
Seperti biasa Andreea selalu bangun lebih dulu. Terlebih semalam ia tidak bisa tidur nyenyak. Jantungnya terus berdegup kencang membuat tidurnya gelisah dan tidak nyaman.
Setelah mandi Andreea bergegas kebawah, menemui Anita yang seperti biasanya sudah ada di dapur pagi-pagi sekali.
Anita yang menyadari Andreea sedang menghampirinya segera melepas celemek dan mencuci tangannya.
“Sayang kemari.” Anita memeluk erat gadis itu.
Setelah puas, ia merenggangkan pelukannya. Membuat Andreea sedikit mendongak. “Kau banyak menangis? Ibu akan memarahi Kak Gara nanti.” Ucapnya menatap iba sambil mengusap lembut kedua pipi Andreea.
Andreea lekas menggeleng. “Tidak Bu. Wanita itu hanya mantan kekasih Kak Gara. Mereka tidak lagi memiliki hubungan.” Ia tahu Anita pasti sudah mendengar perihal kedatangan Rachel kemarin.
Anita menarik Andreea untuk duduk di meja makan setelah memerintahkan seorang ART untuk melanjutkan masakannya.
“Apa Kak Gara sudah menjelaskan?”
Andreea mengangguk. “Wanita itu memeluk Kak Gara tanpa izin. Lain kali saat bertemu lagi, akan aku jambak rambutnya.” Ia menggumam kesal.
Anita menahan tawanya. Lega sekali rasanya melihat Andreea sepertinya mulai tertarik kepada putranya.
“Baiklah. Katakan juga padanya jika Kak Gara adalah suamimu. Jangan biarkan dia dekat-dekat dengan Kak Gara.” Dukung Anita memprovokasi.
Meja makan pagi itu lebih hangat dari biasanya. Meski Anggara tetap seperti biasa dengan mode dingin, tapi Thomas dan Anita bisa melihat hubungan Andreea dengan Anggara yang sedikit lebih dekat.
__ADS_1
“Berhenti melotot, matamu hampir keluar. Kakak dengan Reea sudah berbaikan.” Ucap Anggara setelah dilihat tatapan Anshara yang semakin tajam seperti ingin mencincangnya hidup-hidup.
**
“Aku akan mengantar mereka. Jemput saja siang nanti.” Anggara berucap pada Heri, supir yang ditugaskan mengantar Shara dan Reea kemanapun mereka pergi.
Heri mengangguk patuh, sedangkan Anshara memekik.
“Aku tidak mau!”
Anggara memutar bola matanya malas. “Pergi denganku, nanti siang Paman Heri akan menjemput kalian.” Ia lantas membuka pintu mobilnya sendiri.
“Cepatlah! Ini sudah siang.” Teriaknya lagi.
“Ree, kau di depan.” Anggara menatap tajam istrinya itu ketika Andreea menyentuh pintu belakang di sisi berlawanan.
Selama perjalanan dari rumah ke kampus , Andreea hanya diam. Melempar pandangan keluar jendela dan mengamati kendaraan yang lalu lalang pagi itu.
“Kau bilang sudah berbaikan dengan Reea, tapi dia masih saja takut padamu.” Anshara mendengus kesal.
Anggara membelai rambut Andreea yang duduk di sampingnya, membuat gadis itu terkejut.
“Katakan padanya, apa kau masih marah padaku?”
__ADS_1
“Eh, tidak. Wanita itu bukan siapa-siapa Kak Gara.” Andreea melirik tajam Shara di belakang dengan isyarat agar gadis itu diam.
“Jika kau menyakti Reea, aku akan meminta Ayah mengusirmu!” Anshara belum berniat berhenti.
“Baiklah.” Jawab Anggara enteng.
Setelah sampai di pelataran kampusnya, Anshara bergegas keluar. Ia tahu kakaknya itu masih ingin bicara sesuatu pada Andreea. Tidak mungkin Anggara tiba-tiba mengantar mereka jika tidak ingin membicarakan apapun.
“Aku tunggu di taman depan fakultas tehnik.” Ucapnya saat membuka pintu untuk keluar.
Anggara tersenyum senang. Tidak disangka adiknya itu sangat peka.
“Eh?” Andreea yang kebingungan langsung menangkap arti perkataan Anshara saat tiba-tiba Anggara menggenggam tangannya.
Ia mengerjapkan matanya gemas.
“Jangan ikat rambutmu.” Anggara menarik ikat rambut istrinya tanpa ijin membuat Andreea terjingkat kaget.
“Kenapa?” protesnya tidak terima.
“Terlalu cantik. Aku tidak ingin istriku ditatap banyak pria.” Anggara menatap dekat wajah istrinya, membuat Andreea lagi-lagi lupa bernafas.
**
__ADS_1