
"Kenzo, tenangkan diri kamu, Nak. Belum waktu nya kamu menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya."
Kenzo sudah mengingat kejadian itu sekarang dia ingin membunuh semua orang yang sudah menghianatinya. Dia sedang menyusun strategi supaya Darel tidak mengetahui nya.
"Sampai kapan Pa, aku sudah sangat merindukan istri dan anak-anak ku. Pasti selama ini mereka menderita tanpa aku."
"Jangan gegabah Kenzo, Papa tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
"Apa Papa lupa aku siapa?"
Ini yang Tuan Hercules takutkan di saat ingatan Kenzo kembali. Dia akan menjadi psikopat membunuh tanpa ampun apalagi kasihan sedikit pun.
"Kenzo Papa tahu betul siapa kamu, jangan membunuh lagi. Kita serahkan mereka pada pihak yang berwajib."
"Tidak semudah itu, mereka bisa membuatku merasakan lagi sensasi penyiksaan dan aku ingin bermain-main dengan mereka. Sudah lama aku tidak melihat darah dan suara tangisan."
"Nak, benar kata Papa mu. Dendam akan terus tercipta tanpa ada yang mau mengalah satu sama lain."
Daniar datang membawa dua cangkir kopi. Ia sempat mendengar percakapan Kenzo dan Tuan Hercules. Sekarang Daniar sudah menjadi bagian keluarga mereka karena Tuan Hercules sudah menikahinya tiga tahun yang lalu.
"Kamu bisa membalas mereka, tapi tidak dengan cara membunuh."
•••••
Jeritan Jesi terdengar sangat jelas di telinga Kenzo. Dia memohon kepada Kenzo agar di lepaskan.
"Lepas … ." Jesi berusaha melepaskan diri, Kenzo menarik kepala Jesi dan mulai berbisik. "Apa kamu tidak mengenaliku sama sekali."
"Lepas, saya tidak mengenal Anda."
Kenzo tertawa renyah sambil mencekik leher Jesi Kenzo ingin melenyapkan Jesi sekarang juga. "Jesi, dimana istri dan anak-anakku?"
Kenzo mengambil pisau pemotong daging, Jesi membelakak takalala pisau itu berada di perutnya. Kenzo melepaskan cekikannya dan mulai dengan aksi gila nya. Jesi yang menyadarinya hanya Kenzo yang pernah dia lihat membunuh orang menggunakan sarung tangan dan pakaian serba putih kesulitan untuk menelan ludah.
"Tu-tuan, Ken-Kenzo … bagaimana bis–"
"Berisik, simpan pertanyaanmu itu penghianat. Sekarang aku hanya ingin meminum darah dan memakan daging mentah."
Kenzo duduk bersimpuh di depan kursi tempat Jesi duduk terikat sekarang. Jesi terlihat takut dia tahu Kenzo akan melukai dirinya. Benar saja Kenzo memotong jari kelingking Jesi dan memakannya nya langsung.
Jesi meraung-raung sambil menangis. Meminta maaf kepada Kenzo. Rasa sakit karena jari kelingking nya sudah terpotong membuat Jesi memberontak.
"Cuih, darahmu terasa pahit dan jari kelingking mu terlalu keras. Biar aku jahit kembali supaya jari-jari mu yang kotor ini tidak terlalu jelek."
Kenzo mengambil jarum yang sangat besar dan juga benang layangan untuk melakukan operasi dadakan.
"Aku sekarang pindah profesi Jesi menjadi Dokter serba bisa. Tahan ya ini tidak sakit cuma terasa digigit semut saja."
__ADS_1
***
Zizi terdiam saat sebuah tangan besar, melingkar sempurna di pinggangnya. Ia merasa saat ini dia sedang berhalusinasi lagi. Saat mata Zizi nyaris terlelap ada yang menyingkir kan anak rambutnya laki-laki itu juga memberi kecupan mesra.
Zizi membuka mata, lagi-lagi tidak ada orang.
"Jangan membuat ku semakin merindukan mu Mas." Pelan dan terdengar lirih. "Mungkin aku sudah gila, terlalu sering berhalusinasi seperti ini."
Hati Zizi menjerit mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang bisa dibandingkan dengan Kenzo Alvaro. Semakin dia mencoba untuk melupakan Kenzo semakin Zizi merasa tersiksa, bayang Kenzo tidak juga bisa hilang dari pandangannya.
"Aku ingin kehangatan dari tubuhmu, sudah cukup aku kedinginan selama ini"
Zizi memejamkan mata sambil menelan ludah, lalu ia menggeleng. Dia merasakan ada yang membuka kancing baju tidurnya
Ia meremas seprai di saat ada yang bermain di bawah pusarnya. Zizi diam saja menikmati itu semua.
•••••
Zizi meraba di sampingnya menemukan Darel sudah berada di dekatnya. Tapi ada yang aneh Zizi melihat baju tidurnya sudah berubah menjadi celana jeans dan baju sweater.
'Mana baju tidur ku, kenapa bisa berubah begini.'
Zizi beranjak dari ranjang itu menuju sebuah cermin, dia begitu terkejut melihat lehernya ada tanda merah.
'Tidak mungkin, apa semalam itu benar-benar terjadi.'
Ia kemudian bangun menghampirinya.
"Sayang, tidak biasanya kamu tidur menggunakan celana Jeans begini."
"Ka-kamu, kapan pulang?"
Darel meletakkan dagunya di tengkuk leher Zizi. Dia mencium aroma rambut Zizi yang sangat wangi.
"Tadi malam sekitar jam tiga, kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi?"
Zizi mengangkat kepala Darel lalu menjauh, perasaan nya kini sedang bercampur aduk. 'Siapa laki-laki itu?'
"Sayang, ada sesuatu yang aku tidak tahu?"
"Ti-tidak ada, lupakan saja aku mandi dulu sebentar lagi Erlan dan Erlon berangkat ke sekolah."
***
"Mommy sakit,kenapa pakai shall di leher?"
Pertanyaan Erlan membuat Darel menatap Zizi. Zizi yang ditatap mencoba mengatur nafas supaya dia tidak gugup menjawab pertanyaan Erlan.
__ADS_1
"Kak Erlan gak tau, leher Mommy digigit sama nyamuk tau, banyak sekali tanda merahnya. Iya kan Mom."
"Uhuk … uhuk … uhuk." Zizi langsung tersedak ia mengambil segelas air minum.
"Kenapa Om Darel gak digigit kan Mommy tidur sekamar." Mulut Erlan memang cerewet anak itu tidak tahu, saat ini Zizi berusaha terlihat tenang.
"Tanya aja Mommy tadi Erlon sempat lihat saat Mommy di kamar." Sekarang Erlon semakin membuat suasana menjadi menegangkan. Hening hanya suara celoteh anak kembar itu yang kedengaran.
Darel tidak menghabiskan sarapannya ia berdiri. "Biar Om Niko yang mengantar kalian ke sekolah, Papa ada urusan sama Mommy."
''Gak mau kita maunya sama Mommy."
"Kali ini saja dengar Papa!" Darel membentak anak kembar itu. Dia merasa Zizi sedang menyembunyikan sesuatu.
"Darel, sudah berapa kali aku katakan jangan sekali-kali membentak anak-anak ku."
Zizi meraih tangan Erlan dan Erlon.
"Ayo anak-anak Mommy kita berangkat sekarang."
"Dadah Om, kita pergi sekolah dulu ya."
•••••
"Aku sudah jujur di leher ku tidak ada apa-apa, aku hanya kedinginan makanya aku menggunakannya."
Zizi sedang di introgasi, dia masih tetap tidak mau membuka shell yang ada di lehernya. Darel semakin menindih tubuh Zizi, dia ingin melihat sendiri tanda merah yang di maksud Erlon.
"Aku ingin menagih hak ku sebagai seorang suami. Apa tidak boleh."
'Apa, tadi dia ingin melihat tanda merah di leherku lalu kenapa sekarang membahas hal yang tidak pernah aku inginkan.'
"Tidak, jangan sekarang aku belum siap."
Darel terkekeh dia heran kenapa Zizi sulit sekali untuk diajak ke surga dunia. "Aku tidak akan bermain kasar, ayolah satu kali saja."
"Apa Divya sudah tidak sanggup melayani mu?"
Darel yang mendengar nama Divya ia membuka baju nya melemparnya ke sembarang arah. Lalu menarik shall Zizi secara paksa tapi dia heran tidak ada tanda merah di leher Zizi.
'Ups … untung saja aku punya ide untuk memakai foundation saat tadi pergi mengantar Erlan dan Erlon.'
Darel sudah siap ingin menarik baju Zizi tetapi suara gaduh di luar membuatnya. Mengurungkan niatnya. Zizi tersenyum penuh kemenangan.
'Siapapun itu, aku berterima kasih karena Darel tidak jadi menjalankan aksi bejatnya.'
"Tunggu disini, aku ingin melihat apa yang terjadi."
__ADS_1
(Buat Kakak-Kakak yang sudah baca karya Ayuza yang baru pemula ini, tolong banget ya Kak tinggalkan jejak dengan cara Like dan Komen. Supaya Ayuza makin bersemangat untuk up tiap hari … jangan sudah baca tapi tidak meninggalkan jejak. Ayuza nangis bombay 😭🤧 karena dengan cara itu karya Ayuza yang receh ini merasa dihargai. Jangan lupa juga Bunga🌹 beserta Votenya. Ayuza tidak mengemis tapi alangkah baiknya supaya mental author yang masih seumuran jagung ini tidak down. Sekian dan terima gaji😌 entah itu kapan, eetss … jadi panjang gini ya, gak apa-apa kan, tetap pantengin terus ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH. Salam manis dari nama panggilan Ayudira Zahira😘😍)