ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH

ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH
38. Berhalusinasi Atau Nyata


__ADS_3

"Ingatlah, setinggi apapun kedudukanmu. Tidak akan mampu membuat semua orang menjadi takut dan takluk pada mu."


Zizi mengatakan itu di saat Darel ingin memukul Devan, karena anak kecil itu meminta Darel untuk sekedar melihat gambar acak-acakan di buku tulis yang menggambarkan sebuah keluarga kecil.


"Tidak bisakah kamu bersikap dewasa Darel, anak ini darah dagingmu lihat dia masih kecil belum mengerti apa-apa tapi kamu malah terus-terusan menggores luka di hatinya."


Zizi menggendong Devan, Anak kecil itu terus saja menangis. Divya datang dan mengambil Devan ingin menenangkan anak itu. Namun, anak kecil itu berkata seperti orang yang sudah mengerti semuanya.


"Papa, hanya sayang sama Kak Erlan dan Kak Erlon, kenapa kalau Devan selalu dibentak-bentak. Devan juga mau seperti kakak-kakak di sayang dan di manja."


Divya takut Darel akan semakin marah, maka dari itu dia membawa Devan pergi dari sana. Zizi menghela nafas, hati Darel benar-benar tidak tersentuh sedikitpun meski mendengar makhluk kecil itu berkata demikian.


Zizi terdiam mengingat kejadiaan dua hari yang lalu. Kenzo benar-benar tidak mengingat dirinya kini pupus sudah harapan Zizi, di saat Kenzo sudah kembali tapi malah ia tidak mendapatkan pengakuan di depan orang banyak.


"Sayang, apa kamu ingin berpaling dari aku? setelah melihat Tuan Altan."


Darel sempat kenalan dengan Kenzo ternyata Kenzo juga ingin menjalin kerja sama dengan Darel. Darel belum tahu nama panjang Kenzo dia hanya mendapat informasi Kenzo setengah saja dari Anton. Karena Reza selain asisten Kenzo dia adalah hacker juga. Jika ada yang ingin menggali informasi Kenzo lebih dalam dia akan mengirim virus ke komputer atau laptop tersebut sungguh luar biasa sekali.


"Lain kali jangan memeluk orang sembarangan, kalau saja rekaman CCTV itu sampai bocor bisa di taruh dimana muka suami mu ini."


'Dia Kenzo, Darel. Yang sebentar lagi akan menghancurkanmu.' Zizi membatin dia tidak niat membahas itu. Baginya Altan adalah Kenzo yang dulu.


***


Malam ini Darel berangkat ke luar kota, ingin sekali rasanya dia membawa Zizi ikut bersamanya sebagai penyemangat. Tapi tidak bisa karena dua anak kembar itu sudah masuk sekolah.


"Baik-baik di rumah, jangan berniat kabur dari ku."


"Pergilah, aku sudah sangat ngantuk."


"Kapan kamu akan membuka hatimu untukku sayang, apakah lima tahun belum cukup. Aku ingin memiliki anak dari mu."


"Aku belum siap."


Jawaban Zizi masih tetap sama, meski dia tidur berdua dengan Darel. Darel tidak berani melakukan hubungan suami istri. Maka dari itu Divya lah yang menjadi pemuas nafsu Darel meskipun bersama Divya, Darel selalu membayangkan itu Zizi.


"Aku tidak mau tahu sayang, sepulang ku dari kota nanti kita harus memberikan Erlan dan Erlon adik." Sambil mencium kening Zizi, hanya sebatas itu yang bisa Darel lakukan.


Zizi tidak terlalu memperdulikan omongan Darel, saat ini ingatannya hanya pada Kenzo waktu di restoran. Saat mereka tidak sengaja bertemu.

__ADS_1


•••••


Zizi yang sedang terlelap merasakan ada seseorang yang memeluk tubuhnya dari belakang. Saat dia membuka mata dan berbalik ternyata tidak ada siapa-siapa.


Disaat dia menatap ke arah jendela yang memantulkan cahaya rembulan, perlahan namun pasti mulai mengaburkan pandangan pada rupa familiar yang kerap ia sebut dalam diam.


Zizi beberapa kali mengucek matanya dia pikir penglihatan saat ini sedang bermasalah. Saat sosok itu mulai mendekatinya Zizi menyalakan lampu tapi sama sekali tidak ada orang.


'Apa aku sudah mulai berhalusinasi? kenapa terlihat sangat nyata sekali.'


Zizi kembali mematikan lampu, dia menarik selimut itu hingga menutupi wajahnya. Aroma mint membuat Zizi semakin menutup dirinya dengan selimut tebal itu. Dia pikir Darel ingin mengerjai dirinya mengingat ucapan Darel tadi sebelum berangkat ke luar kota.


"Begitu cepat kamu melupakan aku."


Tepat di telinga Zizi suara itu berbisik. Zizi yang kenal suara itu langsung membuang selimut itu. Dan meraba wajah yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus. saat Zizi ingin menyalakan lampu lagi sosok itu menggeleng.


"Apa kabar mu gadis bodoh."


Zizi memukul dada bidang itu, karena dia sudah sangat merindukannya. Belaian pada rambutnya membuat Zizi memeluk tubuh kekar itu.


"Gadis bodoh ingat kamu adalah milikku … hanya milikku … ."


***


"Mommy mimpi apa dari tadi senyum-senyum begitu?" tanya Erlan pada Erlon.


"Entahlah, kalau Mommy gak mau bangun bisa terlambat kita ke sekolah."


Dua anak kembar itu berusaha membangun kan Zizi yang masih tertidur pulas. Mereka memiliki ide.


"Kak kita tepuk tangan saja supaya Mommy bangun gimana."


"Ide bagus, Erlon ayo kita lakukan, satu


… dua … tiga … ."


Benar saja Zizi membuka mata dan dengan gerakan cepat langsung duduk. Separuh nyawanya belum terkumpul Erlan dan Erlon mencubit Zizi.


"Awh … anak Mommy ngapain masih pagi di sini?"

__ADS_1


"Mom, ini sudah setengah delapan."


Zizi melihat sekeliling kamar nya ingin memastikan yang tadi malam itu bukan mimpi melainkan kenyataan. Tapi sayang Zizi tidak menemukan siapa-siapa selain dua anak kembar yang sedang cemberut.


'Tidak, itu bukan mimpi aku memeluknya dengan sangat erat. Memanggilku dengan sebutan gadis bodoh, tapi … kenapa tidak ada.'


"Mom, Ayolah … ."


"Iya sayang, Mommy cuci muka dulu sebentar."


•••••


Ingatan Zizi lantas melayang pada kebersamaan tadi malam. Ia begitu yakin yang semalam itu bukan mimpi.


'Aku merindukanmu Mas.'


Divya yang melihat Zizi sedang melamun, menghampirinya ia ingin meminta maaf entah ini yang sudah keberapa kali. Namun, Divya tetap melakukan itu meski Zizi tidak pernah menjawab nya.


"Zi, apa aku begitu keterlaluan. Sehingga kamu tidak bisa memaafkan kesalahan ku … ."


Divya berlinang air mata, saat Zizi ingin beranjak Divya memegang tangannya. Tangan Divya terasa sangat dingin sedingin es batu. Hembusan nafas berat terdengar di kedua telinga Divya.


"Aku harus bagaimana, sudah lima tahun tapi kamu masih belum memaafkan kesalahan ku."


"Kalian semua yang ada di sini. Tidak pantas mendapat maaf dari ku, karena kalian aku kehilangan separuh jiwa dan membuat anak- anakku menjadi tidak memiliki Daddy," Zizi menghempaskan tangan Divya. "Apa dengan aku memaafkan setiap kesalahan kalian akan membuat ku kembali pada masa lalu dimana Mas Kenzo masih hidup."


Zizi sengaja mengatakan kalian karena di sana juga Zizi melihat Niko, Jesi, dan beberapa pelayan yang dulu bekerja di mansion sedang membersihkan ruang tamu.


"Kalian semua akan membayar setiap tetes air mata ku yang jatuh, dengan darah kalian. Saat itu terjadi tidak akan ada satu orang pun yang dapat menghindar."


Ucapan Zizi membuat Divya kesulitan untuk menelan ludah. Bukan hanya Divya mereka juga yang mendengar itu semua merasa merinding. Zizi menggigit jarinya hingga berdarah ia kemudian berjalan membiarkan tetesan darah itu mengiringinya.


"Seperti inilah gambaran darah kalian menetes di setiap langkah kalian. Sampai tubuh kalian terbaring lemah tidak berdaya."


Zizi berbalik dan melihat wajah Divya yang pucat pasi. Tidak ada rasa kasihan sedikitpun, karena luka di hati Zizi masih terasa sampai sekarang. Zizi tersenyum getir.


'Kalian harus merasakan apa yang dulu aku alami.'


Divya menunduk air matanya sudah tidak biasa ia bendung. tubuhnya bergetar naik turun sekarang dia begitu menyesal telah melakukan itu kepada keluarga Kenzo.

__ADS_1


(Buat Kakak-Kakak yang sudah baca karya Ayuza yang baru pemula ini, tolong banget ya Kak tinggalkan jejak dengan cara Like dan Komen. Supaya Ayuza makin bersemangat untuk up tiap hari … jangan sudah baca tapi tidak meninggalkan jejak. Ayuza nangis bombay 😭🤧 karena dengan cara itu karya Ayuza yang receh ini merasa dihargai. Jangan lupa juga Bunga🌹 beserta  Votenya. Ayuza tidak mengemis tapi alangkah baiknya supaya mental author yang masih seumuran jagung ini tidak down. Sekian dan terima gaji😌 entah itu kapan, eetss … jadi panjang gini ya, gak apa-apa kan, tetap pantengin terus ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH. Salam manis dari nama panggilan Ayudira Zahira😘😍)


__ADS_2