
Pagi ini, Dee corporation mendadak lebih sibuk. Alih-alih bekerja , banyak dari karyawan yang mulai menebak-nebak apa yang akan terjadi dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Pasalnya kemarin tiba-tiba ada pengumuman tentang rapat umum yang akan di selenggarakan.
Sejak Ardhani Dee -Presiden Direktur Dee Corporation- meninggal dunia , semua orang tahu bahwa kepemimpinan Dee Corp dialihkan kepada sahabat dari mendiang Ardhani. Itu juga yang membuat suasana perusahaan memanas akhir-akhir ini. Beberapa orang mempertanyakan kelayakan Thomas Stockholm untuk memimpin perusahaan.
Meski pada akhirnya semua orang tahu bahwa Thomas Stockholm adalah pengusaha yang sangat sukses dibidangnya , tetap saja iri dengki dan keserakahan yang dibalut dengan kekhawatiran itu membuat beberapa orang bersikukuh menolak kepemimpinan Thomas.
Anggara memasuki ruang rapat bersama dua orang lainnya. Ia mengedarkan pandangannya , lalu menjatuhkan bokongnya di sebuah kursi yang berada paling depan, berhadapan langsung dengan sekitar dua puluh dua orang yang hadir disana.
Bisik-bisik mulai terdengar , wajar saja karena tidak banyak yang mengenali wajah dan statusnya.
"Selamat pagi, perkenalkan beliau adalah Tuan Stockholm." Seorang pria yang tadi masuk bersama Anggara , membuka suara.
Anggara hanya mengangguk.
"Putra dari Thomas Stockholm?" seseorang mengajukan pertanyaan setelah sebelumnya mengangkat tangan.
"Benar, beliau Anggara Stockholm, putra dari Tuan Thomas Stockholm."
Suasana langsung berubah gaduh. Semua orang mulai melemparkan protes secara terang-terangan.
"Apa tidak cukup dengan Ayahnya yang ikut campur masalah perusahaan kami?" Suara pria beberapa meter didepannya membuat Anggara melirik tajam.
"Ada masalah?" Anggara menyahut cepat setelah mengangkat telapak tangan kirinya , isyarat agar pria di sampingnya diam.
"Tentu saja. Ayolah, hanya karena Ayahmu bersahabat dengan Tuan Dee bukan lantas kalian bisa seenaknya mengatur ini dan itu."
__ADS_1
"Bagian mana yang kau sebut seenaknya? Kami mengambil alih kepemimpinan Dee Corp karena permintaan langsung dari mendiang Tuan Dee." tidak ada senyum di wajah Anggara , hanya tatapan tajam menusuk yang ia pamerkan disana.
"Aku tidak akan menerima keluhan apapun. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan disini, aku harap semua orang bisa bekerja sama." Anggara meneruskan kalimatnya , menutup jalan mereka yang masih ingin melontarkan keberatan.
Semua orang hanya mendesah kesal. Tapi mereka bisa apa , secara dokumen, keputusan Ardhani Dee melimpahkan kepemimpinan kepada Thomas untuk sementara tidaklah ilegal.
Anggara membuka tablet yang dibawanya , menyambungkannya dengan layar besar disana agar semua orang dapat melihat.
"Sejak dua pekan lalu, aku lah Presiden Direktur Dee Corporation yang baru." kalimat pembuka Anggara membuat suasana ricuh kembali.
Beberapa orang menahan geram setengah mati, karena di layar besar sana terlihat jelas dokumen pengesahan jabatan Anggara.
"Atas dasar apa? Bahkan Thomas Stockholm hanya bisa menjalankan management tanpa mengambil alih posisi Presiden Direktur. Astaga yang benar saja , lelucon macam apa ini." seseorang sepertinya tidak cukup sabar.
"Statusku yang menantu dari mendiang Ardhani Dee , bukankah cukup?"
Semua orang terbelalak. Menantu? Ah benar, Ardhani Dee memiliki seorang putri. Kenapa tidak ada yang menyadari itu saat beberapa bulan lalu Thomas mengambil alih kepemimpinan perusahaan?
"Ada keluhan lagi?" Anggara menatap tajam satu persatu orang yang ada disana setelah tidak ada satupun yang bersuara. "Apa dokumen pernikahanku juga perlu dibuka disini?"
Percayalah , jika waktu bisa di ulang lagi , beberapa orang yang tadi secara terang-terangan menentang Anggara akan memilih diam mengunci rapat bibir mereka.
Anggara bahkan yang termuda di ruangan itu , tapi lihatlah tatapan tajamnya yang seolah siap menghabisi siapapun.
"Pertama , aku akan lebih dulu mengirim tim audit ke setiap divisi, termasuk juga semua produk usaha Dee Corp."
__ADS_1
Semua orang kembali menghela napas. Tapi kali ini, tanpa kasak-kusuk.
"Kedua , perusahaan akan mengambil alih kembali semua produk usaha yang selama ini dibawah kontrak." Anggara melempar tatapannya sejenak. "Disini tertulis, bulan ini adalah bulan terakhir sebelum kontrak di perbaharui." ucapnya lagi, sembari menatap serius tablet miliknya.
"Apa perusahaan tidak akan memperbaharui kontrak?" seorang pria mengangkat tangan kanannya.
"Untuk sementara. Tentang apa nanti ada kontrak baru, akan aku putuskan nanti setelah memeriksa beberapa hal. Jadi, pastikan semua partner produk usaha kita menyerahkan laporan menyeluruh saat kontrak berakhir nanti."
Semua orang hanya mengangguk lalu mencatat poin-poin yang mereka anggap penting.
Anggara memang masih sangat muda , tapi ternyata kemampuan dan analisa bisnisnya tidak main-main.
Sudah lama , sejak banyak orang meragukan sistem partner eksternal yang selama ini menjalankan beberapa produk usaha perusahaan.
"Itu saja untuk hari ini." Anggara berdiri dan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.
Beberapa orang menghela napas lega.
"Anak muda itu bahkan lebih menyeramkan dari mendiang Tuan Ardhan." ucap seorang pria yang tadi sempat melemparkan protes pada Anggara.
Yang lain terkekeh. "Mendengar dia bicara hari ini, aku rasa tidak terlalu buruk."
"Cih. Dia bahkan belum berpengalaman. Semoga DC tidak hancur ditangannya." Banyak juga yang masih meragukan kemampuannya.
**
__ADS_1