
VOTE, LIKE LALU BACA. JANGAN LUPA KOMEN JUGA, SUPAYA AYUZA TAHU KAKAK-KAKAK INGIN AYUZA LANJUT ATAU PUTUS DI TENGAH JALAN.😉
Zizi melihat pria paruh baya sedang duduk di sofa sambil menikmati kopi yang masih terlihat kepulan asapnya. Pria yang dulu sudah memberikan kasih sayang layaknya seorang ayah kepada anak kandungnya sendiri. Sudut mata Zizi berair dia lalu berlutut sambil meraih tangan yang sudah keriput itu.
"Papa … ."
"Bangun, Nak. Duduk di sebelah Papa."
"Orang-orang itu penghia–"
"Papa sudah tahu. Biar Kenzo yang akan membalas semuanya."
Tuan Hercules menyusul Kenzo ke Indonesia saat itu juga karena ia takut Darel akan mencelakai putra nya lagi. Tanpa dia sadari Kenzo lebih kejam dari Darel.
"Kenalkan, ini Daniar istri Papa, selama ini dia lah yang sudah merawat Papa juga Kenzo."
Daniar menuntun Zizi untuk duduk, wajah Daniar yang selalu terlihat ceria membuat Zizi tidak sungkan untuk memeluk nya. Zizi ingin merasakan pelukan seorang ibu sudah lama ia merindukan itu semua.
"Nak, panggil saja Mama. Kamu tidak usah sungkan." suara lembut Daniar membuat air mata Zizi lolos.
"Papa kamu sudah menceritakan semua kisah perjalanan hidupmu, kamu adalah wanita pilihan."
"Mama … ." lirih Zizi.
Zizi tidak pernah mendapat kasih sayang dari Pak Hardian apa lagi ibu tirinya Eliza. Baru sekarang Zizi merasakan begini rasanya berada di tengah-tengah keluarga yang harmonis.
"Mama tidak akan pernah bisa menggantikan sosok almarhum ibumu, tapi sedikit tidak. Bisa mengobati rindu di hati mu."
Zizi melepaskan pelukannya dan melihat mata Daniar juga sedang berkaca-kaca.
'Dia benar-benar tulus. Tidak seperti pelakor itu.'
Daniar mengusap lelehan air mata Zizi, sudah lama dia ingin melihat Zizi karena selalu mendengar cerita Tuan Hercules.
"Sudah Nak, nanti si kembar melihat Mommy mereka nangis."
Benar saja si kembar sudah berlari ke arah Zizi. "Mommy, kenapa baru datang?"
"Mommy sibuk sayang. Kan udah Daddy katakan mau buatin kalian Dedek bayi."
'Kenapa Mas Kenzo, menjadi tidak memiliki malu.'
Zizi saat ini sedang menahan malu. Sambil melototin Kenzo. Tapi Kenzo tidak menanggapi itu.
"Benar kan Mom?" Kenzo mengedip-ngedipkan matanya.
"Kenapa Oma sama Mommy nangis?" tanya Erlan.
"Padahal kita lagi bahagia kan, Kak." sambung Erlon.
"Kita usap air mata Mommy sama Oma." Ajak Erlon.
__ADS_1
"Hapus air mata ini Oma, Mommy. Kita tidak ingin melihat kesedihan." si kembar mengambil tisu lalu mengusap air mata itu.
•••••
"Masak apa sih sayang, serius amat suami dianggurin dari tadi."
Zizi memukul lengan Kenzo yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Mas, ini rumah Papa, nanti ada yang lihat aku bisa malu."
Kenzo malah semakin erat memeluk Zizi. Ia tidak peduli ada yang melihatnya.
"Biarin, lagipula kita sudah lama tidak melakukan ini."
"Iya tau, nanti di apartemen kan bisa … Mas, ayolah jangan kayak anak kecil deh."
"Sayang, gak ada yang ngeliat kita si kembar lagi main sama Oma, Opa nya."
"Hemz … ." suara Tuan Hercules membuat Kenzo melepaskan pelukannya.
"Sayang Mas pergi dulu, masak yang banyak nanti Mas pulang."
'Malu banget ya Tuhan, Mas Kenzo benar-benar. apa Papa sudah lama melihat kita."
Kenzo mengambil jasnya dan langsung pergi. Zizi menunduk karena ketahuan sedang berdua'an.
"Lanjutin masak Zi, Papa udah lapar. Gak apa-apa Papa juga kayak gitu ke Mama Daniar."
'Jadi sifat mesum Mas Ken, nurun dari Papa pantesan.'
"Mm … iya Pa, jangan kasih air dingin. Mereka tidak biasa minum itu." Zizi salah tingkah.
"Gak usah malu, Papa maklumi."
"Bila perlu kasih kami cucu kembar lagi ya Pa, supaya rumah ini lebih ramai." sahut Daniar yang baru datang.
Zizi semakin merasakan jantungnya berdisko mendengar Nyonya Daniar.
'Anak? Zizi belum siap untuk yang kedua kalinya.'
Zizi membayangkan jika dirinya hamil dan kejadian itu terulang lagi. Membuatnya kesulitan untuk menelan ludah.
***
Kenzo sedang berada di sebuah bar, di temani oleh asistennya Reza. Kenzo datang ke bar itu bukan untuk minum dan bersenang-senang seperti dulu, melainkan ia datang hanya ingin memastikan ucapan Reza bahwa ibu tirinya Zizi sedang berada di bar itu. Dan benar saja ibu tiri Zizi berada di sana, Kenzo menatap itu semua dengan jijik di saat Eliza duduk di atas pangkuan pria berdasi yang terlihat masih muda.
"Apa itu Ibu tirinya Nyonya Zizi?"
"Hmm, apa kamu sudah berhasil membawa Niko?"
Kenzo malah membahas Niko, dia sudah tidak sabar ingin memenggal kepala mantan asisten nya itu.
"Be-belum Tuan."
__ADS_1
"Kemampuanmu sudah berkurang Reza, silahkan undurkan diri." Suara Kenzo terdengar biasa saja. Tapi tidak dengan Reza yang mulai berkeringat dingin.
"Se-secepatnya Tuan, saya akan membawanya ke hadapan Anda."
"Enyahlah, dan buktikan jangan cuma omong kosong yang keluar dari mulut mu."
Reza membungkuk 180% langsung meninggalkan bar itu, dia sudah tahu betul bagaimana karakter Kenzo yang bisa berubah menjadi reong kapan saja tapi kalau di depan Zizi akan menjadi macan yang jinak.
Kenzo menyunggingkan senyum ia memperbaiki topi tidak lupa dia menggunakan sarung tangan. Di saat dia melihat Eliza keluar dari bar Kenzo mengikutinya dari belakang. Kenzo merasa kesempatan yang bagus di saat Eliza menunggu taksi di tempat yang sepi dan gelap.
Tanpa menunggu lama Kenzo mengambil batu sebesar genggamannya, dari belakang dia menjerat leher Eliza dengan dasinya supaya tidak berteriak. Beberapa kali menghantam kepala Eliza dengan batu itu sehingga tidak berbentuk akhirnya Eliza menghembuskan nafas terakhir.
"Lebih baik, daripada harus hidup penuh dengan drama." Kenzo menyeret mayat Eliza ke tepi jalan, dia ingin membuat mayat Eliza seperti mati karena kecelakan.
***
Darel melempar kursi di ruang makan, karena tidak menemukan Zizi di kamar.
"Kurang ajar, siapa yang sudah berani membawa istri ku kabur."
Niko yang baru datang tidak luput dari amukan Darel yang saat ini sedang ditatap dengan mata memerah. Darel memberi bogem mentah di perut Niko. Niko yang belum siap terpental.
"Cari istriku, sampai ke ujung dunia sekalipun!" Nafas Darel memburu.
"Bagaimana dengan tangan Jesi Tuan?"
Niko bangun sambil memegang perutnya yang sakit. Setelah mendapat pukulan dari Darel.
"Biar Anton yang mengurusnya, kamu cepat cari Zizi ku!" Bentak Darel.
Mereka yang ada di sana tidak luput dari amukan Darel, Niko menerka-nerka ini perbuatan Kenzo.
"Tuan, apa mungkin ini perbuatan tuan Kenzo?"
"Dia sudah mati Niko, jangan mengada-ada."
"Ta-tapi Tuan, ini mirip sekali dengan cara nya membu–"
"Arwah tidak mungkin bisa membunuh Niko. Dasar Bo*oh!"
Niko yakin ini pasti perbuatan Kenzo, tapi mustahil membuat Darel percaya pada dirinya karena tidak memiliki bukti sedikit pun.
"Sekarang Niko, jangan cuma diam saja."
"Tuan, putra Anda Devan muntah darah."
Niko takut-takut mengatakan itu.
"Suruh Ibunya mengurusnya, Anton kamu keluarkan dia dari dalam gudang."
Anton yang diam saja dari tadi. Menuruti perintah Darel.
__ADS_1