Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Kantor Polisi


__ADS_3

Anggara memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana setelah baru saja menghubungi Andreea. Ia berbalik dan bersiap masuk kembali ke dalam kantor polisi. Adalah keputusan besar saat ia akhirnya memutuskan Andreea harus hadir , karena bagaimanapun istrinya itu satu-satunya keluarga mendiang Ardhan dan Miranda yang tersisa. Polisi butuh mengkonfirmasi banyak hal. Padahal tadinya, Anggara tidak ingin Andreea terlibat.


Anggara memasuki ruangan yang tadi ia tinggalkan. Tidak ada Darmawan dan Rachel disana , dua orang itu di tempatkan di ruangan terpisah. Syukurlah , setidaknya nanti Andreea tidak perlu bertemu dengan mereka. Anggara tidak lupa bagaimana istrinya itu sangat terpukul saat melihat Rachel di kantornya tempo hari.


Damar masih terlihat membicarakan beberapa hal dengan salah seorang polisi , asisten pribadinya itu memang selalu bisa diandalkan. Anggara mendekat saat Damar beranjak pertanda telah menyelesaikan pembicaraannya.


"Semuanya selesai, Tuan. Hanya butuh beberapa pernyataan dari Nyonya Andreea."


"Istriku tidak perlu bertemu dengan pelaku , kan?" Anggara ingin memastikan sekali lagi.


"Ya, seharusnya itu tidak dibutuhkan."


Anggara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Hubungi Heri dan beritahu kemana harus mengantar Andreea."


Damar mengangguk lalu menjauh untuk melaksanakan perintah Anggara. Saat itulah , keributan di depan ruangan terdengar samar-samar.


Anggara tidak peduli andai saja keributan itu tidak menyebut namanya.


"Anggara! Dimana seseorang yang bernama Anggara!" Seorang gadis berteriak lantang setelah berhasil masuk ke dalam ruangan yang sama dengan Anggara.


Anggara menoleh , lalu mengernyit.


Damar yang telah menyelesaikan telponnya , mendekati gadis yang mungkin berusia dua puluhan. "Ada apa?"


"Kau Anggara? Kau yang melaporkan Ayah dan kakakku?"


Damar hanya menatap dalam diam sampai gadis itu secara membabi buta memukuli dadanya.


"Apa kesalahan Ayahku? Apa yang sudah di perbuat kakakku, hah? Kenapa kau membuat mereka terlihat seperti penjahat?" Gadis itu terus menangis , sambil memukuli Damar.


Damar hanya berusaha menghindar , ia sama sekali tidak ingin memberi penjelasan. Di belakang gadis ini ada juga dua orang gadis yang salah satunya mengarahkan kamera ponsel ke arahnya. Astaga, apa-apaan mereka.

__ADS_1


"Kau pesaing bisnis Ayahku hah? Jawab! Kau memakai cara kotor dalam bisnismu?" gadis itu terus mengamuk dengan air mata yang bercucuran.


"Dengar , aku akan memviralkan tentang ini. Jika ingin berbisnis , gunakan cara yang benar! Lihat, ini adalah siaran langsung. Setelah ini aku pastikan restoran milikmu akan hancur karena mencurangi Ayahku!" gadis itu menunjuk temannya yang sedari tadi memegang ponselnya.


Anggara yang melihat itu dari jauh hanya geleng-geleng kepala lalu memutar bola mata malas , isyarat bahwa ia tidak ingin meladeni gadis itu.


Andreea yang datang bersama Shara dan Paman Heri langsung menerobos masuk, tapi langkahnya terhenti saat melihat juga Giselle dan dua orang temannya disana.


"Sedang apa kau disini?" Andreea menatap heran pada Giselle yang bercucuran air mata sembari memukuli asisten pribadi Anggara.


Anggara berjalan cepat lalu menarik tangan Andreea agar menjauh, ia menatap Damar lalu mengedikkan dagunya, isyarat agar pria itu membawa Giselle dan teman-temannya keluar.


Damar segera menarik pergelangan tangan Giselle agar gadis itu keluar, tapi Giselle menghentakkan tangannya.


"Andreea , apa yang kau lakukan disini?" Giselle ingin mendekat , tapi Damar secepat kilat menghalangi saat Anggara melotot tajam.


"Bukan urusanmu! Kita datang untuk menemui Kak Gara!" Anshara menyela , sambil melirik kesal.


"Kak Gara? Kakakmu itu... namanya Anggara?" Giselle menggertakkan rahangnya , ia hempaskan sekuat tenaga tangan Damar yang mencengkeram lengannya.


Anshara mengernyit. Bicara apa gadis ini.


"Dasar menjijikkan! Kalian memakai cara-cara kotor hanya karena masalah sepele? Kenapa mengusik Ayah dan Kakakku?" Giselle berteriak semakin tidak terkendali.


Di tengah keributan itu , datanglah dua orang petugas yang membawa Darmawan dan Rachel ke dalam ruangan itu.


Anggara lekas menyembunyikan Andreea di balik punggungnya. Sedang Giselle menoleh lalu menghambur memeluk Ayahnya.


"Ayah..." tidak sempat Giselle mengatakan lebih banyak hal , tubuhnya di tarik paksa oleh salah seorang petugas.


"Anggara , apa-apan kau! Kami bahkan baru mengirim laporan menyeluruh restoran pagi tadi. Jika ada yang mencurigakan bertanyalah dengan benar, bukannya malah mengirim polisi! Kau ingin sok jagoan?" Darmawan berteriak kesal. Pagi tadi, tiba-tiba rumahnya di datangi beberapa petugas yang langsung menangkap ia dan Rachel.

__ADS_1


"Panggil pengacaramu! Kau tidak akan bisa mengatasi ini sendirian!" Anggara menatapnya murka.


"Ga, aku dan Ayahku mengelola restoran dengan baik selama ini. Tidak pernah ada masalah selama kepemimpinan Tuan Ardhan." Rachel mengiba , menatap lembut Anggara di hadapannya.


Giselle mengernyit. Mengelola? Restoran mana yang di maksud Ayah dan kakaknya. Yang ia tahu, keluarganya memiliki dua restoran yang selama ini menopang hidup mereka.


Anggara memijit pelipisnya malas. "Sudah ku bilang, panggil pengacaramu."


"Jika kau mencurigai gaya hidupku , ingat Ga , aku juga bekerja di perusahaan lain. Aku tidak hanya mengandalkan restoran itu." Rachel masih terus mengiba. Sejujurnya ia kesal juga , apa gaya hidupnya terlalu berlebihan? Hingga dengan mudah Anggara mencium kecurangan di restoran yang ia dan Ayahnya kelola?


"Maaf terlambat , saya Ferdi , pengacara Tuan Darmawan Sudjono." seorang pria yang baru datang , menginterupsi drama yang dimainkan Rachel.


Seorang petugas berdehem meminta perhatian. "Beliau Anggara Stockholm , dan Istrinya Andreea Dee."


Giselle membelalak. Apa dia tidak salah dengar? Istri? Baru saja kemarin ia menyebar berita bohong di kampus mengatakan bahwa Andreea menggoda kakak laki-laki Anshara.


Rachel mengernyit, mencoba menelisik seorang gadis yang seperti dengan sengaja Anggara sembunyikan di belakang tubuhnya. Ah benar, dia ingat pernah bertemu gadis itu di kantor Stockholm Group beberapa waktu lalu. Saat itu ia mengira gadis itu adalah adik kandung Anggara yang ia dengar sekolah di luar negeri .


Darmawan tidak kalah penasaran, bertahun-tahun bekerja dibawah perusahaan keluarga Dee, ia sama sekali tidak mengetahui bagaimana wajah keturunan Ardhani Dee. Jangankan nama dan parasnya, apa ia laki-laki atau perempuan tidak ada yang mengetahui. Orang hanya tahu Ardhani memiliki seorang anak. Hanya itu. Seperti Ardhani sengaja menyembunyikannya.


"Hai , kau putri Paman Ardhan? Maaf jika aku dan Ayahku tanpa sengaja melakukan kesalahan dalam mengelola restoran. Tapi bukankah suamimu terlalu berlebihan? Kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik." Rachel mencoba bernegosiasi dengan Andreea.


Anggara merasakan telapak tangan Andreea yang mengepal erat. Ia tahu , istrinya itu pasti sedang merasa tidak nyaman.


"Kita bisa bicarakan itu nanti, lagipula Dee Corp tidak akan lagi memperpanjang kontrak restoran itu denganmu atau Ayahmu. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan itu." Anggara menatap tajam Rachel dan Darmawan.


Semua orang disana pasti bisa menebak , bahwa pria itu sangat murka.


"Tuan Stockholm dan istrinya melaporkan kalian berdua atas pembunuhan terhadap Ardhani Dee dan Miranda Hesti." seorang petugas mengambil alih penjelasan.


"APAAA?"

__ADS_1


Tidak hanya Darmawan dan Rachel yang terkejut, pekikan itu juga berasal dari Giselle dan dua temannya yang sejak tadi diam menyimak.


**


__ADS_2