Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - EXTRA PART


__ADS_3

"Andreea!" Fatah Gunawan berteriak memanggil Andreea saat dilihatnya gadis itu keluar dari sebuah coffeeshop bersama Anshara.


Andreea yang mengenali Fatah , tersenyum menghampiri pria paruh baya yang datang bersama putra tunggalnya.


"Paman , Abang. Apa kabar?" Andreea mengulurkan tangan untuk menyalami pamannya.


"Kami baik. Bisa kita bicara sebentar?" Fatah meraih cepat uluran tangan Andreea.


Andreea mengangguk, lalu mengikuti Fatah dan Leo yang berjalan lebih dulu ke salah satu teras ruko disana. Ia juga memberi isyarat agar Anshara menunggunya sebentar di mobil.


"Kita ke dalam saja?" Andreea melongokkan pandangannya ke area dalam ruko , yang ternyata sebuah toko pastry. Ada beberapa meja untuk dine in di dalam sana.


"Disini saja. Paman tidak bisa lama."


Andreea menurut. Ia menarik sebuah kursi dan duduk berhadapan dengan Paman dan sepupunya.


"Ree , kau masih menganggap paman ini keluargamu 'kan?"


Andreea mengernyit.


"Maksud paman , kenapa suamimu memperlakukan paman begini. Paman tidak menyangka , Anggara sampai hati mempermalukan paman di hadapan dewan direksi." Fatah menunduk , memperlihatkan raut sedih di wajahnya.


Andreea yang tidak tahu apapun tentu saja terkejut. "Paman , ada apa? Apa maksudnya Kak Gara mempermalukan Paman?" Ia tidak ingin ada kesalah pahaman antara suami dan pamannya. Bagaimanapun, hubungannya dengan Bibi Melani terjalin baik.


"Suamimu , memaki Ayahku di hadapan banyak orang dan mengatakan keluargamu tidak ada hubungannya dengan kami." Leo yang menyahut , mencoba menjawab pertanyaan Andreea.


Andreea membelalak. "Paman , sepertinya ini salah paham. Mungkin Kak Gara tidak mengingat paman dan Bibi Melani datang saat pernikahanku."


"Ree , sudahlah! Lupakan saja. Bagi Anggara mungkin Paman memang bukan siapa-siapa. Tidak apa-apa, tapi kau tetap keponakan paman."


Andreea meremat ujung kemejanya , bingung harus menjawab apa.


"Suamimu sangat sibuk. Dia harus mengurus perusahaan Ayahnya dan kini juga di bebani oleh urusan Dee Corp. Itu pasti menyulitkannya."

__ADS_1


Andreea menunduk. "Ya , Kak Gara sibuk mengurusku dan perusahaan, jadi dia tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri." ia menjawab lirih. Di dalam hatinya juga kadang-kadang ia merasa menjadi beban untuk Anggara.


"Apa tidak sebaiknya Dee Corp di urus orang lain?" Fatah bertanya dengan hati-hati dan menelisik perubahan ekspresi Andreea.


Awalnya Fatah takut Andreea juga akan memakinya , tapi sepertinya tidak. Raut wajah gadis itu tidak menunjukkan kekesalan sama sekali.


"Apa bisa paman?"


Nah kan , gadis ini entah polos atau bodoh.


Fatah lekas mengangguk. "Ada Abang Leo. Dia juga berpengalaman meski bukan sebagai pemilik perusahaan. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, lagipula ada Dewan Direksi yang akan mengawasi pekerjaannya."


Dalam raut wajah Andreea , jelas terlihat gadis itu sedang mempertimbangkan usulan pamannya.


"Leo masih keluargamu. Apa kau tidak percaya padanya?"


Andreea cepat menggeleng. "Bukan begitu. Tapi apa itu bisa? Prosesnya pasti sangat rumit. Saat Ayah Thomas mengambil alih kepemimpinan juga banyak sekali orang-orang yang meragukannya."


"Itu karena Thomas, ehm maksud paman , itu karena Ayah mertuamu tidak memiliki hubungan keluarga dengan Ayahmu. Tentu saja banyak orang keberatan. Tapi Leo adalah keluargamu. Benar 'kan?"


"Ree , tanda tangani ini. Selanjutnya biarkan Leo yang urus. Kau harus menghabiskan banyak waktu dengan suamimu." Fatah menyodorkan map yang berisi enam lembar kertas dengan materai yang sudah di tempel.


Belum sempat Andreea menerimanya , seseorang sudah merebutnya dari tangan Fatah.


"Kak Gara?" Andreea berdiri mendapati suaminya tiba-tiba ada di belakangnya.


Anggara membuka dan membaca isi map itu satu persatu lalu tersenyum miring.


"Apa-apaan kau?" Fatah menatap tajam Anggara meskipun di dalam hatinya gentar juga. Bagaimana bisa pria ini tiba-tiba ada disini.


Anggara melepar map itu hingga isinya berhamburan keluar. "Istriku tidak akan menandatangani ini."


Andreea mengernyit sedangkan Fatah dan Leo mulai gelisah.

__ADS_1


"Kak , jangan salah paham. Paman dan Abang berniat baik."


Anggara tidak menjawab , ia hanya menggenggam telapak tangan Andreea tanpa menoleh.


"Apa Bibi Melani mengetahui tentang ini? Jika Bibi Melani tidak tahu apapun tentang rencana busuk ini , aku akan memaafkan kalian sekali saja, sebagai rasa hormatku pada keluarga mendiang Ayah mertuaku. Tapi jika ternyata Bibi Melani juga ada di balik ini semua , bersiaplah. Akan aku pastikan kalian menyesal pernah mengusik istriku."


"Brengsek! Paman Ardhan adalah pamanku. Aku lebih berhak atas hartanya dibanding dirimu yang hanya orang asing!" Leo menarik kerah kemeja Anggara. Hanya sedetik, sebelum beberapa orang suruhan Anggara yang sejak tadi mengawasi mereka, menghentak kasar tangan Leo dari kemeja Anggara.


Andreea menggigit bibirnya kuat. Ia ingin menangis , tapi sekuat tenaga ia tahan.


"Reea , dengar! Kau percaya Abang kan? Abang akan mengelola perusahaan dengan baik. Dia hanya orang asing yang menikahimu demi harta Paman Ardhan!" Leo terus memekik saat lengannya di pegangi oleh dua orang dan di seret menjauh dari sana bersama Fatah.


Anggara menuntun Andreea masuk ke dalam mobil.


"Kau tidak apa-apa?" Anshara yang duduk di depan lekas menoleh saat Andreea dan Anggara masuk melalui pintu belakang.


Anggara menggeleng pelan , isyarat agar Anshara diam. "Jalan." ucapnya pada Heri , supir yang menemani Shara dan Reea kemana-mana.


"Apa mereka menginginkan perusahaan? Kenapa aku bodoh sekali?" Andreea terus menunduk , kedua tangannya saling meremat karena gemetar.


Anggara mengangguk, lalu membawa Andreea ke dalam pelukannya. "Tidak apa-apa. Dengarkan aku." Anggara menarik dagu Andreea agar mendongak menatapnya.


"Dee Corporation adalah milikmu. Aku hanya membantu menjalankannya sampai kau benar-benar siap untuk mengambil alih. Karena itu, akta perusahaan tidak pernah diubah. Posisiku disana , hanya berdasarkan surat kuasa dari Ayah Ardhan sesaat sebelum beliau meninggal. Lalu beralih menjadi surat kuasa yang dikeluarkan olehmu saat kita menikah. Jadi kapanpun kau mau , kau bisa mengambilnya." Anggara takut, kalimat-kalimat Leo tadi mempengaruhi Andreea.


"Jika kau menandatangi berkas tadi, DC akan menjadi milik Leo sepenuhnya tanpa bisa kau ambil lagi. Mereka hanya perlu membawanya ke hadapan notaris dan semua selesai."


Andreea terisak. "Maafkan aku, aku sangat bodoh."


Anggara menarik lagi Andreea ke dalam pelukannya. "Kau hanya terlalu polos. Sudah , lupakan saja."


"Jangan sakiti Bibi Melani , dia sangat menyayangiku."


Samar-samar Andreea merasakan Anggara yang mengangguk pelan.

__ADS_1


**


__ADS_2