
Universitas tempat Andreea dan Anshara , sepagi ini sudah sangat ricuh. Anshara mengernyit, saat dilihatnya beberapa mahasiswa tengah bergerombol sambil menatap ponsel. Beberapa mahasiswa lain juga membentuk kelompok --yang meskipun tidak sebanyak tadi-- juga dengan menatap ponsel mereka.
Ketika Andreea dan Anshara melewati mereka , Anshara sadar jika kini tatapan para mahasiswa itu beralih kepada dirinya dan Andreea.
"Ada apa?" Anshara berhenti , menatap salah satu mahasiswi yang juga sedang menatapnya.
"Huh?" Andreea yang sejak tadi menunduk , salah mengira Anshara bicara padanya. Ia ikut berhenti, ketika dilihat Anshara berbicara pada salah satu teman mereka.
Gadis itu --Entah siapa namanya-- memberikan ponselnya pada Shara , dan tidak tahu dorongan darimana Andreea ikut melongok , mengintip apa yang ada disana.
Matanya membulat. Ia merebut ponsel di tangan Anshara , lalu membacanya lagi dengan teliti.
"Siapa yang menyebarkan ini?" Andreea menatap beberapa orang di hadapannya.
"Siapa lagi? Tentu saja mereka sendiri. Kak Gara bilang, kemarin mereka datang dengan live streaming." Anshara berdecak sebal.
"Tidak , maksudku siapa yang membagikan ulang? Lihat captionnya!" Bukan video kejadian di kantor polisi kemarin yang menarik fokus Andreea. Tapi caption yang menyertai , ia bisa membayangkan bagaimana terluka nya Giselle sekarang.
"Itu caption yang sama dengan yang di unggah siska di akun media sosialnya." seseorang diantara mereka menyahut.
Siska adalah teman dekat Giselle , selain Imel. Setahu Andreea , tiga orang itu selalu kemanapun bersama-sama. Bahkan kemarin di kantor polisi, Siska juga ada disana.
"Siska yang memegang ponsel kemarin kan?" Anshara menggumam. "Gila , tega sekali dia pada temannya." ucapnya lagi.
Anshara menyerahkan ponsel yang ia pegang pada pemiliknya , lalu menarik Anshara dari sana setelah mengucapkan terima kasih pada pemilik ponsel.
"Mungkin ada yang memanfaatkan akun sosial media miliknya." Andreea bergumam pelan.
__ADS_1
"Bagus , biar semua orang tahu seperti apa Giselle itu. Selama ini dia selalu mengganggumu, dasar tidak tahu malu." Anshara menggumam sebal.
Andreea menghela napasnya lalu duduk di sebuah bangku yang ada di taman tepat di depan kelasnya. Masih ada waktu sekitar sepuluh menit sampai mata kuliah di mulai.
"Dia begitu karena tidak tahu apapun." Andreea bergumam kecil. Sangat kecil, hingga tidak ada yang bisa mendengarnya selain Anshara. "Akan lebih baik jika orang lain yang mengunggahnya , jika dia tahu teman baiknya yang melakukan itu pasti sangat menyakitkan."
Anshara berdecih. "Kurangi sebanyak mungkin sifat baik dan tidak tegamu itu! Inilah yang membuat gadis itu leluasa menindasmu!" Ia mulai kesal.
"Lagipula kenapa juga kau tidak pernah mengatakan apapun tentang keluargamu? Membiarkan seseorang menghinamu bertahun-tahun!" Ia terus saja menggerutu.
Jika mengingat lagi bagaimana Giselle selama ini memperlakukan Andreea , rasanya Anshara ingin mengamuk.
"Dia tidak pernah menyentuhku. Hanya selalu mengoceh tentang hal-hal yang tidak penting. Itu bukan masalah besar."
Jika ditanya , sejujurnya Andreea tidak pernah benar-benar sakit hati dengan semua perkataan Giselle sejak masa sekolah dulu. Mungkin karena kenyataannya hidupnya sangat berkecukupan. Jika ia benar-benar dalam situasi gadis miskin yang mengandalkan sekolah dengan beasiswa, mungkin hatinya akan sangat terluka mendengar hal-hal seperti itu.
Kemarin pun, meski Andreea sangat marah hingga mengatakan hal-hal jahat untuk mengancam Darmawan dan Rachel , sejujurnya ia tidak sungguh-sungguh ingin melakukan itu. Membuat hidup Giselle menderita? Hah , yang benar saja. Lagi dan lagi itu akan menyakitinya karena terus mengingat apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.
Andreea menghela napasnya. Tentu saja ia marah pada Darmawan dan Rachel. Tapi pada Giselle? Andreea masih mengingat dengan jelas bagaimana raut terkejut sekaligus terluka di wajah gadis itu kemarin.
"Hai Ree , bagaimana kabarmu?"
Andreea mengernyit. Yang sedang menyapanya ini adalah Siska , yang tadi mereka bicarakan.
Sedetik kemudian , Andreea mengangguk pelan. "Aku baik."
"Aku turut berduka cita atas apa yang terjadi pada Ayah dan Ibumu. Kau pasti sangat menderita."
__ADS_1
"Terima kasih." Andreea tidak ingin menanggapi. Ia berjalan cepat menuju undakan yang ada di tengah ruangan. Kursi-kursi di ruangan ini memang ditata di atas beberapa undakan yang meninggi ke belakang , agar pandangan mereka yang duduk di belakang tidak terganggu.
"Bukankah seseorang sangat tidak tahu malu kepadamu? Selama ini dia menghinamu , mengataimu miskin dan menyebutmu parasit yang selalu menempel pada Anshara. Aku dengar bahkan dia melakukan itu sejak SMA. Lalu terungkap bahwa restoran milik Ayahnya yang selalu ia banggakan itu sebenarnya milik orang tuamu. Ayahnya bahkan membun--"
"Tutup mulutmu!" Andreea memekik kencang. Dadanya bergemuruh. "Siapa kau hingga berani membicarakan kedua orang tuaku?" Ia berjalan cepat menghampiri Siska.
Andreea melangkah semakin mendekat hingga membuat Siska mundur beberapa langkah dan menempelkan punggungnya ke dinding.
Tatapan mata Andreea , siapapun yang melihatnya pasti akan terkejut. Mata itu jelas menggambarkan amarah yang luar biasa.
"Siapa yang kau bicarakan, hah? Giselle?" Andreea terus menatap tajam siska tapi tangannya menunjuk ke sudut ruangan tempat Giselle duduk. "Bukankah kau teman dekatnya? Kau kemana-mana selalu menempel padanya, meminta ini dan itu seperti lintah."
"Aku--"
"Kau mengunggah ulang siaran langsungmu karena kasihan padaku? Karena merasa bersalah selama ini ikut menghinaku? Atau karena kesal ternyata Giselle tidak se kaya dugaanmu? Jadi kau mulai mencari perhatianku? Kenapa? Ingin beralih menempel padaku? Cih. Kau benar-benar tidak tahu malu."
"Andreea!!" Siska memekik kencang.
"Kenapaaa!!" Bentakan Andreea tak kalah kencang. "Berkacalah dengan benar. Kau bahkan tidak lebih baik daripada Giselle. Setelah menikmati uang jajannya, sekarang kau menusuknya dari belakang!"
Andreea membalik tubuhnya dengan berkacak pinggang. Sekarang ia menghadap semua orang yang sudah duduk di kelas itu. Beberapa dari mereka memegang ponsel. Sudah bisa di tebak , pasti sedang merekam kejadian ini.
"Dengar!" Andreea berteriak lagi, kali ini menatap semua orang yang ada di depannya.
"Tentang apa yang terjadi pada orang tuaku , jangan ada yang berani-berani membicarakannya. Itu bukan urusan kalian! Aku tidak perlu memperkenalkan siapa diriku dan siapa suamiku , bukan? Jika ada yang berani membicarakan tentang keluargaku, mengeluarkan kalian dari sini tidak sesulit itu. Dan aku pastikan , tidak ada kampus manapun yang akan menerima kalian!" Andreea menoleh sebentar pada Siska yang masih tampak shock di belakangnya, lalu melangkah hendak kembali ke kursinya.
"Juga.. hal itu tidak ada hubungannya dengan Giselle. Dia bahkan tidak tahu apapun." ucap Andreea lagi, sebelum benar-benar duduk di kursinya.
__ADS_1
Giselle hanya menunduk sambil terus terisak. Entah apa yang ia tangisi. Perkataan Siska yang menyakitkan? Atau justru kalimat-kalimat Andreea yang meski tidak terang-terangan membelanya , tapi itu jelas membantunya.
**