
Anita menangkap gelagat tidak biasa dari suami dan putra sulungnya. Tidak ada candaan atau godaan seperti biasa dari suami kepada putrinya. Anggara pun sama , sejak tadi terus mengaduk makanannya dan hanya menyuapkan sesekali.
"Semua baik-baik saja?" Anita menatap Thomas dan Anggara bergantian.
Anshara dan Andreea pun mendongak , saling tatap, lalu mengedikkan bahu saat menyadari bukan mereka yang ditanya.
"Hm! Tidak ada masalah." Thomas mengangguk , lalu kembali menunduk.
Sedang Anggara acuh, hanya kembali fokus pada makanannya.
Thomas berdehem pelan saat menyelesaikan makannya, membuat semua orang di meja makan otomatis mendongak menatapnya.
"Setelah ini, Ayah tunggu semua di ruang kerja."
Anita mengernyit. Jika Thomas mengatakan semua orang artinya Andeea dan Anshara juga.
Saat Thomas beranjak , Anita juga lekas menyelesaikan makannya dan mengikuti suaminya ke dalam ruang kerja.
"Ada masalah? Kenapa mengumpulkan anak-anak juga?"
__ADS_1
Thomas memeluk sejenak istrinya. "Saat aku mengatakan semuanya , tolong genggam erat tangan menantu kita." ada nada sedih di dalam kalimatnya.
"Ada apa , Darl?" Panggilan yang jarang sekali orang dengar , karena Anita memakai itu saat merasa Thomas membutuhkan dukungan atau perlu di tenangkan.
"Kecurigaan Anggara beberapa minggu lalu, terbukti." jawab Thomas pelan.
Anita susah payah menelan ludahnya. Ia ingat, beberapa minggu lalu Anggara menelpon dari Australia membuat Thomas menyingkir dari ruang keluarga. Setelah Thomas selesai bicara dengan Anggara , Anita meminta penjelasan. Saat itulah ia tahu, Anggara mencurigai kematian mendiang Ardhan dan Miranda. Putranya itu menempatkan beberapa orang untuk menyelidiki kecelakaan itu diam-diam, karena polisi sudah memutuskan bahwa itu adalah kecelakaan tunggal akibat roda depan meletus.
"Apa ini artinya kematian Miranda dan Ardhan --" Anita tersengal , mendadak hatinya gelisah. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba susah bernafas.
Thomas lekas merangkul istrinya. "Kendalikan dirimu, kumohon. Andreea tidak memiliki siapapun lagi selain kita."
Benar saja , hanya beberapa menit setelah Anita menarik napas dalam-dalam untuk menguasai dirinya, Anggara masuk bersamaan dengan Anshara dan Andreea.
Diantara tiga anak itu, tentu Anggara yang paling peka. Hanya melirik saja , ia tahu Ibunya baru saja menangis meski kini sedang tersenyum menatap anak-anaknya.
Anggara menoleh pada Ayahnya, dan Thomas hanya mengangguk pelan , sebagai isyarat bahwa ia sudah menceritakan beberapa hal pada Anita.
"Sayang , apa kau makan dengan baik?" Anita duduk di samping Andreea dan mengusap pelan telapak tangannya.
__ADS_1
Andreea mengangguk. "Aku suka chicken popcorn buatan Ibu."
Anita memeluk Andreea erat lalu mengusap air matanya lagi. Anshara yang duduk di samping Andreea pun mengernyit. Ibunya menangis? Pasti ada masalah, kan?
"Bu, kenapa menangis?" Andreea menyadari itu meski ia tidak melihatnya karena wajah Anita ada di bahunya.
Anita tidak menjawab , ia hanya mengenggam tangan Andreea semakin erat.
"Sayang , Ayah ingin mengatakan sesuatu. Apapun yang kau dengar malam ini, cukup percaya bahwa kami tidak akan meninggalkanmu sendirian. Kau punya Kak Gara sebagai suamimu , dia akan melakukan apapun untuk menjagamu. Ayah dan Ibu juga begitu, Anshara juga. Kami keluargamu, ingat?" Thomas menatap lembut kedua mata Andreea yang masih tampak kebingungan.
Andreea tahu, ada masalah besar menyangkut dirinya. Kini ia menerka-nerka kira-kira hal besar apa sampai-sampai Ibu mertuanya menangis seperti tadi.
Thomas menarik napas dalam , sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Kecelakaan Ayah Ardhan dan Ibu Miranda--" Thomas menjeda sejenak , memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Andreea. Dan benar saja , menantunya itu tampak menegang, dengan kedua telapak tangan saling meremat.
"--di sengaja." kali ini Thomas mengucapkannya pelan sekali. Sangat pelan , hingga Andreea harus memejamkan matanya untuk meyakinkan diri sendiri bahwa ia tidak salah dengar.
Anita memeluk kembali Andreea. Kali ini, lebih erat.
__ADS_1
**