
Anshara mengernyit saat melihat Andreea turun dari tangga setengah berlari dan napas yang terengah.
"Ada apa?" tanyanya begitu Andreea duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan.
"Hah?"
"Kau seperti habis melihat hantu."
"Ah itu.. Kak Gara." Menyadari yang terjadi dengan napasnya sendiri dan --mungkin-- ekspresi wajahnya.
"Kak Gara sudah pulang?" Anita meletakkan beberapa cookies yang baru saja ia keluarkan dari dalam oven.
Andreea mengangguk.
"Dia mengganggumu?" Anshara menyelidik lagi.
"Ck. Kau ini--" Anita baru akan menjewer telinga putrinya tapi urung karena perkataan Andreea selanjutnya.
"Tidak. Hanya suka tiba-tiba memelukku. Aku terkejut."
Anita terperangah. Astaga yang bicara ini menantunya, kan? Benar istri dari putra sulungnya?
"Sungguh? Dia tidak galak?" Anita yang penasaran, langsung mengambil posisi duduk di samping Andreea.
"Dulu saja kau bilang takut padanya." Anshara lebih dulu menyahut.
Andreea terkekeh. "Tidak lagi, Kak Gara sangat baik. Selalu berkata lembut , tidak pernah membentak, tidak pernah marah. Dia juga sering memelukku , menggendong juga. Mencium juga."
"Astaga Andreea tutup mulutmu!" Anshara berdecak heran tapi kemudian terbahak-bahak bersama Anita.
__ADS_1
**
"Belajar saja dengan baik. Tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Ayah dan Kak Gara akan mengurus semuanya." Thomas lagi-lagi berpesan saat Andreea dan Anshara sudah bersiap berangkat ke kampus.
Andreea mengangguk, lalu mendekat memeluk Thomas erat. "Ayah , terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih. Kau juga putri Ayah. Sudah , cepat berangkat atau kau akan menangis lagi nanti."
Saat mobil yang membawa dua putrinya berlalu, Thomas menghela napas pasrah. Terlalu banyak hal terjadi dalam hidup Andreea belakangan ini. Andai Ardhan menyadari sesuatu yang salah , pasti semua ini bisa di hindari.
"Anggara akan mengurusnya, kan?" Anita yang entah sejak kapan berada di sampingnya , bertanya. Terlihat jelas raut khawatir di wajahnya.
"Tenang saja. Darmawan bukanlah apa-apa. Ardhan hanya tidak menyadarinya."
Anita mengangguk, berharap apa yang dikatakan suaminya adalah benar. Pagi-pagi sekali tadi, Anggara sudah pergi ke gedung Dee Corp. Ia bahkan tidak sempat sarapan. Anita harap semua berjalan dengan baik.
"Memang apa yang akan terjadi di dalam rumah." Gerutu Anita yang membuat Thomas terkekeh.
**
"Masuk saja." sahut Anggara dari dalam ruangan saat terdengar suara pintu diketuk.
"Pak maaf, Pak Darmawan ingin bertemu." ucap Elisa , sekertaris mendiang Ardhani --yang kini otomatis menjadi sekertaris Anggara--.
Anggara masih menunduk menatap beberapa berkas diatas mejanya. Tangannya mengepal kuat. "Darmawan?" Ia mendongak, memamerkan raut pura-pura tidak tahu.
"Pak Darmawan salah satu partner eksternal kita yang mengelola dua cabang restoran di Jakarta Selatan."
"Baiklah , biarkan dia masuk." Anggara beranjak menuju sofa saat seorang pria paruh baya memasuki ruangannya.
__ADS_1
Lihatlah , pria itu tersenyum. Tidak ada yang menonjol dengan penampilannya. Hanya terlihat seperti pria paruh baya lainnya. Siapa sangka , dia lah yang mendalangi kematian Ardhan dan Miranda.
"Silahkan duduk. Ada keperluan apa?" Anggara bahkan tidak mengulurkan tangannya. Ia memasukkan kedua tangannya yang mengepal ke dalam saku celana.
"Maafkan saya menganggu. Saya Darmawan, pengelola dua restoran di Jakarta Selatan."
"Kemarin, perusahaan menghubungi saya perihal pemutusan kontrak partner eksternal." ucapnya lagi karena Anggara tidak menanggapi apapun tadi.
"Boleh saya bertanya detailnya? Karena menurut informasi , itu keputusan Bapak sebagai Presiden Direktur yang baru."
"Ya , benar. Itu keputusan saya. Kontrak berakhir bulan ini, bukan? Semua partner eksternal perusahaan harus menyiapkan laporan menyeluruh untuk selanjutnya di evaluasi oleh tim audit."
"Kami, partner eksternal yang selama ini mengelola produk usaha Dee Corp, bukankah keterlaluan jika Anda tiba-tiba membuang kami? Dee Corp hanya duduk diam lalu menikmati sebagian besar laba. Kami lah yang bekerja keras mengembangkan usaha. Masuk akal bukan jika kami yang seharusnya lebih berhak atas usaha itu?"
Anggara tertawa melihat Darmawan yang sudah tersulut emosi. "Kontrak itu adalah bukti bahwa kalian hanya pengelola, bukan pemilik." Ia menatap tajam Darmawan.
"Ck. Andai Tuan Ardhan masih hidup, beliau tidak akan membiarkan putrinya menikah dengan seorang serakah sepertimu."
Anggara mengepalkan tangannya semakin kuat , lalu berdiri melangkah menuju kursinya. "Jika sudah selesai , silahkan keluar!"
Anggara membanting sebuah vas bunga di dekatnya saat terdengar langkah keluar dan pintu yang ditutup. Ia marah sekali , rasanya ingin mencabik-cabik pria itu sekarang juga. Jika bukan karena Zack yang meminta waktu lebih lama untuk memastikan semua , sudah pasti ia menghabisi Darmawan tadi.
"Tuan , Zack sudah mendapatkannya. Semua bukti yang tidak mungkin bisa disangkal lagi oleh Darmawan dan putrinya." Damar yang baru saja masuk dan menutup pintu itu berjalan tergesa ke arah Anggara.
"Berikan padaku." Anggara mengulurkan tangannya untuk menerima tablet yang dipegang Damar.
Ia memeriksa dengan seksama apa yang ada disana. Sesaat kemudian ia tersenyum. "Pria ini benar-benar bukan apa-apa. Beraninya dia menusuk Paman Ardhan yang sudah sangat baik kepadanya."
**
__ADS_1