
Anggara mematung. Menatap seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Ia sedang banyak sekali pekerjaan, tapi wanita ini tiba-tiba menghalangi jalannya.
“Gara.. bagaimana kabarmu?” tanya wanita itu.
“Baik. Sedang apa kau disini?” Anggara menatapnya dingin, lalu berjalan melewatinya begitu saja.
Wanita itu mengejar langkah Anggara. “Aku ingin menemuimu.”
“Maaf , Cle. Jika tidak ada yang mendesak bisakah kau pergi?” Anggara menghentikan langkahnya di depan lift. “Pekerjaanku sedang sangat banyak.”
Cleopatra. Wanita itu tercekat. Meski Anggara dikenal dingin sejak masa sekolah, tapi Cleopatra tidak pernah merasakannya. Anggara selalu lembut dan bersikap manis kepadanya.
“Kau masih marah kepadaku?” tanya nya hati-hati. “Maafkan aku karena membuatmu terluka sangat lama.” Cleo menatap mata Anggara dengan percaya diri.
Anggara tertawa. “Sepertinya kau salah paham. Aku bahkan hampir tidak mengingatmu jika kau tidak berdiri di kantorku pagi ini.”
Lagi, Cleo tercekat. Ia sengaja datang pagi sekali untuk menemui Anggara, dengan membawa keyakinan bahwa Anggara akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Tapi, apa ini? Bukankah laki-laki ini dulu sangat memujanya?
“Ga.. Mari kita bicara.” Cleopatra berusaha menyentuh lengan Anggara tapi lelaki itu lekas menyingkir.
“Jangan memaksaku mengusirmu. Itu akan sangat memalukan.” Anggara melangkah masuk ke dalam lift. Menuju lantai dua belas dimana ruangannya berada.
Cleo menatap tak percaya pada pintu lift yang tertutup. Dia sangat terkejut hingga tak sempat mencerna apa yang sedang terjadi.
“Cleo?” Seorang pria menatapnya. “Kau benar Cleo kan?”
Cleopatra menoleh. “Herjuno? Kau bekerja disini?” tanyanya terkejut. Herjuno Ardhi adalah salah satu teman di kampus yang sama dengan Cleo dan Anggara.
Herjuno mengangguk. “Aku di kantor cabang Bandung. Apa kau juga bekerja di SG?”
Cleo menggeleng. “Juno bisakah kita bicara sebentar?” Tiba-tiba banyak yang ingin ia tanyakan kepada Herjuno.
Herjuno mengangkat pergelangan tangannya. “Aku punya sepuluh menit.”
Cleo mengangguk dan mereka berdua beranjak menuju lobby. Memutuskan duduk di salah satu sofa yang ada disana.
“Apa kau sudah lama bekerja disini?” tanya Cleopatra menyelidik.
“Sudah ku bilang aku di cabang Bandung. Hari ini aku datang karena ada rapat gabungan.”
__ADS_1
“Apa kau tahu siapa pemilik perusahaan ini?”
Herjuno terkekeh. “Tentu saja , aku sudah hampir lima tahun bekerja di SG.”
“Haiish , tidak mungkin kan SG baru berdiri saat kau mulai bekerja disini. Aku pikir dulu Anggara tidak lebih kaya dari Dion.” Cleo berdecak kesal.
“Jadi kau menyesal?” Herjuno terkekeh pelan. Dia tahu Cleo dan Anggara semasa kuliah menjalin cinta selama kurang lebih tiga tahun. Lalu mereka putus entah karena apa, tidak lama kemudian Cleo berpacaran dengan Dion.
“Tentu saja , cih.” Wajahnya semakin terlihat kesal. “Apa Anggara punya pacar?” tanyanya lagi.
“Mana aku tahu. Selama lima tahun bekerja aku hanya bertemu dengannya satu kali, dua tahun lalu saat dia menggantikan Tuan Thomas memeriksa kantor di Bandung.”
Herjuno mulai kesal juga. Menurutnya Cleopatra tidak tahu malu. “Aku harus pergi.” Herjuno beranjak, tidak peduli walau cleo terlihat masih ingin banyak bertanya.
“Tunggu, berikan nomor ponselmu.” Cleopatra mengulurkan ponsel miliknya.
“Tidak, aku tidak ingin istriku cemburu.” Herjuno pergi darisana tanpa menoleh lagi. Ia terkekeh pelan.
Memangnya istri mana yang akan cemburu hanya karena suaminya menyimpan nomor ponsel teman wanita? Aurorae? Tidak. Megumi apalagi.
Herjuno terus membatin sambil sesekali tertawa pelan.
“Hanya seorang manager, sombong sekali.” Gumamnya sambal menatap punggung Herjuno yang menghilang masuk ke dalam lift.
(Kisah Herjuno Ardhi dengan dua istrinya , ada di karyaku sebelumnya yaa.. judulnya Atap Yang Kau Janjikan)
**
Sedang di kediaman Stockholm, Andreea merasa gelisah. Semalaman ia tidak bisa tidur, terngiang-ngiang pembicaraan di ruang tengah.
Tentang Thomas yang tidak ingin menunda terlalu lama pernikahan antara Andreea dan Anggara.
Semua orang setuju.
Begitu juga Anggara. “Aku tidak masalah.” Seperti itu jawabnya ketika Anita bertanya.
“Jika Andreea dan Anggara sudah setuju, sebaiknya akhir bulan saja sebelum Andreea mulai kuliah.” Thomas mengambil keputusan.
Andreea mulai tidak tenang. Akhir bulan itu hanya tersisa dua minggu lagi.
__ADS_1
“Paman.. apa tidak terburu-buru?” tanyanya memberanikan diri.
“Semakin cepat semakin baik , Nak.” Thomas tersenyum lembut. “Semakin lama kita membiarkan posisi CEO Dee Corporation dalam kemelut, akan semakin tidak baik.”
Thomas menarik nafas pelan. “Lagipula awal bulan depan Kak Gara harus ke Australia, ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda.”
Andreea tergugu. Thomas menyebutnya Nak.
“Berapa lama Ga?” Anita bertanya.
“Dua sampai tiga minggu Bu, aku harus stay memastikan semua berjalan lancar hingga Grand Opening.” Anggara menyahut, menatap Anita lembut padahal ekor matanya menelisik ekspresi Andreea yang duduk di seberang sofa.
Anita mengangguk. Lalu menoleh menatap Andreea yang duduk di sampingnya.
“Kenapa sayang? Kau ragu-ragu?” Anita bertanya sambil membelai lembut kepalanya.
“Bukan begitu Bibi… hanya saja.. Kak Gara pasti sibuk.” Jawabnya asal tidak berani melirik Anggara.
Anggara mengernyit. “Aku tidak masalah.” Bukankah tadi dia sudah bilang begitu.
Andreea tersentak kaget.
“Ree.. menurutmu apa Kak Gara laki-laki baik?” tanya Anita.
Andreea mengangguk. Tapi tetap menunduk, tidak berani menatap siapapun.
“Paman tahu, ini sulit untukmu. Begitu juga untuk Kak Gara. Jalani saja dulu, bagi Paman yang terpenting kami sangat mengenalmu dan sangat menyayangimu, dan Kak Gara tidak akan menyakitimu. Itu sudah cukup. Tentang cinta , seiring waktu akan tumbuh , percayalah.” Thomas kembali menasehati.
Dan Andreea hanya mengangguk. Ada bulir bening yang setengah mati ia tahan, bukan karena sedih atau hatinya terluka, tapi karena ia terharu merasakan ketulusan keluarga sahabatnya.
“Meski awalnya Paman dan Bibi yang mengatur pernikahan ini, tapi ini bukan main-main. Kalian berusahalah untuk saling menerima. Bibi harap kau bahagia bersama Kak Gara, begitupun sebaliknya.” Anita merasa tenggorokannya tercekat. Tidak pernah membayangkan bahwa putranya akan menikahi Andreea , putri dari sahabatnya.
Andreea dan Anggara sama-sama mengangguk.
Andreea berguling-guling di atas kasur. Dua minggu lagi dia akan resmi menjadi istri anggara.
“Ah rasanya tidak sabar.” Gumamnya pelan. Tunggu , tidak sabar? Yang benar saja.
**
__ADS_1