
Darel sudah membelikan rumah untuk Zizi dan pergi dari Villa setelah kejadian yang menimpa Nyonya Angel. Sekarang Nyonya Angel sedang terbaring lemah dirumah sakit dia mengalami stroke, hanya Divya yang selama ini mengurus Nyonya Angel di rumah sakit. Divya tidak pernah mengeluh dia menjalankan perintah Darel dengan suka rela.
"Divya mau pulang sebentar, Mama gak apa-apa kan sendiri."
Nyonya Angel hanya bisa mengedipkan matanya pertanda dia mengizinkan Divya untuk pulang. Divya membawa beberapa pakaian Nyonya Angel yang sudah kotor untuk dicuci.
"Divya pergi dulu Ma."
Perasaan Divya sebenarnya sudah tidak enak tapi ia menepis semua rasa itu. Dia berjalan sambil sibuk mencari ponselnya untuk menelpon Devan apakah anak itu sudah makan atau belum. Sesampai di parkiran dia baru ingat ponselnya ketinggalan di dalam ruangan Nyonya Angel. "Pelupa sekali diriku, jadi aku harus kembali untuk mengambil ponsel itu."
Saat Divya akan meraih gagang pintu, tiba-tiba panggilan dari laki-laki yang tidak dia kenal membuatnya mengurungka niatnya dan menoleh.
"Permisi Nona, apa Anda tahu ruangan pasien yang bernama Pak Ilham, katanya ruangannya di dekat UGD."
"Lurus saja dari sini terus nanti ada ruang persalinan belok kanan nah di sebelah sana tempat ruangan yang Anda cari."
"Saya sudah muter-muter Nona, tapi tidak tahu. Boleh Anda mengantarkan saya."
Divya melihat jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul 13:25 masih tinggal dua puluh lima menit lagi untuk memberikan Devan meminum obatnya. Devan memiliki penyakit yang cukup serius di saat dia masih bayi sampai sekarang. Divya tidak tinggal diam dia melakukan segala cara agar Devan bisa hidup meski harus berdampingan dengan obat-obatan.
"Mari Tuan saya akan mengantar Anda."
•••••
"Selamat siang, Nyonya Angel. Yang terhormat, apa Anda sudah merasa lelah berbaring seperti ini."
Mata Nyonya Angel berkedip beberapa kali, dia mencoba mengenali siapa laki-laki tampan yang berdiri di samping nya sekarang ini.
__ADS_1
"Aku lupa Tente tidak bisa bicara ataupun bergerak. Bagaimana kalau Kenzo bantu supaya Tante bisa cepat menyusul suami Tante yang tidak berguna itu."
Kenzo dengan cepat menyuntikan racun ke dalam selang infus Nyonya Angel. Dia merasa senang saat satu tetes infus itu mengalir ke tubuh Nyonya Angel. Nyonya Angel tidak tahu kalau itu Kenzo karena wajah Kenzo berbeda.
"Simpan pesan terakhir Tante di saat ajal itu datang. Owh, aku melupakan sesuatu. Biar Ku jelaskan bagaimana aku bisa selamat dari kebakaran mansion saat anakmu yang gila itu membakarku secara hidup-hidup."
Nyonya Angel hanya menatap Kenzo dengan tatapan mengiba, ia berharap Kenzo tidak benar-benar ingin membunuh nya. Tapi itu terdengar lucu, mana mungkin Kenzo akan berbaik hati setelah apa yang Darel lakukan pada dirinya.
Kenzo masih berdiri sambil memperlambat tetesan infus itu supaya, Nyonya Angel bisa mendengar setiap kalimat yang Kenzo ucapkan.
"Akulah yang telah membunuh suami Tante. Karena apa? Tuan Bram brengsek itu sudah membayar orang untuk membunuh Mama ku, selama dia masih hidup Tente hanya bisa memiliki raganya saja tidak dengan hatinya."
Nyonya Angel meneteskan air matanya, meski dia belum sepenuh nya percaya tapi melihat raut wajah Kenzo yang bercerita berkaca-kaca dia menjadi tersentuh. Sekarang dia sudah mengerti.
"Berengsek itu mencintai Mama ku, karena mendapat penolakan terus-menerus dia merencanakan sesuatu, ingin membunuh Papa supaya Mama kembali bersama nya tapi malah Mamaku yang terbunuh. Oleh anak buahnya yang biadab itu."
"Lalu sekarang anak Tante yang mengambil istri ku, setelah membuatku lumpuh dan membakar ku di mansion. Dia juga ingin membunuh Papa ku tapi itu tidak berhasil. Apa Tante masih menyalahkan satu pihak saja."
Kenzo memperlihatkan foto dirinya saat terbaring lemah tidak berdaya. Sampai dia mengingat cerita Tuan Hercules bahwa Daniar yang sudah menyelamatkan nya dari kebakaran mansion waktu itu. Meski seluruh tubuh Kenzo mengalami luka bakar yang cukup parah.
**FLASHBACK**
Daniar berhasil masuk kedalam mansion itu sebagai salah satu pelayan di sana. Atas perintah Tuan Hercules. Daniar selalu melihat bagaimana orang-orang di mansion itu sangat licik dan pandai memerankan dua watak sekaligus. Daniar waktu itu hanya bisa melihat dari kejauhan saat Darel mencabut alat bantu Kenzo untuk tetap bertahan. Dia begitu terkejut melihat Darel menuangkan bensin di sekeliling Kenzo dan menyalakan pemerik melemparnya begitu saja.
'Aku harus bisa menyelamatkan Tuan muda.'
Semua orang berhamburan untuk keluar Daniar juga melihat Zizi diseret secara paksa. Zizi tidak akan berhasil melawan banyak orang di saat dirinya hanya sendirian tidak ada yang memihak kepada nya. Daniar begitu iba melihat Zizi meraung karena berusaha untuk masuk menyelamatkan Kenzo.
__ADS_1
Daniar memastikan sudah tidak ada orang yang ada di mansion itu selain dirinya dan juga Kenzo. Dengan gerakan cepat Daniar bisa membawa tubuh kurus kering Kenzo naik ke kursi roda dan membawanya keluar dari sana, melalui lolong rahasia hanya Tuan Hercules dan Daniar yang tahu. Daniar berhasil membawa Kenzo menjauh sebelum mansion itu meledak karena Darel sudah menanam Bom di setiap sudut mansion.
Daniar kemudian membawa Kenzo ke tempat tinggalnya, disana Daniar merawat Tuan Hercules dan juga Kenzo. Tuan Hercules mengalami lumpuh permanen sedangkan Kenzo masih terbujur kaku tidak ada perubahan sedikit pun. Tuan Hercules memutuskan untuk pergi keluar Negeri supaya Kenzo bisa sembuh total.
Tetapi hanya harapan yang membuat Tuan Hercules yakin bahwa Kenzo akan sembuh meski mengalami hilang ingatan.
**FLASHBACK**
Nyonya Angel tidak menyangka Darel akan tega melakukan itu semua. Jadi selama ini dia sudah salah membenci Zizi. Racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuh Nyonya Angel. Dia ingin meminta maaf kepada Kenzo atas apa yang telah diperbuat anak suaminya itu tapi sudah terlambat. Jantung Nyonya Angel sudah tidak berdetak.
"Kenzo turut berduka cita Tante, semoga tidak tenang di alam sana."
***
Divya melihat Nyonya Angel sudah tidak bernyawa menjatuhkan diri ke lantai dia tidak berani melihat wajah Nyonya Angel terlihat seperti gosong dan matanya melotot.
"Mama, ke-kenapa bi-bisa begini."
Isak tangis Divya pecah ia tidak memiliki tenaga untuk sekedar berdiri. Bukankah Divya seorang Dokter, iya. tapi dia tidak sanggup melihat keadaan Nyonya Angel yang terlihat seperti orang yang sudah terbakar.
"Padahal Divya hanya sebentar, tapi kenapa jadi begini siapa yang sudah tega melakukan ini semua."
Divya melihat secarik kertas yang terjatuh, dengan tangan gemetar dia meraih kertas itu. (GILIRAN KAMU … AKU DIUTUS SEBAGAI MALAIKAT PENCABUT NYAWA)
Divya menyobek kertas itu yang sepertinya ditulis dengan tetesan darah.
__ADS_1
Visual Babang Kenzo. kalau kakak-kakak kurang suka bisa minta ganti di kolom komentar🌹