Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Suka Berduaan


__ADS_3

Anshara meringis mendapati raut terkejut Andreea. Dia tidak salah kan memberitahu ini kepada Andreea?


"Mereka mengincarku?"


Anshara mengangguk. "Hum. Mereka bahkan mengawasi rumahmu."


"Beraninya mereka. Apa tidak cukup sudah mencelakai kedua orang tuaku? Apa yang mereka inginkan?" Andreea memekik marah.


"Benar , berani sekali mereka. Tapi tenang saja , mereka bahkan bukan apa-apa dibanding Ayah dan Kak Gara. Paman Ardhan hanya tidak mengetahui jika ada yang ingin mencelakainya. Jika Paman Ardhan tahu lebih awal , sudah pasti ia akan menghancurkannya lebih dulu."


Andreea termenung. Apa yang sebenarnya diinginkan orang itu? Apa mereka ingin menguasai perusahaan seperti di film-film? Tidak semudah itu bukan menguasai perusahaan orang lain? Lalu apa yang mereka incar?


Anshara mendekat , menarik Andreea ke dalam pelukannya. "Ree , kau pasti terluka. Andai bisa memutar kembali waktu, akupun rasanya ingin menyeret Paman dan Bibi ke Inggris bersamaku agar kecelakaan itu tidak pernah terjadi." Anshara mulai terisak , sejak tadi ia berusaha menghibur tapi kini tidak tahan lagi.


Andreea pun sama , rasa sakitnya muncul lagi karena tangisan Anshara.


"Tapi Ree , semuanya sudah terjadi. Sudah cukup menangisnya, karena Paman dan Bibi pasti tidak ingin kau bersedih terlalu lama. Sekarang kita dukung saja Ayah dan Kak Gara menghukum orang-orang itu, hum?"


Andreea mengangguk dengan air mata yang semakin deras. "Sebentar lagi. Izinkan aku menangis sebentar lagi."


**


Anggara sedang dalam perjalanan pulang dengan Damar yang mengemudi , saat ponsel Damar di depan sana berdering.


"Ya?" Damar terlihat mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan seseorang di seberang ponselnya.


"Baiklah. Selalu laporkan apapun yang kau temukan." ucapnya sebelum menutup telepon.


"Apa itu Zack?" Anggara bertanya.

__ADS_1


Zack adalah salah satu orang kepercayaan Thomas yang lebih banyak bekerja di belakang layar. Orang-orang yang bekerja di bawah Zack , bukan orang biasa. Mereka terbiasa meretas informasi , membuntuti orang , menghajar orang. Yah , hal-hal seperti itu.


Damar mengangguk. "Ada keributan di kediaman Darmawan , dan Zack sudah memasang kamera di setiap sudut rumah. Tapi sampai sesaat tadi ,antara Darmawan dan putrinya belum ada pembicaraan tentang kematian Tuan dan Nyonya Dee."


Anggara mendengus. "Cih. Laki-laki serakah itu pasti sedang meributkan keputusanku untuk perusahaan pagi tadi."


Dan apa tadi? Zack memasang kamera di setiap sudut rumah Darmawan? Astaga bagaimana pria itu melakukannya.


"Tuan , bagaimana dengan orang suruhan Darmawan?"


"Tahan saja. Kita akan membutuhkannya nanti."


Selama beberapa minggu terakhir , Anggara memang sudah mendapatkan satu orang yang ikut dalam konspirasi kecelakaan Ayah dan Ibu mertuanya. Dari orang itu juga akhirnya Thomas dan Anggara mengetahui siapa pelaku utamanya.


Tapi sayang, peran orang itu bukanlah peran krusial. Dia hanya diminta Darmawan mengawasi kediaman Dee , dan saat Ardhani keluar dengan mobilnya , orang itu melapor pada Darmawan. Hanya itu. Belakangan ia baru tahu bahwa orang yang di awasinya tewas dalam kecelakaan saat ia datang untuk meminta bayaran.


Karena itulah , Thomas dan Anggara belum bisa melibatkan kepolisian. Jika Darmawan menyangkal , semua akan selesai. Hanya kesaksian satu orang , tidaklah cukup. Darmawan bisa dengan mudah mencari alasan.


Anggara menarik napas panjang, lalu membuangnya. Menarik napas lagi, membuang lagi. Begitu terus sampai beberapa kali. Ia berusaha menghilangkan ketegangan di wajahnya.


"Kau boleh pulang. Kabari aku jika menemukan sesuatu." ucap Anggara sembari keluar dari mobil saat Damar menghentikan mobilnya di kediaman Stockholm.


Anggara lekas memasuki rumah dan bersiap naik keatas , saat terdengar suara orang mengobrol dari dapur diiringi tawa-tawa kecil. Ia menoleh , lalu memutar langkahnya ke arah dapur.


Dilihatnya Andreea yang sedang mencetak adonan --sepertinya kue-- dan Anshara yang sedang menggodanya.


"Lihatlah wajahmu , kalau Kak Gara melihat pasti dia sudah menyeretmu ke kamar mandi dan mengguyurmu dengan air dingin." ucapnya sembari tertawa.


"Tidak masalah , aku suka berduaan dengan Kak Gara."

__ADS_1


Anshara dan Anita kompak tertawa sedang Anggara tersedak.


Astaga gadis itu.


Anggara memutar tubuhnya dan lekas pergi dari sana menuju kamarnya. Syukurlah , sepertinya Andreea sudah mulai menguasai dirinya meski masih terlihat jejak-jejak tangisan di mata bengkaknya.


Anggara baru akan memasuki kamar mandi saat Andreea masuk ke dalam kamar.


"Kak , kau sudah pulang?" tanyanya sedikit terkejut.


Anggara langsung memeluknya tanpa menjawab pertanyaan Andreea. Diangkatnya tubuh istrinya itu seperti bayi koala membuat Andreea memekik karena terkejut.


"Jangan memelukku , aku belum mandi. Turunkan!"


Anggara melangkah mundur hingga mencapai sofa , lalu menjatuhkan bokongnya disana dengan Andreea diatas pangkuannya.


"Mau mandi bersama?" Anggara membelai pipi Andreea. Tiba-tiba saja pikirannya menggila. Jantungnya berdebar sangat kencang.


Andreea menggeleng. "Aku sedang membuat kue , tadi aku masuk hanya ingin mengambil ponselku."


"Ah, jadi mengambil ponsel. Aku pikir karena kau tahu aku sudah pulang."


Andreea mengerjap, laki-laki di hadapannya ini kenapa tampan sekali. Membayangkan ia bisa memamerkan Anggara di depan teman-temannya membuat jantungnya berdegup kencang.


"Bukankah kau suka berduaan denganku?"


Lamunan Andreea buyar seketika. "KAK GARAAA!" pekiknya sambil memukul dada Anggara , lalu turun dan menyambar ponselnya di meja rias. Setengah berlari ia keluar dari dalam kamarnya meninggalkan Anggara yang tertawa bahagia.


Astaga malu sekali.

__ADS_1


**


__ADS_2