Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Ini Bahkan Masih Siang


__ADS_3

Damar kembali memasuki ruangan Anggara setelah tadi keluar untuk menghubungi Zack. Ia sedikit terkejut mendapati Anggara yang sedang menunduk dengan kedua telapak tangannya menumpu belakang kepala. Khas Anggara ketika pikirannya sedang kalut.


"Tuan , Zack akan mengirimkan informasi paling lambat nanti malam." Damar mendekat , ingin melihat lebih jelas kondisi Tuannya.


Anggara hanya mengangguk, lalu mendongakkan kepalanya. Ia menyodorkan laptopnya lengkap dengan earphone yang tadi ia pakai.


Damar cukup tanggap apa maksud Anggara. Jadi ia meraih laptop itu dan membuka kembali laptop yang tadi sempat ditutup Anggara dengan kasar.


Sekitar dua menit Damar mendengar dan menonton video dengan seksama , sebelum melepaskan earphone dan menutup lagi laptopnya.


"Jadi aku ada hubungannya dengan kematian Ayah dan Ibu?" Anggara mendongak , menatap Damar di hadapannya.


"Tidak, Tuan. Hanya kebetulan Rachel berpacaran dengan Anda , tapi sepertinya Darmawan berniat menjodohkannya dengan anak Tuan Dee tanpa tahu bahwa anak tunggal keluarga Dee adalah perempuan. Rachel meninggalkan Anda , murni adalah keputusannya sendiri." Damar menjawab tegas prasangka Anggara tanpa berandai-andai. Ia tidak ingin Anggara berpikiran terlalu jauh yang berujung dengan merasa bersalah.


Perkataan Damar , tidak cukup membuat Anggara tenang. Ia mulai menerawang. Seandainya saat itu ia mencari tahu kenapa Rachel tiba-tiba meninggalkannya. Seandainya saja ia tidak menerima begitu saja keputusan Rachel. Seandainya ia menyelidik lebih jauh , apakah Ayah dan Ibu mertuanya itu masih bisa selamat?


Sekitar satu tahun lalu, Rachel yang baru dipacarinya selama kurang lebih tiga bulan tiba-tiba memutuskan hubungan mereka tanpa alasan yang jelas. Dan Anggara menerima begitu saja , merasa membuang-buang waktu jika ia mempertahankan seseorang yang ingin pergi.


"Aku akan pulang bersama Shara dan Andreea , hubungi aku jika Mark sudah tiba." ucap Anggara, lalu melangkah menuju kamar di sudut ruangan. Tiba-tiba ia merindukan istrinya.


Damar hanya mengangguk saja, membiarkan Anggara melakukan apapun untuk menenangkan diri.


Anggara membuka pintu kamar dan melihat istrinya yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan Anshara yang mengusap-usap punggungnya. Sudah tidak ada air mata disana , pertanda Andreea mulai tenang.


"Kita pulang?" Anggara bertanya.


Andreea dan Anshara kompak mengangguk , lalu beranjak dari sana.


**

__ADS_1


Andreea kira , Anggara hanya akan mengantarnya pulang lalu kembali ke kantor. Bukankah tadi suaminya itu bilang sedang banyak sekali pekerjaan? Tapi pria itu malah naik ke kamar mereka , membersihkan diri, lalu mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai.


"Kak , tidak kembali ke kantor?" tanya Andreea saat Anggara keluar dari walk in closet.


Anggara menggeleng , lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Kemarilah." Ia menepuk pelan sisi lain ranjangnya.


"Apa sudah selesai menangisnya? Jika belum , aku mengizinkan kau menangis sambil memelukku." ucapnya lagi setelah Andreea merebahkan diri di sampingnya.


Andreea berdecih. "Modus! Shara benar, kau sudah seperti om-om mesum." Ia tergelak mengingat ucapan Anshara saat fi kantor tadi.


Anggara berguling, kini sebelah lengannya menumpu tubuhnya yang sedang berbaring miring. Satu lengan lagi mengungkung Andreea agar gadis itu tidak bisa melarikan diri.


"Ree , katakan! Apa aku tua?" Anggara tidak masalah saat tadi Anshara menyebutnya om-om. Tapi ketika Andreea yang mengatakannya , ada sudut hatinya yang kesal sekaligus khawatir. Benarkah ia terlalu tua untuk menjadi suami Andreea?


Andreea mengangguk. "Tentu saja , jika dibandingkan dengan aku dan Shara."


Andreea mengerjap. Otaknya menangkap tanda bahaya , jika ia salah menjawab habislah sudah.


Melihat Andreea yang seperti enggan menjawab , Anggara berdecih.


"Kau malu ternyata. Karena itu kah kau sering sekali bicara dengan teman-teman pria mu di kampus? Karena mereka lebih muda? Denganku , kau tidak banyak bercerita." Anggara membalik tubuhnya , memunggungi Andreea.


Butuh beberapa detik untuk Andreea mencerna ucapan Anggara, mengingatkan lagi bahwa tentu saja Anggara tahu semua aktifitasnya. Sudah jelas pria itu menempatkan beberapa orang untuk menjaga ia dan Shara diam-diam.


"Kak, kau marah?" Andreea menarik sedikit ujung kaos Anggara dan pria itu bergeming.


"Kak."


Tetap tidak ada jawaban.

__ADS_1


"Cih, yang benar saja." Andreea menggerutu pelan. "Aku tidak malu, justru kalau boleh aku ingin memamerkanmu pada semua orang. Membuat gadis-gadis di kampusku iri. Aku yakin , tidak akan ada yang menolak jika di tawari menjadi istri keduamu!" Andreea menepuk pelan punggung Anggara dengan sebal karena pria itu tetap tidak menoleh.


Andreea tidak tahu , Anggara setengah mati menahan senyumnya.


"Kak!" Kali ini Andreea mendorong punggung itu lebih keras tapi Anggara tetap memejamkan mata , pura-pura tidak dengar.


"Menyebalkan sekali! Pasti kepalamu sudah mulai menyeleksi kira-kira wanita mana yang akan kau jadikan istri kedua!" Terkutuklah mulut wanita yang suka menyakiti dirinya sendiri. Padahal suaminya tidak mengatakan apapun , kenapa pula kecemburuan berbalut prasangka itu bisa meluncur dengan mudah dari bibirnya.


Andreea menurunkan kakinya hendak pergi dari sana. Rasanya kesal sekali membayangkan Anggara yang memiliki ide menikah lagi.


Belum sempat ia melangkah , Anggara sudah berbalik dan menarik tangannya hingga Andree terduduk di tepi ranjang. Secepat kilat Anggara melingkarkan kedua tangannya di pinggang Andreea agar gadis itu tidak kemana-mana.


"Istri kedua apanya. Aku bahkan belum memiliki istriku ini seutuhnya." Anggara mengusap pelan pinggang Andreea.


Suara Anggara yang berubah berat , dan tangannya yang tiba-tiba menyingkap ujung kaos bagian pinggang Andreea, membuat gadis itu menahan napas. Terlebih , sesaat kemudian Anggara mengecupp pelan pinggang Anggara yang sudah tidak tertutupi kain. Andreea rasanya ingin kabur saat itu juga , tapi tubuhnya membeku. Ia bahkan seperti berhenti bernapas.


Anggara terus mengecupii pinggangnya dengan satu tangannya mengusap lembut perut Andreea. Andreea bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Situasi ini, ia tahu suaminya itu sedang bergairahh. Ia hanya diam, membiarkan Anggara melakukan apapun yang dia mau. Jika Anggara menginginkannya sekarang, apa ia sudah siap?


Anggara bergeser sebelum menarik Andreea agar kembali merebahkan tubuhnya, pria itu lalu mengungkung tubuh istrinya, menatap sejenak kedua mata yang sudah lama membuatnya terpesona. Ia menciumii semua bagian wajah itu. Kening , pipi , hidung, dagu sebelum melabuhkan bibirnya di atas bibir Andreea. Melumatnyaa pelan, tapi memabukkan.


Andreea? Jangan di tanya, gadis itu semakin pintar mengimbangi permainan Anggara. Selagi bibirnya terbuka, membiarkan lidah Anggara melesak masuk dengan leluasa, kedua tangannya melingkar di leher Anggara dan tubuh bagian bawahnya sudah bergerak gelisah. Tidak , bukan Andreea sengaja menggoda Anggara yang kini berada di atas tubuhnya, itu adalah respon alami tubuh manusia.


"Jangan menggodaku , atau aku benar-benar akan memakanmu." Lihatlah mata pria itu, sudah berkabut pertanda hasrattnya yang meningkat.


Andreea menggigit bibir bawahnya, sesungguhnya ia pun sudah terpancing, sentuhan Anggara rasanya sungguh memabukkan.


"Kak , ini bahkan masih siang." ucap Andreea akhirnya. Tidak mungkin 'kan ia yang memintanya lebih dulu?


**

__ADS_1


__ADS_2