
Anita tersenyum haru saat melihat Andreea tertawa lepas bercanda dengan Anshara. Ia meremat telapak tangan Thomas di sampingnya. Dan seperti telepati, Thomas langsung mengangguk pelan setelah menatap Andreea sesaat.
"Sudah , setelah ini kita akan melimpahi Reea dengan kasih sayang dan kebahagiaan. Jangan bersedih lagi!" Thomas berbisik pada Anita sembari mengusap telapak tangan istrinya itu.
"Ibu menangis?" Anshara yang pertama kali menyadarinya.
Anita mengusap kasar air matanya dengan cepat, lalu menggeleng. "Ibu hanya sangat bahagia. Setelah ini, ayo kita berbahagia."
Andreea mendekat, memeluk erat Ibu mertuanya. "Aku bahagia, Bu. Terima kasih karena memintaku menjadi menantu Ibu dan Ayah."
Anita menciumi kedua pipi Andreea. "Katakan pada Ibu jika Kak Gara membuatmu kesal , hum?"
Andreea mengangguk lalu terkekeh. Entah sudah berapa ribu kali ia mengucap syukur di dalam hatinya karena memiliki Stockholm sebagai keluarga.
"Sayang , kau belum sempat bulan madu. Pergilah berlibur dengan Kak Gara." Anita masih menangkup wajah menantunya itu sembari melirik Anggara sekilas.
"Kau mau kemana? Aku akan siapkan semuanya." Anggara menyahut , menyetujui saran Ibunya.
Tapi Andreea malah menggeleng. "Aku tidak suka jauh dari semua orang. Nanti lain kali kita berlibur bersama saat Ayah punya waktu." Andreea beralih menatap Thomas. "Ayah , terima kasih karena sangat menyayangiku."
Thomas menarik pelan ujung hidung Andreea. "Kau terlalu sering berterima kasih. Ayah bosan."
Semua orang terkekeh.
"Kenapa kau tadi bersikap baik pada Giselle?" Anshara mengalihkan pembicaraan saat tiba-tiba teringat kejadian di pengadilan tadi siang.
Kejadian itupun sudah sampai di telinga Anita dan Thomas yang sekarang menatap Andreea seolah menunggu jawaban.
Andreea menghela napas, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Anita. "Giselle seperti aku yang tidak tahu apapun tapi tiba-tiba harus kehilangan keluarga. Dia juga pasti sangat hancur Bu." Andreea mendongak sebentar menatap Anita, lalu merebahkan kembali kepalanya. "Ayah dan Kakaknya di penjara , semua harta keluarga mereka habis tidak bersisa. Bahkan aku dengar rumah yang selama ini di tinggali Giselle pun harus dijual. Dan Giselle harus pergi keluar kota--"
"Giselle pergi keluar kota itu karena kemauannya sendiri, aku tidak pernah memaksanya , meminta pun tidak." Anggara menyela.
"Aku tahu. Jakarta pasti membuatnya tersiksa. Lagipula dia sudah meminta maaf berkali-kali. Dia bahkan berjanji untuk hidup menderita , Bu." Andreea mendongak lagi menatap Anita. "Hidupnya sudah sangat menderita, jadi aku harap dia hidup dengan baik dimanapun dia tinggal." suara Andreea terdengar sendu.
Bagaimanapun Giselle memang tidak bersalah. Dia hanya remaja pada umumnya yang sedang menikmati hidupnya.
__ADS_1
Anita mengangguk, mengusap-usap punggung Andreea dengan sayang. "Anak Ibu sudah dewasa. Jangan khawatir, dia akan hidup dengan baik bersama kakak sepupunya."
**
Anggara melangkah lebar menuju ruangannya di gedung DC. Tentang apa yang terjadi disini beberapa hari terakhir, Mark sudah melaporkan semuanya. Fatah Gunawan , pria yang berstatus sebagai paman dari istrinya itu sepertinya ingin terang-terangan melawannya.
Benar saja , baru selangkah Anggara keluar dari lift sudah terlihat Fatah dan beberapa orang seperti sedang berdebat dengan Elisa di depan ruangannya.
Melihat Anggara berjalan ke arah mereka , beberapa orang lekas menyingkir dari depan pintu. Anggara tidak bertanya apapun , ia langsung saja masuk ke dalam ruangan tanpa menoleh sedikitpun.
Tidak lama , Damar mengekor. "Tuan , orang-orang diluar ingin bicara dengan Anda."
Anggara mengangguk. Dia sudah siap mendengarkan apa saja yang ingin mereka katakan.
"Ga, sepertinya kau sangat sibuk." Fatah Gunawan , melempar senyum saat memasuki ruangan Anggara.
"Tentu saja, aku bukan pengangguran."
Jawaban Anggara , membuat Fatah tersentak. Ia bisa melihat dengan jelas raut kesal Anggara di hadapannya.
"Jadi, apa yang membawa Paman kemari?" Anggara duduk di sofa tunggal yang ada disana. "Ah ralat , harusnya aku menanyakan lebih dulu apa yang membuat paman mengumpulkan dewan direksi beberapa hari lalu?"
Anggara melihat satu persatu wajah yang ada disana. Bukan wajah yang asing , beberapa diantaranya adalah direksi perusahaan.
"Ga , jangan salah paham. Akhir-akhir ini kau terlihat sangat sibuk jadi--"
"Paman memata-mataiku?"
"Ah , tentu saja tidak." Fatah membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. "Semua orang tahu kau sangat sibuk Ga. Terlebih kasus pembunuhan Mas Ardhani dan Mbak Miranda, pasti membuat tenaga dan pikiranmu terkuras."
"Jadi?" Anggara merasa pria ini terlalu banyak berbasa-basi.
"Paman mendiskusikan ini dengan beberapa dewan direksi. Kau sangat sibuk sebagai wakil presiden direktur di Stockholm Group. Jadi apa tidak sebaiknya Dee Corp di pimpin orang lain?"
Anggara mengernyit.
__ADS_1
"Maksud paman , tentu saja Dee Corp adalah milik Andreea nantinya. Tapi sementara kau kewalahan, sebaiknya DC di pimpin orang lain dulu sampai Andreea benar-benar siap."
Anggara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Menurut paman , siapa yang pantas?"
Fatah tersenyum cerah. "Bagaimana jika Leo? Dia cukup berpengalaman, sudah dua tahun dia bekerja di salah satu garmen terbesar di Indonesia. Paman rasa , itu tidak buruk."
Anggara berdehem. Ia bersedekap dengan kedua tangannya. "Biarkan aku bertanya beberapa hal."
"Tentu saja. Tanyakan apapun." Fatah masih terlihat sangat sumringah. Entah apa yang membuatnya begitu bahagia.
"Atas dasar apa Paman mengumpulkan Dewan Direksi?"
"Huh?"
"Paman bahkan tidak bekerja disini. Paman juga bukan salah satu pemegang saham Dee Corporation. Bagaimanapun aku memikirkan, aku tetap tidak menemukan jawaban atas pertanyaanku."
Fatah mengeratkan rahangnya, tapi ia berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya. "Ga , aku adalah keluarga Ardhani. Ini bukanlah hal besar 'kan?"
"Semua orang tahu paman adalah keluarga Ayah mertuaku. Tapi apa hubungannya itu dengan Dee Corp? Barangkali Paman lupa , Bibi Melani dan Ayah mertuaku adalah sepupu dari mendiang Nenek. Nama belakang Dee didapat Ayah mertuaku dari mendiang Kakek. Kalian memang keluarga dari istriku tentu saja. Tapi Dee Corporation, tidak ada hubungannya dengan kalian." Anggara menatap tajam Fatah di depan sana.
"Dan apa tadi? Leo?" Anggara terkekeh. "Andreea adalah satu-satunya yang berhak atas DC. Dan aku, terlepas dari aku adalah suami Andreea , jelas aku lebih mampu duduk disini."
"Ga--"
"Apa pengalaman putra paman yang dua tahun menjabat sebagai manager keuangan cukup untuk tiba-tiba mengendalikan perusahaan sebesar ini? Aku sudah lima tahun menjabat wakil presiden direktur, jadi jangan khawatir. Percayakan DC padaku."
"Kau benar-benar angkuh. Asal kau tahu , ini bukan hanya pendapatku. Beberapa dewan direksi--"
"Baiklah. Aku akan minta Damar mencari tahu siapa saja dewan direksi yang meragukan kemampuanku. Jangan khawatir, aku akan buktikan pada mereka , jika aku mampu."
Beberapa orang yang duduk disana tiba-tiba menegang. Seharusnya memang mereka tidak gegabah, bukankah mereka sudah lihat sendiri bagaimana cara Anggara bekerja?
"Tuan--"
"Jika sudah selesai , silahkan keluar."
__ADS_1
Anggara tidak memberi kesempatan lagi untuk orang-orang itu mengatakan apapun.
**