
“Kak Gara!” Anshara berteriak saat baru saja turun dari mobil dan melihat Anggara yang akan memasuki rumah.
Pria itu menoleh demi melihat Anshara yang berlari ke arahnya, sedang Andreea buru-buru memalingkan wajahnya seperti terpergok sedang mencuri pandang ke arah suaminya.
“Kak , berikan aku black card juga!” Anshara menarik ujung kemeja kakaknya.
Anggara mengernyit.
“Kau berjanji akan memberi Reea black card, aku juga mau.” Rengeknya lagi.
“Menikahlah, nanti kau bisa minta pada suamimu.” Jawab Anggara asal membuat adiknya mendengus. “Lagipula untuk apa dua kartu. Bukankah satu saja cukup?” Anggara melirik istrinya yang semakin mendekat.
Andreea dan Anshara terkesiap. Sepertinya Anggara tahu selama ini Anshara ikut menghambur-hamburkan uang yang Anggara berikan pada Andreea.
“Ehm. Kak maafkan aku, kau memberi sangat banyak jadi Shara membantuku menggunakannya.” Andreea seketika membela diri.
Anshara mengangguk. “Reea mana bisa menghabiskan semuanya sendiri. Lagipula kenapa pelit sekali pada adikmu?”
“Memangnya Kakak bilang apa?” Anggara mengernyitkan keningnya.
“Jadi tidak masalah?” Anshara memastikan.
“Hanya jangan menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting.” Anggara melangkah masuk ke dalam rumah.
Anshara dan Andreea saling melempar senyum lalu mengekori Anggara masuk ke dalam.
“Aku tidak tahu Ayah memberimu gaji yang sangat banyak.” Anshara mengoceh lagi.
“Belajarlah saja yang benar. Jangan membuat masalah.” Anggara terus melangkah menaiki tangga tanpa menoleh lagi.
“Cih. Dasar freezer tiga puluh liter. Jika bukan karena Ayah dan Ibu yang menjodohkan mana ada wanita yang mau menikah dengannya.” Anshara menggerutu.
__ADS_1
“Jangan khawatir. Kau boleh memakai uangku!” Andreea menepuk pelan bahu Anshara.
“Benar. Beruntung kau yang menjadi kakak iparku. Pastikan kau meminta sangat banyak agar kita tidak perlu berfikir saat berbelanja.”
Keduanya terkekeh dan berlari kecil menaiki tangga.
Anita dan Thomas yang sedari tadi duduk di sofa ruang tengah hanya terkekeh. Ketiga anaknya bahkan tidak menyadari keberadaan mereka.
"Aku akan menyiapkan makan malam." Anita beranjak masih dengan kekehannya. Senang sekali melihat interaksi anak-anak dan menantunya.
Semakin yakin jika keputusan mereka menikahkan Anggara dengan Andreea adalah keputusan yang terbaik.
**
Baru saja masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, Andreea sudah dikejutkan dengan sepasang lengan yang memeluk perutnya.
“Kak Gara sudah ku bilang, bersuaralah. Kau mengejutkanku.”
“Kenapa lama sekali?”
Andreea mengernyit. Apanya yang lama, dia bahkan mengobrol dengan Anshara sambil terus melangkah menaiki tangga.
“Kak Gara lepaskan, aku ingin mandi.”
“Mau ku temani?” tanpa rasa bersalah Anggara terus memeluk istrinya yang berjalan perlahan sambil sedikit meronta.
“Tidak.” Andreea memekik kesal.
“Kenapa? Aku akan membantumu.”
“Lepaskan aku.” Andreea menyentak kedua tangan Anggara di perutnya, lalu berlari masuk ke dalam walk in closet untuk mengambil baju gantinya.
__ADS_1
Anggara terkekeh. Berdiri bersandar pada pintu walk in closet dengan kedua tangan bersedekap di dada sambil terus menatap Andreea yang sibuk memilih baju sambil tetap menggerutu.
“Kak Gara mesuum!” pekik Andreea saat melewati suaminya lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan terlalu lama di kamar mandi , aku akan menemui Ayah sebentar di ruang kerjanya." ucap Anggara sebelum Andreea benar-benar menutup pintu kamar mandi.
**
"Ada apa?" Thomas menatap curiga pada Anggara yang masuk ke dalam ruang kerjanya dengan wajah gelisah.
"Ayah , apa kita tidak bisa bergerak sekarang? Aku takut semakin lama kita mengulur waktu, Rachel akan mengetahui rencana kita."
Thomas mengernyit bingung, tapi tidak mengatakan apapun. Ia menunggu Anggara menyelesaikan penjelasannya.
"Pagi tadi, orangku melaporkan Rachel sempat mengawasi rumah Paman Ardhan, ia bahkan bertanya pada tetangga sekitar dimana putri Paman Ardhan sekarang tinggal. Aku khawatir. Lalu siang tadi, dia datang ke kantor tanpa membuat janji beralasan ingin makan siang bersama."
Thomas menghela napas , jari telunjuk kanannya mengetuk-ngetuk meja , khas Thomas jika sedang berpikir.
"Apa dia mengetahui tentang pernikahanmu?"
"Entahlah. Pernikahanku tidak di tutupi , seharusnya dia tahu aku sudah menikah."
"Tapi dari gelagatnya yang terus mendekatimu, seperti tidak tahu jika kau sudah memiliki seorang istri." Thomas memijit pelan pelipisnya. "Baiklah. Setelah makan malam , kita bicarakan ini dengan Ibu, Anshara , dan Andreea."
"Tidak. Maksudku , apa Reea dan Shara harus tahu tentang ini?"
"Kita tidak bisa menutupi ini dari Andreea. Lagipula , agar mereka bisa lebih berhati-hati."
Anggara mengangguk. Benar juga kata Ayahnya , selain menempatkan beberapa orang untuk mengawasi adik dan istrinya diam-diam, ada baiknya Andreea dan Anshara juga lebih waspada untuk menjaga diri mereka sendiri.
"Baik. Aku kembali ke kamarku." ucap Anggara sembari beranjak dari duduknya.
__ADS_1
**