andreea


__ADS_3

Giselle menjatuhkan bokongnya di lantai salah satu lorong kantor polisi. Ia menyandarkan punggungnya di dinding dan memeluk lututnya sendiri dengan kedua tangan. Tatapan kosongnya menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang , tapi Giselle seperti tidak peduli.


"Gi , kita pergi aja?" Imel berjongkok di sampingnya, mengusap pelan bahu temannya itu.


Giselle mulai terisak , sepertinya ia sudah sepenuhnya menyadari apa yang terjadi. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan , kepalanya menggeleng pelan. Ini tidak benar kan? Yang tadi dia dengar, bohong kan?


Entah sampai berapa lama Giselle terus menangis tersedu-sedu dengan Imel yang memeluknya.


Sedangkan di sebuah ruangan lain , Andreea berhadapan dengan Rachel dan Darmawan. Dadanya sesak , dan matanya sudah memanas. Ia marah sekali , rasanya ingin mencekik kedua orang ini dengan tangannya sendiri. Setelah membunuh Ayah dan Ibunya, mereka tidak terlihat merasa bersalah sama sekali. Tadi bahkan mereka terus menyangkal , sampai Polisi mengatakan sudah mendapatkan kesaksian dari orang-orang yang terlibat , juga sebuah rekaman pembicaraan antara Rachel dan Darmawan yang di dapatkan Zack. Jangan tanyakan dari mana Zack mendapatkannya , sudah pasti dengan cara-cara ilegal.


"Kau mengeluarkan uang receh untuk membunuh kedua mertuaku." gumam Anggara pelan setelah membaca beberapa bukti transaksi keuangan keduanya.


Anggara melemparkan dua lembar kertas itu ke hadapan Rachel dan Darmawan.


"Pelaku sabotase mobil Ayah mertuaku, akan aku pastikan dia menyesal hingga ingin membunuhmu karena telah menerima pekerjaan ini demi bayaran yang tidak seberapa." Anggara melotot tajam pada Darmawan.


"Ga , maafkan aku. Aku tidak tahu apap--"


"Tutup mulutmu! Atau aku akan membuat hidupmu di dalam penjara semakin menyiksa!"


Anggara berdiri , ia meraih lengan Andreea untuk segera pergi dari sana.


Andreea mengenggam erat telapak tangan Anggara seolah sedang meminta kekuatan.


"Aku tidak akan memaafkanmu." Suara Andreea bergetar. "Giselle putrimu? Mulai hari ini, akan aku buat hidupnya seperti di neraka."


Darmawan sontak berdiri. "Giselle tidak tahu apa--"


"Bagaimana denganku? Apa yang aku tahu? Karena kegilaanmu aku sangat menderita kehilangan kedua orang tuaku. Jadi bersiaplah , kini giliran kegilaanku yang akan menghancurkan putri bungsumu. Akan aku pastikan dia menyesal karena terlahir sebagai anakmu." ucapnya pelan tapi menusuk.


Andreea berbalik dan melangkah menjauh.

__ADS_1


"Tidak! Jangan sentuh Giselle! Di tidak tahu apapun!" Darmawan berteriak frustasi , tapi Andreea tidak menoleh lagi. Ia bergegas pergi dari sana diikuti oleh Anggara, Anshara , dan Damar.


Beberapa meter setelah keluar dari ruangan itu, Andreea berhenti. Ia membungkuk untuk menopang lututnya dengan telapak tangan. Dadanya sesak sekali, tubuhnya gemetar. Sesaat kemudian, ia berjongkok, menumpahkan tangisnya disana.


Giselle yang mendengar isakan Andreea menoleh. Dilihatnya gadis itu menangis tersedu-sedu seperti dirinya tadi.


Anshara yang menyadari keberadaan Giselle pun mendekat.


"Gadis kaya yang suka menghina Andreea ini ternyata hanya anak partner eksternal dari perusahaan Ayah Andreea. Lihat, gadis yang kau hina setiap saat itu adalah pemilik restoran yang selama ini di kelola Ayahmu. Memalukan." Anshara mencibirnya dengan senyum miring meremehkan.


"Apa selama ini Ayahmu mengatakan jika restoran itu miliknya? Cih, kau di tipu mentah-mentah oleh Ayahmu? Dan seolah menjadi penipu tidak cukup , dia bahkan menjadi seorang pembunuh." Anshara terus melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan dan kali ini Giselle hanya diam. Dia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya.


Anshara menoleh saat merasa ada langkah kaki yang mendekat. Ternyata Andreea sudah selesai dengan tangisnya, tapi tidak seperti dugaannya , Andreea hanya melangkah lurus melewati Giselle begitu saja.


**


Andreea turun dari mobil dengan langkah pelan. Lututnya masih sangat lemas karena gemetar hebat pada tubuhnya tadi. Jika bisa, dia ingin di gendong saja karena dengan kondisinya sekarang, hanya berjalan saja membuatnya sangat tersiksa.


Andreea melirik sekilas pada Anggara yang sedang menutup pintu mobil. Akan memalukan 'kan kalau dia minta di gendong?


"Putri Ibu hebat." Anita menggumam pelan sambil menepuk-nepuk punggung Andreea. "Kita makan dulu, hum? Ibu sudah buat chicken popcorn kesukaan kamu."


Dari sekian banyak hal-hal menyakitkan yang terjadi dalam hidupnya , satu hal yang Andreea syukuri adalah keluarga ini. Meski tidak bisa menggantikan Ayah dan Ibunya , tapi keluarga ini yang mengobati lukanya , yang mengikis kesepiannya.


**


Anggara sedang memeriksa beberapa hal di dalam ponselnya saat tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Andreea masuk ke dalamnya. Tadi, setelah makan malam , Andreea memang meminta izin padanya untuk pergi ke kamar Anshara.


"Sayang , kemari."


Entah sudah berapa puluh kali Anggara memanggilnya begitu, tapi Andreea masih saja gugup. Jantungnya berdebar kencang hanya karena satu panggilan sayang.

__ADS_1


"Sudah mengobrolnya dengan Shara?"


Andreea mengangguk. "Sedang apa?" Ia melongok sekilas ke arah ponsel di tangan Anggara sebelum menjatuhkan bokongnya di samping pria itu.


"Memeriksa beberapa hal." Anggara menggoyangkan pelan ponsel di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membelai lembut pipi Andreea.


Astaga pria ini, senang sekali membelai-belai pipi orang lain. Tidak tahukah iya jika gadis di sampingnya itu menahan napas setengah mati karena gugup?


"Besok sepulang kuliah , datang ke kantor DC. Ya?" Anggara bertanya dengan hati-hati.


Terlihat jelas raut keraguan di wajah Andreea. Saat Ayahnya masih hidup saja , ia tidak pernah berkunjung kesana.


"Tapi jika kau tidak nyaman , tidak apa-apa. Lain kali saja." Anggara seperti menangkap isi hati istrinya.


Andreea menunduk , terdiam sejenak. "Aku hanya tidak tahu harus melakukan apa jika kesana."


Anggara mengangguk. "Baik , tidak apa-apa. Pergilah dengan Shara ke mall , beli beberapa barang yang kau suka, hum?"


"Kak." Andreea menjeda sejenak ucapannya. "Terima kasih banyak, karena menjagaku dengan baik."


Anggara tersenyum. "Sudah berapa kali kau berterima kasih? Aku bosan mendengarnya."


"Aku hanya merasa sangat beruntung memiliki kau , shara , Ayah dan Ibu. Jika Ayah dan Ibu tidak membawaku ke rumah ini, entah bagaimana hidupku sekarang."


Anggara menarik Andreea untuk duduk di pangkuannya. Entah sejak kapan , posisi ini menjadi favoritnya. Dengan posisi ini, Anggara bisa melihat wajah istrinya dari dekat. Dan yang terpenting, Andreea tidak akan mudah kabur lagi.


"Aku yang sangat beruntung memilikimu sebagai istriku." Anggara menelusuri setiap inci wajah Andreea. Membelai lembut pipi, hidung , lalu bibir istrinya. Tangannya terulur ke tengkuk belakang Andreea lalu menekannya untuk memangkas jarak. Ia mencium pelan bibir yang beberapa bulan ini sudah menjadi candunya.


Andreea mengalungkan kedua tangannya di leher Anggara. Beberapa bulan ini Andreea mempelajari banyak hal. Tentang bagaimana merespon ciuman Anggara salah satunya. Bukan hanya merespon , sekarang ia bahkan bisa membalas untuk mengimbangi suaminya. Setelah beberapa menit berciuman lembut, Andreea seperti otomatis membuka mulutnya agar lidah Anggara bisa lebih leluasa dan mengubah ciuman lembut mereka menjadi ciuman panas.


Saling mencecap dengan lidah yang membelit , perlahan membuat Anggara kehilangan kendali. Tangan kanannya yang tadi melingkari pinggang Andreea kini naik keatas, meremas pelan salah satu dadaa istrinya.

__ADS_1


Dan untuk pertama kalinya , suara desahann itu lolos dari bibir Andreea. Membuat Anggara semakin menggila.


**


__ADS_2