ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH

ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH
57. Kembaran


__ADS_3

VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DIBACA🌹😊 SUPAYA AYUZA RAJIN UNTUK UP.


Aurora seperti manusia yang kehilangan separuh jiwanya setelah tahu dirinya hanya anak angkat, saat ini dia masih saja betah memeluk nisan sang ibu. Pikirannya tidak karuan di saat dirinya sudah rela mengorbankan mahkota yang paling berharga pada dirinya kini itu semua baginya hanya sia-sia.


*Kenapa ibu malah pergi, Aurora sekarang sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kenapa ini semua harus terjadi* … .


Gerimis mulai membasahi bumi Namun, Aurora sama sekali tidak beranjak dari makam sang ibu. Kini hanya tinggal dia seorang di pemakaman setelah semua orang pulang.


*Jika benar yang di foto itu kedua orang tuaku, kenapa mereka tega membuangku. Dan aku harus mencari kembaranku … tapi dimana*.


Hujan mulai turun, tapi Aurora heran kenapa tubuhnya sama sekali tidak merasakan tetesan hujan mengenai kulitnya. Setelah ia mendongak ternyata pria misterius itu berdiri di belakangnya sambil memegang payung sedang memayungi dirinya.


"T-tuan, Anda … kenapa di sini?" tanya Aurora sambil berdiri.


Tidak ada jawaban karena pria misterius itu sedang menahan gejolak di hatinya. Yang diselimuti rasa bersalah yang teramat dalam.


"Tu-tuan An–"


"Berhenti memanggil ku Tuan, apa kamu tidak mengenali wajah Papamu sendiri," ucapnya lirih.


Bersamaan dengan suara petir yang menggelegar, seperti itu hati Aurora saat ini karena mendengar pria misterius bicara begitu.


"Tidak, Anda berbohong … ." Aurora tidak akan percaya semudah itu.


Pria itu kemudian memperlihatkan fotonya sewaktu masih muda. "Apa dengan ini, kamu masih tidak percaya Aurora Arabella?"


Aurora yang sudah terlanjur benci dengan pria misterius itu, mendorongnya dengan sangat kuat dan langsung berlari meninggalkan pria itu yang berhasil Aurora dorong hingga terjatuh.


"Lebih baik aku tidak punya Papa, dari pada harus mengakui Anda," teriak Aurora sambil terus berlari.


"Aurora putri Papa. Kembalilah, Nak!" seru pria itu di tengah-tengah derasnya air hujan.


Tapi Aurora sama sekali tidak menoleh, di bawah derasnya air hujan Aurora berteriak meluapkan rasa kecewanya. Ia tidak terima semua takdir yang telah Author berikan untuknya.


Dia sebut dirinya Papa, tapi kenapa malah menjerumuskan aku ke dalam lembah dosa. Lebih baik aku tidak tahu semua ini bila ujung-ujungnya aku harus menelan kenyataan yang sangat pahit.


Aurora masih terus saja berlari, ia tidak menghiraukan badannya yang sudah menggigil karena kedinginan. Tanpa dia sadar ia sudah sampai di tengah-tengah jalan raya.


Tuhan … aku lelah, lebih baik Engkau bawa aku pulang saja. Dunia sudah tidak asik lagi bagi diriku yang sudah kotor ini.


Aurora melihat mobil yang sepertinya melaju dengan kecepatan tinggi, ia tersenyum membentangkan tangannya sambil memejamkan matanya. Ia berharap mobil itu menabrak dirinya. Dan benar saja mobil sport mewah yang melaju itu menabrak tubuh Aurora hingga ia terpental jauh.


Aku terlahir bukan karena keinginan ku, tapi aku harus hidup sesuai takdir Author.

__ADS_1


Lelehan air mata Aurora terjatuh bersamaan darah yang keluar dari hidungnya. Ia sempat mendengar suara orang-orang yang terdengar panik, sebelum ia memejamkan matanya.


"Tuan, Anda menabrak seseorang."


"Cepat Om lihat … apa dia masih hidup. Kenapa hidupku ini penuh drama ya Tuhan."


***


Kenzo masih di hotel bersama Erlon yang saat ini terlihat sedang menikmati secangkir kopi buatan Briana, yang tadi tumpah tapi dengan cepat Briana menggantinya.


"Apa kamu masih belum paham Erlon?"


Erlon yang ditanya masih asik menyeruput kopi yang masih ada gumpalan asapnya. Ia memejamkan mata.


Seperti kopi buatan Mommy, sangat mirip persis dari rasanya serta takaran gulanya. Pas dan sangat enak … .


"Elon, Daddy sedang bertanya." Kenzo sepertinya sudah mulai geram.


"Yang mana Ded," tanya Erlon. Ternyata dari tadi Kenzo ngomong panjang lebar Erlon sama sekali tidak mendengarnya.


Kenzo memijat kepalanya sendiri yang terasa sudah berdenyut nyeri. Ia merasa kenapa putranya mendadak jadi bodoh begini. "Sudahlah, yang harus kalian berdua ingat jangan bocorkan rahasia ini semua ke Mommy kalian … apa kalian berdua paham?"


"Iya Dad," jawab Erlon dan Briana serempak.


Tapi saat Kenzo masih di ambang pintu, nada dering ponselnya membuatnya menghentikan langkah kakinya.


Reza📱


"Tuan, Tuan Erlan menabrak gadis yang kita cari … sekarang keadaannya sedang kritis."


Karena Reza tahu Kenzo tidak suka basa basi, maka dari itu dia langsung pada intinya saja.


Kenzo 📱


"Apa!!" pekik Kenzo yang kaget.


Reza 📱


"Saya sedang di rumah sakit Tuan, apa Anda bisa segera kesini?"


Tanpa menjawab Kenzo memutuskan sambungannya. Ia kemudian berbalik melihat Erlon dan Briana saat ini menatapnya dengan tatapan keheranan.


"Kalian ikut Daddy sekarang juga, kita harus kerumah sakit," kata Kenzo membuat Briana menatap Erlon.

__ADS_1


"Siapa yang sakit Dad?" tanya Erlon.


"Ikut saja, nanti kalian akan tau."


•••••


Erlan mondar mandir karena dua kantong darah yang tadi dibawa oleh suster itu masih kurang. Karna mereka saat ini membutuhkan empat kantong darah. Dokter itu keluar dengan wajah putus asa. "Maaf Tuan, sepertinya pasien tidak memiliki niat untuk bertahan," kata dokter itu menunduk lesu.


"Apa maksud Anda dok? bukankah tadi Anda sudah membawa dua kantong darah?


"Tubuh pasien menolak untuk di transfusi darah, ketika saya akan mulai memasukan jarum ke tubuh pasien, tubuh pasien akan mengunci dengan kuat."


Pikiran Erlan semakin kacau, ia tidak tahu harus gimana lagi. Tapi Briana yang sempat mendengar penjelasan dokter itu yang baru datang. Langsung bersuara.


"Boleh saya melihat pasien itu dok?"


Dokter itu mengucek matanya beberapa kali karena melihat Briana yang begitu mirip dengan Aurora yang sedang terbaring lemah.


"Dokter, ada apa? bisakah, saya masuk?"


Kenzo yang melihat dokter itu sepertinya kebingungan, menepuk bahu dokter itu.


"Dia menantu saya dok, biarkan dia masuk."


"Apa mereka kem–"


"Nanti kita akan tahu dok. Tapi bukankah di dunia ini kita memiliki tujuh kembaran?"


Kenzo bicara seperti itu kerana dia juga belum tahu kebenarannya, sedangkan Erlon menarik tangan Briana.


"Biar istri saya masuk Dok. Ayo," ajak Erlon.


Setelah mereka masuk Erlon menatap Briana bergantian dengan Aurora. "Benar-benar kembar," ucap Erlon dengan pelan.


Kenapa sampai segitunya, bukankah dia juga kembar. Batin Briana.


"Hai, kenalin nama aku Briana," kata Briana membuat para dokter yang di sana termasuk Erlon bingung. "Bangunlah, dan lihat betapa miripnya wajah ku dengan wajah mu."


Briana menyentuh tangan Aurora, dan menggenggamnya dengan sangat erat.


Entah mengapa Briana merasa sudah sangat mengenal Aurora meski ia baru melihatnya. "Bagun, dan akan ku buktikan takdir tidak seburuk yang kamu pikirkan."


Briana hanya mampu memberikan harapan, padahal dirinya juga sangat rapuh dan butuh penyemangat untuk terus tetap bertahan di saat Author sering membuatnya menjadi bahan olok-olokan Erlon. "Aku mohon … ."

__ADS_1


(Tolong kakak, tinggalkan jejak kalian supaya author tidak down. Saat diri ini rela untuk begadang kalian malah baca tanpa meninggalkan like dan komen nyesek😭🤧 ).


__ADS_2