
Sidang vonis untuk tiga orang suruhan Darmawan baru saja selesai. Satu orang yang sempat di tahan Zack , di vonis enam tahun penjara. Hakim memutuskan ia bersalah meski menurut pengakuannya ia tidak tahu apa-apa tentang rencana pembunuhan itu. Ia hanya diminta mengawasi kediaman Dee dan melapor pada Darmawan saat Ardhani Dee keluar dari rumah.
Dua orang lainnya di vonis delapan belas tahun penjara. Mereka bertugas membuntuti mobil Ardhani dan saat mobil itu mengalami kecelakaan , mereka menyingkirkan barang bukti berupa sisa-sisa bahan peledak yang di pasang di roda depan mobil. Karena itulah , polisi sempat memutuskan itu adalah kecelakaan tunggal akibat roda depan yang meletus.
Satu orang yang memasang bahan peledak , kini berstatus buron. Tidak ada yang tahu , bahwa pria itu sudah di buang oleh Mark di tengah pegunungan dengan cuaca ekstrim di luar negeri.
Anggara mendengar semua laporan Damar tentang sidang vonis hari ini. Ia memang tidak ingin datang , tapi nanti ketika tiba saatnya sidang vonis Darmawan dan Rachel ia akan datang. Anggara akan menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya , bagaimana hancurnya hidup dua orang itu.
"Awasi terus tiga orang itu. Jika mereka menerima vonis hakim , lepaskan mereka. Tapi jika mereka mencoba banding, hancurkan lebih hancur lagi." Anggara pikir , hukuman enam dan delapan belas tahun sudah cukup memuaskan.
"Baik , Tuan." Seperti biasa , Damar hanya mengangguk patuh.
"Dan baru saja Mark melapor tentang kerabat dekat Tuan Dee yang hari ini mengumpulkan para Direksi."
Anggara mengernyit. "Kerabat dekat?"
"Fatah Gunawan. Suami dari Melani Rahardja."
Ah Anggara ingat , Melani adalah sepupu dari mendiang Ayah mertuanya. Mereka sempat bertemu saat resepsi pernikahannya dengan Andreea di gelar.
Anggara mengetuk-ngetukkan telunjuk di meja kerjanya. "Minta Mark terus mengawasi. Cari tahu apa saja yang ia bicarakan hingga mengumpulkan semua direksi."
"Baik , Tuan."
"Jam berapa sidang vonis Darmawan dan Rachel?"
"Masih ada dua jam lagi sebelum sidang dimulai, Tuan."
Anggara mengangguk dan dengan isyarat meminta Damar keluar. Ia lantas mengambil ponsel dan menghubungi Andreea.
"Sayang , kuliahmu selesai jam berapa?"
"Baru saja selesai. Aku akan langsung pulang bersama Shara."
"Sayang , dengarkan aku. Kau tahun kan ini hari apa?"
"Sidang vonis?"
"Hum. Tiga orang sudah di vonis. Untuk Darmawan dan Rachel sidang akan di mulai dua jam lagi. Ingin datang?" Anggara nampak berhati-hati. Bagaimanapun, tentang Rachel dan Darmawan pasti masih menyisakan perasaan tidak nyaman saat Andreea mendengar nama mereka.
"Memang boleh?"
__ADS_1
"Bahkan jika kau mau , aku bisa membuat mereka berlutut di kakimu sayang."
Terdengar kekehan Andreea di seberang sana. Anggara bisa bernapas lega , setidaknya istrinya itu sudah bisa mengendalikan dirinya.
"Aku akan minta Paman Heri mengantarmu ke kantor."
Anggara lekas menutup telepon setelah mendengar persetujuan Andreea, ia lalu menghubungi Heri agar mengantar Andreea ke kantor setelah mengantar Shara pulang ke rumah.
**
Andreea terlihat ragu-ragu saat pintu lift sudah terbuka. Entah apa yang ia pikirkan sampai tidak lekas melangkahkan kakinya.
Anshara yang tadi sudah masuk lebih dulu ke dalam lift, kembali menghampiri Andreea.
"Kau ragu? Ingin pulang saja?"
"Pulang saja?" Andreea benar-benar bimbang. Tawaran Anshara untuk pulang, sepertinya tidak buruk.
"Ya sudah , ayo." Anshara sudah ingin menarik lengan Andreea tapi gadis itu bergeming.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Ya 'kan? Aku pasti akan baik-baik saja kan?"
"Apa yang kau takutkan? Kau lupa memiliki Anjing yang sangat galak?" Anshara lekas menarik tangan Andreea masuk ke dalam lift.
Anggara mengernyit saat dilihat pintu ruangannya terbuka tetapi tidak hanya Andreea disana. Ada Anshara juga yang langsung menjatuhkan bokongnya di sofa yang ada.
"Kenapa kau disini?" Anggara menatap menyelidik pada adiknya.
"Menemani Reea."
"Cih. Kau selalu menempel pada istriku. Kami akan ke pengadilan, bukan jalan-jalan."
"Dia kakak iparku, tentu saja aku harus selalu disisinya."
Anggara tidak menyahut lagi, ia lekas meminta Raisa untuk memesan makan siang mereka.
Disaat Anshara dan Andreea menikmati makanan mereka, Damar mendekat pada Anggara.
"Fatah Gunawan mengumpulkan semua direksi untuk membicarakan kemungkinan menurunkan Anda dari posisi Presiden Direktur." Damar berbisik sangat pelan , hingga hanya Anggara yang bisa mendengar suaranya.
Anggara memutar bola matanya malas. "Abaikan saja. Selama mereka hanya bicara tanpa melakukan apapun , tidak perlu di pikirkan."
__ADS_1
Damar mengangguk pelan. "Mark akan terus mengawasi apa yang terjadi di DC."
"Setelah Reea dan Shara selesai makan , kita langsung saja ke pengadilan."
"Baik , Tuan."
**
Andreea keluar dari dalam gedung pengadilan bersama Anggara, Shara , dan Damar. Sepanjang sembilan puluh menit ia duduk di dalam , dadanya masih terasa sesak saat sesekali mendengar Rachel atau Darmawan bicara. Tapi ketika tadi hakim memvonis hukuman mati pada Darmawan dan penjara seumur hidup pada Rachel , rasa sesak itu perlahan memudar. Mungkin , keangkuhan orang-orang itulah yang membuatnya sangat terluka. Jadi ketika mereka berdua benar-benar hancur dan terpuruk karena vonis hakim , ada kelegaan luar biasa yang Andreea rasakan.
Andreea menuruni satu undakan di halaman gedung ketika mendengar suara isak tangis dari arah samping. Ia menoleh , meski hanya punggungnya yang terlihat , ia tahu gadis yang sedang menangis itu adalah Giselle.
Andreea mendekat meski Anshara sempat menggeleng seolah berkata Abaikan saja!
Andreea tidak mengatakan apapun, tapi Giselle menyadari keberadaannya. Gadis itu berdiri , lalu menghapus cepat air matanya.
"Aku... minta maaf. Ayah dan kakakku membuatmu kehilangan keluargamu." Giselle terus menunduk berusaha menahan tangisnya agar bisa menyampaikan isi hatinya.
"Maafkan kami. Kami akan hidup dalam penderitaan seumur hidup kami, kami janji." seorang wanita yang sejak tadi ada di sisi Giselle , membuka suara.
Giselle mengangguk cepat. "Aku tidak akan bahagia. Aku janji."
"JANGAN SENTUH PUTRIKU! GISELLE TIDAK TAHU APAPUN!"
Suara teriakan Darmawan itu membuat semua orang menoleh. Darmawan dan Rachel sedang di kawal menuju mobil tahanan.
Andreea menatap tajam Darmawan dengan senyum miringnya , sengaja menyulut kekhawatiran pada pria paruh baya yang sudah sangat kejam menghabisi nyawa Ayah dan Ibunya.
"JANGAN SENTUH PUTRIKU , BRENGSEK!!! SEHARUSNYA AKU MENGHABISIMU JUGA!!!"
Anggara melotot tajam dan akan berlalu menghampiri Darmawan tapi Andreea menahan lengannya.
Pria itu terus memaki tanpa henti hingga masuk ke dalam mobil tahanan.
Sesaat kemudian , Giselle bersimpuh di hadapan Andreea. "Maafkan aku, Reea. Maafkan aku." Gadis itu terus terisak. Penampilannya sudah sangat kacau. Jika biasanya ia selalu tampil modis dengan makeup natural yang cantik, kali ini tubuhnya hanya dibalut pakaian biasa dan tanpa makeup di wajahnya.
"Cleo, bawa Giselle pergi!" Anggara mengedikkan dagunya ke arah Cleopatra yang sejak tadi menemani Giselle.
Giselle bangkit di bantu oleh Cleo. Sebelum melangkah, gadis itu terus saja membungkukkan badannya berkali-kali di hadapan Andreea sembari menangis tersedu-sedu.
"Gi!" Suara pelan Andreea menahan langkah Giselle yang sudah membelakangi semua orang.
__ADS_1
"Hiduplah dengan baik dan bahagia. Maafkan aku membuatmu meninggalkan kota ini, aku harap kau mengerti aku masih sangat tersiksa karena melihatmu mengingatkanku pada Ayah dan kakakmu."
**