
Sepanjang perjalanan pulang, Andreea hanya diam. Ia menatap ke luar jendela mobil, menatap semua hal yang ia temui di jalan. Pohon , kendaraan , orang. Andreea pikir , ia sudah cukup menangis kemarin. Meski bukan orangtua kandungnya , Anita dan Thomas menjaganya dengan baik. Begitupun Shara dan Anggara. Andreea pikir, ia sudah baik-baik saja.
Tapi melihat langsung Rachel di depan matanya, membuat Andreea sadar bahwa hatinya masih sangat terluka. Wanita itu dan Ayahnya, yang membunuh kedua orang tuanya.
Andreea meremat kuat kemeja oversized yang dikenakannya, ia terisak lagi. Ah , entah sudah berapa banyak air mata yang keluar belakangan ini.
Anggara yang sedang mengemudi di sampingnya mengulurkan tangan. Meraih tangan Andreea dan membawanya ke depan dada. Ia tidak mengatakan apapun, hanya mencoba menyalurkan ketenangan lewat genggaman tangannya.
Saat mobil memasuki kediaman Stockholm, sudah terlihat Anita yang gelisah di depan pintu utama rumah. Wanita itu pasti sudah mendapat kabar tentang kedatangan Rachel ke kantor tadi.
"Ibu!" Andreea menghambur ke pelukan Anita sesaat setelah turun dari mobil.
Anita menuntunnya masuk ke dalam rumah setelah mendekap tubuh Andreea sesaat tadi. Ia mendudukkan Andreea di sofa ruang keluarga, dan meminta seorang ART untuk mengambilkan segelas air.
"Kau pasti marah sekali." Anita menggumam sambil terus mengusap lembut kepala Andreea.
Andreea mengangguk di sela-sela tangisnya.
"Ingin menghukum mereka dengan tanganmu sendiri? Ibu akan meminta Ayah agar membiarkanmu melakukan apapun pada mereka."
Andreea tidak menjawab. Ia masih terus menangis , tapi di dalam hatinya mempertimbangkan apa perlu menampar , memukul , menjambak atau apapun yang bisa ia lakukan pada orang-orang itu.
"Tapi sayang, Ibu jamin. Sekuat apapun tanganmu ini menyakiti mereka, tidak akan membuat mereka menderita. Kau hanya semakin menyakiti dirimu sendiri." Anita memutus segala pertimbangan di hati Andreea.
Andreea mengangguk. "Jika mereka dihukum , itu sudah cukup, Bu. Hatiku merasa sangat sakit tadi melihat dia berkeliaran setelah membunuh Ayah dan Ibuku." Ia terisak lagi. Sesungguhnya memang itu yang membuatnya terluka, Ayah dan Ibunya tidak ada lagi. Ia tidak bisa menemui mereka lagi. Tapi seseorang yang membunuh mereka , malah hidup berkeliaran dengan damai seolah tidak terjadi apapun.
Anshara mendekat, memeluk Andreea dari sisi yang lain. "Stok air matamu masih berapa banyak lagi? Jika kau terus menangis, wajahmu akan membengkak dan Kak Gara akan melirik wanita lain."
Anggara berdecak. Penghiburan macam apa itu. Tapi melihat wajah Andreea yang melotot melirik Anshara, membuatnya mengulum senyum.
"Jangan dengarkan dia! Ayo naik, istirahat di kamar saja." Akhirnya Anggara mendekat setelah beberapa menit tadi hanya menonton apa yang Ibunya lakukan.
Andreea menggeleng. "Aku sudah tidur tadi di kantor Ayah." Ia menoleh pada Anita. "Ibu, mau membuat kue denganku?"
Anita tahu, Andreea butuh kesibukan untuk mengalihkan pikiran dan rasa sedihnya. Jadi tanpa banyak berpikir , Anita mengangguk. "Baiklah , ganti dulu bajumu , hum?"
__ADS_1
Andreea mengangguk lalu beranjak menaiki tangga bersama Anggara.
Anshara mendekat pada Anita saat dilihatnya Andreea sudah menghilang di lantai dua.
"Bu, malang sekali Reea. Saat bertemu wanita itu tadi, Reea gemetar di dalam lift. Ia bahkan tidak bisa berdiri." Anshara memeluk erat Ibunya.
"Ibu pikir kau tidak sedih , tadi kau masih sempat menggodanya."
"Ck. Gadis itu akan semakin banyak menangis jika orang lain juga menangis didepannya."
Anita mengangguk. "Kau menjaganya dengan baik, sayang. Jangan bertengkar, hum? Andreea tidak memiliki siapapun lagi selain kita. Hanya kita keluarganya. Diskusikan dengan baik-baik jika ada masalah, karena jika kalian memiliki kesalahpahaman, ia tidak akan bisa mengadu pada Ibu, kau mengerti kan maksud Ibu?"
Anshara mengangguk. "Kami memang tidak pernah bertengkar."
**
Andreea baru saja selesai mengganti bajunya dan bersiap turun ke bawah saat Anggara memanggil.
"Kemari sebentar."
Pria itu sedang duduk di sofa masih dengan pakaiannya yang tadi.
"Jangan menggodaku." Anggara membelai pinggang Andreea saat kedua tangan gadis itu melingkar di lehernya.
Haissh , padahal pinggang istrinya itu terbalut kaos tipis meski tidak menerawang, tapi kenapa bisa membuat pikirannya melayang kemana-mana.
Andreea mengernyit.
"Siapa yang menyuruhmu duduk disini, hum?"
Raut terkejut Andreea itu membuat matanya mengerjap lucu. Ia segera menarik tangannya dari leher Anggara , dan bersiap untuk berdiri.
"Ah , maafkan aku."
Anggara lekas menahan bagian belakang pinggang istrinya , dan semakin merapatkan tubuh mereka.
__ADS_1
"Aku juga tidak menyuruhmu berdiri." Ia mendekat , mengecup sekilas bibir Andreea.
Anggara kembali memangkas jarak , dan mencium lagi bibir istrinya saat gadis itu tidak menunjukkan penolakan. Kali ini, bukan sekedar kecupan. Ia melumatt pelan , mencecap perlahan bibir yang akhir-akhir ini membuatnya kecanduan.
Hingga entah keberanian darimana , Andreea tiba-tiba membalas ciuman suaminya dan kedua tangan sudah meremat rambut bagian belakang Anggara.
Gadis itu bergerak gelisah saat kedua tangan Anggara membelai punggungnya.
****.
Anggara mengumpat di dalam hati karena gerakan Andreea berhasil memancing hasratnya. Secara naluri lelaki, tentu saja ia tidak ingin berhenti. Lagipula gadis ini adalah istrinya, kan?
Perlahan Anggara menarik tangan kanannya dari punggung Andreea dan menelusupkannya ke balik kaos tipis yang dikenakan istrinya itu. Ia membelai perlahan kulit punggung Andreea.
Jantung Anggara semakin menggila , selama beberapa bulan pernikahan mereka , ini adalah pertama kali Anggara menyentuh Andreea sejauh ini.
Ah gila , gadis itu bahkan membuka mulutnya dengan sukarela agar Anggara bisa mengeksplorasinya dengan leluasa.
Anggara menarik jarak , lalu tersenyum. Membelai lembut pipi Andreea yang langsung merona seperti tersadar apa yang baru saja mereka lakukan.
"Kau sudah sangat pintar berciumaan." suara Anggara terdengar serak , hasratnya sudah di ubun-ubun tapi ia harus menahan diri. Berulang kali Anggara mengingatkan dirinya sendiri bahwa Andreea masih sembilan belas tahun , ia harus mendekatinya perlahan agar nanti saat Andreea menyerahkan dirinya, gadis itu sepenuhnya sadar apa yang dia lakukan dan atas keinginannya sendiri.
Andreea memukul dada Anggara. "Jangan menatapku begitu!" Ia membuang pandangan ke sembarang arah karena malu. "Sudah, aku akan membuat kue dengan Ibu."
Anggara kembali menahan pinggang Andreea saat gadis itu akan beranjak.
"Damar sudah melaporkan mereka ke polisi." Anggara membuka pembicaraan serius yang tadi tertunda oleh ciuman panas mereka. "Bukti yang kita punya sudah tidak mungkin bisa mereka bantah lagi."
Anggara menelisik wajah istrinya. "Aku sudah memastikan mereka kehilangan segalanya sebelum membusuk di penjara."
Andreea mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi, jangan bersedih lagi. Setelah orang-orang itu dijatuhi vonis , kita berkunjung ke makam Ayah dan Ibu, hum?"
Lagi-lagi Andreea mengangguk dan sebuah kecupan kecil ia berikan pada Anggara sebagai hadiah.
__ADS_1
"Terima kasih."
**