
Karena banyak yang minta lanjut ... nih Ayuza sudah buat yang Versi si kembar. kakak-kakak bisa mampir langsung🌹🤗
Seperti biasa jangan lupa kasih dukungan ya kak🤗🌹🌹
Briana yang sadar diri hanya dijadikan pembantu oleh Erlon berniat ingin mencari pekerjaan, karena selama ini Erlon tidak pernah memberikan dirinya uang untuk sekedar membeli keperluannya. Sehingga hari ini dia memutuskan untuk keluar dari rumah itu.
"Pak saya mau keluar sebentar, ya. Saya janji akan kembali sebelum Tuan Erlon pulang," kata Ana kepada security yang menjadi penjaga rumah mereka sejak dua bulan ini.
Tanpa rasa ragu security itu mengiyakan Ana. "Baik Non, hati-hati di jalan."
Ana merasa lega karena security itu tidak menanyakan kemana dirinya akan pergi, dan merasa senang karena ia tidak perlu mencari alasan. "Iya Pak, saya pergi dulu."
Ana memang takut kepada Erlon tapi apa boleh buat, Papanya yang sedang mendekam di penjara membuat dirinya harus memiliki banyak uang untuk menyewa pengacara terkenal supaya meringankan hukumannya. Meski itu terdengar sangat mustahil, karena ia tahu Darel tidak hanya memiliki kasus narkoba ada kasus lain yang lebih membuat Darel harus mendekam di penjara lebih lama lagi.
__ADS_1
Angin yang berhembus sepoi-sepoi mengiringi langkah Ana yang entah kemana arah tujuannya, cahaya matahari sudah berada di tengah-tengah yang menandakan hari sudah siang. Tetapi Ana sama sekali belum bisa mendapatkan pekerjaan, sehingga langkah kakinya terhenti di sebuah cafe yang ada poster yang bertulisan sedang mencari karyawan baru siapa cepat dia yang dapat. Ketika senyum di bibir ranum Ana terukir, ia dengan cepat masuk ke dalam cafe itu.
"Permisi, apa disini masih ada lowongan pekerjaan?" ucap Ana pada salah satu pelayan di cafe itu.
"Yah, Mbk telat. Tadi sudah ada yang ngisi di bagian dishwasher," kata pelayan wanita itu sambil mengelap meja.
"Apa tidak ada pekerjaan lain, misalnya bersih-bersih?" tanya Ana lagi.
"Maaf Mbk, semua sudah ada."
Baru saja Ana akan keluar dari cafe, seorang laki-laki yang sepertinya adalah manajer di cafe itu memanggil dirinya.
"Tunggu, Briana Azalia."
Ana menoleh seakan tidak percaya ternyata temannya dulu yang berada di panti asuhan sinar jaya di luar negri kini terlihat sangat gagah dengan setelan jas.
"Kak Bimo, apa kakak juga bekerja di sini?" tanya Ana tanpa tahu Bimo lah pemilik cafe.
__ADS_1
Bimo adalah teman Ana sewaktu di panti asuhan dulu, ternyata Bimo di bawa ke Indonesia oleh orang tua angkatnya. Ana bisa langsung mengenali wajah Bimo karena ia melihat tahi lalat Bimo di kedua pipi kiri dan kanannya ditambah mata Bimo yang sipit memakai kacamata.
"Bukan Mbk, kenalin ini menejer di cafe ini," jawab pelayan itu sambil berlalu pergi.
"Wah, kakak sekarang sudah sukses ya," ujar Ana dengan antusias.
"Ah, ini hanya cafe kecil Ana. Kamu tadi mau melamar pekerjaan?" tanya Bimo.
Ana menunduk lesu. "Tadinya, tapi kata pelayan kakak, sudah gak ada lowongan di sini."
"Ada kok, kamu bisa nyanyi di cafe ini. Kebetulan penyanyi cafe yang biasanya di sini mengundurkan diri," kata Bimo berbohong, padahal dia sendiri yang telah memecat penyanyi tersebut.
"Tapi 'kan, suara Ana jelek kak."
"Suara kamu merdu Ana, jangan merendah begitu. Mari duduk kita bisa ngobrol-ngobrol dulu."
Ana menceritakan Bimo bagaimana bisa ia sampai di Indonesia, tapi ia tidak menceritakan kalau dirinya sudah menikah.
__ADS_1