
VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DI BACA🌹😊
"Sebaiknya kita tanya Mas Kenzo dulu ya, Pa."
Saat ini Tuan Hercules dan Zizi sedang berunding mereka berencana untuk pindah rumah karena bisa jadi Darel akan datang kembali.
"Ada masalah apa sayang, kok jadi tegang begini?"
Tiba-tiba Kenzo datang, sudah di belakang Tuan Hercules. Zizi menjelaskan permasalahan yang membuatnya tidak tenang.
"Mas, apa sebaiknya kita pindah dari sini?"
Zizi benar-benar takut Darrel akan menggunakan segala cara supaya keinginannya tercapai.
"Buat apa Sayang, Mas ada disini tidak akan ada yang berani mengusik hidup kita lagi."
"Mas, Darel bisa keluar dari penjara dengan sangat mudah."
Tanpa Zizi tahu Reza sudah memotong kabel rem mobil polisi tadi.
"Kita lihat berita besok pagi sayang, sekarang kita lebih baik tidur dulu sudah larut malam begini."
"Iya. Nak, benar kata Kenzo si kembar juga pasti sudah tidur dengan Oma nya," ucap Tuan Hercules.
Zizi masih heran dengan berita yang Kenzo maksud namun pertanyaan itu hanya mampu dibenaknya saja.
•••••
Saat Zizi sedang menyiapkan bekal sarapan untuk si kembar. Dia begitu kaget mendengar berita di siaran langsung di Tv.
BREAKING NEWS
(Berita hari ini, sebuah pabrik kosmetik tiba-tiba kebakaran. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran ini tetapi, kerugian mencapai ratusan miliar. Darel Pratama pemilik pabrik tersebut dikabarkan meninggal dunia usai kecelakaan di persimpangan jalan mawar nomor sebelas menuju jalan raya).
Berita itu membuat Zizi menjatuhkan bekal makanan yang tadi belum sempat ia tutup. Alhasil semua berceceran Zizi sekarang baru tahu maksud Kenzo yang kemarin.
'Jadi ini berita yang Mas Kenzo maksud.'
(Tidak sampai di situ, rumah pengusaha muda Darel Pratama juga dikabarkan meledak. Dari hasil penyelidikan polisi rumah itu terbakar karena tabung gas elpiji yang bocor. Semua pelayan yang bekerja di rumah itu tidak luput menjadi korban).
'Dokter Divya, Devan. Apa mungkin juga menjadi korban?'
__ADS_1
Kenzo mematikan siaran Tv itu di saat melihat mata Zizi yang berembun.
"Bukannya kita harus senang. Lalu kenapa kamu bersedih?"
"Mas, kamu tidak membunuh Div–"
"Semua yang ada di sana sudah hangus sayang, untuk apa kamu menanyakan itu lebih baik kita mempersiapkan untuk acara pernikahan kita. Semua benalu sudah tidak ada."
Zizi menarik tangan Kenzo. Ia ingin memastikan bahwa Kenzo tidak mungkin membunuh anak kecil yang tidak bersalah itu.
"De-Devan … anak i-itu, tidak bersalah Mas."
"Dia saat ini sedang bersama Reza menuju kesini. Aku tidak sejahat bedebah itu."
Zizi bisa bernafas lega, karena dia sudah menganggap Devan sebagai anak nya sendiri. Meski kelakuan kedua orang tuanya tidak bisa Zizi maaf kan begitu saja.
***
Disaat semua orang sibuk mempersiapkan untuk acara nanti malam, Kenzo sedang berduaan dengan Zizi di kamar mereka sedang bercinta karena sudah tidak ada lagi yang bisa menghalangi kebahagiaan mereka berdua.
"Kata si kembar mereka mau dibuatin dedek bayi, apa kamu mau sayang?"
"Satu kali lagi ya, supaya cepat jadi gimana?" tawar Kenzo dengan tatapan mautnya yang akan membuat siapa saja tergoda.
"Aku ngantuk, dari tadi hanya bilang satu kali saja tapi ini sudah yang ketiga kali. Mas lebih baik lihat sana sudah berapa persen persiapannya untuk nanti malam."
"Reza, Mama dan Papa. Pasti bisa menghandle semua jadi kita cukup tiduran namanya juga pengantin baru mereka pasti mengerti."
"Pengantin baru dari mana? mungkin maksud Mas pengantin lama."
Kenzo terkekeh geli mendengar Zizi, ternyata begini rasanya jatuh cinta kepada orang yang kita sayangi dengan sepenuh jiwa dan raga.
•••••
Saat acara berlangsung Zizi terlihat sangat bahagia bersanding di atas pelaminan bersama Kenzo. Semua tamu undangan terlihat sudah hadir mereka sedang berbaris naik satu persatu untuk memberi selamat kepada pasangan yang sedang berbahagia itu.
Saat suasana menjadi ramai. Suara tembakan membuat mereka semua tiarap. Kenzo melihat sumber suara ternyata seorang laki-laki memegang tangan si kembar sambil membawa bom. Wajah laki-laki itu tertutup sehingga terlihat tidak jelas.
Zizi yang mengenal siapa itu berlari ingin menyelamatkan kedua anaknya. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang kedua kali.
"Jangan mendekat, jika kamu mendekat. Ucapkan selamat tinggal pada kedua putra kalian."
__ADS_1
"Jangan Darel, aku mohon. Lepaskan putra kami."
Semua tamu undangan tidak ada yang berani mendekat. Kenzo tidak mungkin menyerang karena posisi si kembar sekarang sangat tidak mendukung.
"Rupanya kau masih hidup bedebah, lepaskan anak-anakku. Sekarang juga!" bentak Kenzo.
Darel yang berhasil lolos dari mobil polisi yang dikatakan mengalami rem blong.
"Bagaimana kalau kita tukeran, serahkan istri ku dan kamu ambil anak-anakmu."
"Kurang ajar, aku tidak akan menyerahkan apa yang kau minta brengsek."
Saat Darel akan menekan tombol bom itu, Zizi berteriak. "Tidak! aku bersedia. Tapi lepaskan anak-anakku."
"Kesini sayang, aku yakin kamu masih merindukan aku. Genggam tangan ku sekarang juga."
Zizi mendekat dan meraih tangan Darel. Saat si kembar berlari ke arah Kenzo. Zizi dengan cepat menancapkan sebuah belati di jantung Darel. Tadi Kenzo sempat memberikan belati ke tangan Zizi secara diam-diam, saat Zizi akan menjauh Darel melepaskan tembakan tepat mengenai perut Zizi.
Kenzo berlari memukul Darel yang sudah tidak bisa melawan, Darel sempat berbicara sebelum tumbang.
"Jika aku tidak bisa memilikinya, buat apa dia hidup."
Setelah melihat Darel tidak bergerak Kenzo menghampiri Zizi yang masih sadar. "Jangan tinggalkan aku, bangun sayang."
Kenzo menangis sejadi-jadinya di saat Zizi sudah menutup matanya. Ternyata Darel masih memegang pistol ia mengarahkan pistol itu ke Kenzo, Devan dengan cepat berlari hingga peluru itu mengenai dahinya.
"Sekarang Papa bisa tenang, karena Devan sudah tidak ada lagi di dunia ini."
Semua yang ada di sana berhamburan untuk menolong setelah mendengar anak kecil itu bicara terdengar sangat menyedihkan. Dari tadi orang-orang hanya bisa menonton tanpa ada yang berani mendekat.
Sebuah mobil melaju dengan cepat membawa Darel pergi dari sana. Kenzo yang melihat itu memerihkan Reza untuk mengejar mobil itu.
"Daddy, cepat selamatkan Mommy, kita tidak mau sesuatu terjadi sama Mommy."
Si kembar bicara sambil menangis. Karena melihat kejadian itu semua.
Tuan Hercules merasa dirinya tidak berguna karena ia hanya bisa melihat itu semua tanpa bisa menolong. Nyonya Daniar membawa si kembar menyusul Kenzo yang akan membawa Zizi kerumah sakit.
Suasana yang bahagia tadi kini menjadi duka, Devan anak yang tidak pernah di inginkan oleh Darel dan beberapa kali ingin Darel lenyapkan. Kini anak itu darah dagingnya sendiri sudah ia bunuh dengan tangannya sendiri.
Semua terdiam hening tanpa kata-kata di saat tubuh kecil itu di angkat oleh orang-orang Taun Hercules. Dunia pun sudah tidak sanggup melihat penderitaan si kecil Devan, maka dari itu Tuhan mengambilnya kembali.
__ADS_1