Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Black Card


__ADS_3

Rachel turun dengan kesal. Setahun lalu hubungannya dengan Anggara memang berakhir dengan tidak baik. Tapi kemarin, Anggara bersikap sangat ramah di pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Ia sendiri tidak menyangka jika Anggara adalah wakil direktur SG Property. Selama beberapa bulan mereka berpacaran, Anggara tidak pernah memperlihatkan siapa dirinya.


Keningnya mengernyit heran saat menangkap sosok yang ia kenal sedang berdebat dengan salah satu resepsionis. Rachel akhirnya menghampiri.


“Sedang apa kau disini?” tanyanya membuat orang itu menoleh.


Cleopatra terkejut. “Rachel? Sedang apa kau disini?”


Rachel mengernyit. Ia bisa menebak Cleo pasti berniat menemui Anggara tapi resepsionis tidak memberinya izin.


“Mbak, saya pergi.” Bukannya menjawab pertanyaan Cleo, Rachel malah berpamitan pada resepsionis disana.


“Baik Bu… apa sudah selesai?” tanya resepsionis itu basa-basi. Ia mengenali Rachel sebagai salah satu klien SG Property.


Rachel mengangguk ramah. “Anggara sangat sibuk, jadi aku tidak bisa berlama-lama.” Jawabnya percaya diri seperti sengaja agar Cleopatra mendengarnya.


Setelahnya Rachel berlalu , dengan Cleopatra yang mengekorinya.


“Kau menemui Anggara? Untuk apa?” Cleopatra tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya.


“Kenapa kau ingin tahu?”


Mereka berhenti tepat di belakang mobil masing-masing yang kebetulan di parkir bersebelahan.


“Bukankah kalian sudah putus?” Cleo menatap Rachel sinis.

__ADS_1


Dan Rachel hanya tertawa. Tawa menyebalkan yang sengaja ia buat. “Kau datang untuk menemui Gara? Resepsionis tidak mengizinkanmu?” Rachel tertawa lagi. “Jangan pernah datang lagi. Atau aku akan meminta security untuk langsung mengusirmu.” Ia menatap tajam Cleo lalu berlalu masuk ke dalam mobilnya.


Cleopatra mendengus kesal, menatap mobil Rachel yang beranjak keluar dari halaman perusahaan. Banyak pertanyaan di benaknya. Kenapa ia tidak bisa menemui Anggara di ruangannya jika tidak membuat janji temu. Ia bahkan tidak bisa membuka lift khusus yang menuju lantai dua belas dan tiga belas. Tapi Rachel turun dari sana, setelah pasti menemui Anggara. Belum lagi resepsionis yang mengenalinya, sudah bisa dipastikan Rachel sering datang kesana. Apa mereka kembali menjalin hubungan? Ah Cleo merasa tidak terima. Mana boleh Rachel dan Anggara kembali bersama.


**


Suasana kantin kampus mendadak riuh dengan banyak pasang mata yang menatap ke arah meja Anshara dan Andreea. Terutama para pria. Mereka seperti tidak bosan-bosan memandangi wajah cantik kedua gadis itu.


Anshara yang memiliki wajah blasteran, hidung sangat mancung dan kulit putih bersih. Sedang Andreea meski bukan bule, tapi wajahnya tidak kalah cantik. Tinggi semampai kulit putih bersih, alis tebal dan rambut hitamnya yang tergerai panjang membentuk sedikit gelombang di ujungnya.


“Wanita gila. Aku tidak tahu kak Gara pernah berkencan dengan wanita bernama Rachel.” Anshara mengumpat pelan.


Sejak tadi ia mendengarkan Andreea yang sedang bercerita tentang apa yang terjadi semalam. Saat Anggara tiba-tiba memeluknya, mengecup bibirnya, dan menunjukkan rekaman cctv di ponselnya. Semua ia ceritakan pada Anshara tanpa terkecuali.


“Kau tahu, dia sangat cantik.” Andreea mendengus kesal sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Seperti wanita karir pekerja kantoran di film film. Cantik, modis, dan terlihat pintar. Hah, tipe kesukaan para pria dewasa.” Lagi, Andreea mendengus.


“Kenapa? Kau takut Kak Gara kembali kepadanya?” Anshara menyelidik.


Dan Andreea mengangguk. “Bagaimana jika mereka kembali bersama?”


“Tidak mungkin. Kak Gara sudah menikah!” Anshara mulai sebal.


“Ya kan? Tidak mungkin kan? Kak Gara adalah suamiku, mana boleh berkencan dengan wanita lain!”

__ADS_1


Anshara memutar bola matanya malas. “Sepertinya kau sudah jatuh cinta pada freezer tiga puluh liter itu.”


Andreea terkesiap. Menatap dalam mata Anshara lalu tiba-tiba merona. “Benarkah? Apa aku sudah jatuh cinta?" Ia menangkup sendiri kedua pipinya malu-malu.


“Hanya dipeluk sedikit saja kau sudah tergoda dasar menyebalkan.” Anshara tidak menyembunyikan ekspresi kesalnya.


Sedang Andreea hanya cengengesan.


“Seharusnya biarkan Kak Gara yang tergila-gila padamu, agar kau bisa meminta apapun padanya.” Lagi-lagi Anshara menggerutu.


“Meminta apa?” kali ini Andreea terlihat sedikit berfikir.


“Apa saja. Semuanya. Maka kau akan kaya raya. Kita tidak perlu khawatir pada apapun lagi.”


Keduanya terkekeh.


“Jika aku sudah lulus, Kak Gara bilang akan memberiku black card.”


“Sungguh?” Anshara memekik sambil reflek berdiri.


Menyadari semua orang menatapnya, ia kembali duduk.


“Black Card? Jangan bercanda!” kali ini Anshara sedikit berbisik.


Andreea mengangguk pelan dengan cengiran yang menampilkan deretan gigi putihnya.

__ADS_1


**


__ADS_2