
VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DIBACA🌹😊 SUPAYA AYUZA RAJIN UNTUK UP.
Darel masih menunduk lesu. Ia berharap Kenzo mau memaafkannya, karena ia benar-benar ingin berubah demi kedua putrinya. Sedangkan Kenzo masih belum percaya.
"Setelah kedua putri kembarmu dewasa, baru kamu menyesal," ucap Kenzo memecah keheningan.
"Selama ini aku tidak tahu, kalau Divya mengandung anak-anakku," lirih Darel
"Biar aku ceritakan semuanya, supaya isi otakmu yang kotor ini menjadi bersih." Seraya Kenzo membuka dokumen yang berisi data dari Aurora dan juga Briana.
**FLASHBACK**
Tangan Divya gemetaran memegang tespek, yang ternyata dirinya positif hamil di saat usia Devan baru tiga tahun.
"Darel tidak boleh tahu, bisa-bisa dia meminta ku untuk menggugurkan kandungan ini lagi," ucap Divya yang masih betah di dalam kamar mandi.
Divya memang mengkonsumsi pil pemuda kehamilan, tapi entah mengapa ia sampai bisa kebobolan. Darel memang akan memenuhi kebutuhan biologisnya, tapi tidak dengan cinta Darel yang saat itu masih sangat mencintai Zizi.
Selama ini tidak ada yang tahu, kalau Divya hamil, karena ia selalu menggunakan korset dan baju kebesaran supaya tidak ada yang curiga. Seiring berjalannya waktu perut Divya semakin membesar ia juga tidak pernah mau melayani Darel lagi di atas ranjang. Untung saja satu tahun belakangan itu Darel selalu sibuk jadi Divya tidak perlu takut Darel akan tahu.
Hingga akhirnya Divya keluar dari rumah Darel dengan alasan ingin membelikan Devan obat di apotik, yang sebenarnya ia sudah merasakan perutnya mulas yang bertanda akan segera melahirkan. Jesi yang melihat gerak gerik Divya sangat mencurigakan ia kemudian mengikutinya dari belakang secara diam-diam.
•••••
Saat Divya sudah sampai di rumah sakit, salah satu suster yang melihatnya dengan cepat membantunya. "Dokter Divya, apa Anda sakit?" tanya suster itu.
Divya menunjuk bawah yang sepertinya air ketubannya sudah pecah. "Tolong saya sus, cepat bawa saya ke ruang persalinan," pinta Divya sambil menahan sakit.
Jesi yang mendengar itu tidak percaya, ia masih saja tetap bersembunyi di balik tembok sampai Divya masuk ke ruang persalinan.
Divya berdoa semoga bayinya baik-baik saja meski ia sering menggunakan korset. Setelah lama berjuang antara mati dan hidup akhirnya kedua bayi mungil Divya lahir dengan berat badan yang prematur.
"Selamat dokter Divya, bayi Anda perempuan mereka kembar," ucap dokter yang membantu Divya melahirkan secara normal.
Divya tidak menyangka ternyata bayinya kembar, karena selama ini ia tidak pernah memeriksa kandungannya. Mata Divya berkaca-kaca melihat dua bayi kembarnya sangat kecil dengan berat badan kurang dari 1.500 gram. Saat dokter itu sudah keluar Jesi masuk tanpa mengetuk pintu, Divya yang melihat itu spontan langsung kaget. "Je-Jesi … ." Gugup Divya.
__ADS_1
"Kenapa menyembunyikan ini semua?" tanya Jesi dengan berlinang air mata.
"Jesi, bukankah kamu sudah tahu, bagaimana sifat Darel," kata Divya. Sambil meraih tangan Jesi. "Tolong bawa kedua bayiku pergi jauh dari sini, sebelum Darel tahu … bisa-bisa dia akan membunuh mereka."
Jesi merasa iba, karena ia tahu rasanya kehilangan seorang anak. "Tapi … ."
"Aku mohon Jesi, cukup Devan yang Darel lakukan seperti anak tirinya jangan adik-adiknya juga." Divya mengiba berharap Jesi mau membantunya.
"Demi bayi-bayi yang tidak berdosa ini, aku akan membawa mereka pergi jauh." Jesi akhirnya mau membantu Divya.
Jesi terlebih dahulu membiarkan Divya memberikan nama pada kedua putrinya sebelum Jesi membawa mereka. "Apa kamu tidak ingin memberikan mereka nama?"
Divya tersenyum sambil menangis mencium pipi kedua putrinya yang saat ini sedang tertidur pulas. "Aurora dan Briana, bukankah namanya bagus Jesi?"
Jesi mengangguk. "Sangat bagus, aku pergi dulu sebelum pesawat salah satu temanku berangkat ke luar negri."
•••••
Saat Jesi tiba di bandara temannya itu ternyata sudah menunggunya disana Jesi dengan buru-buru membawanya kesana.
"Kamu gak perlu mengadopsi mereka. Cukup bawa mereka pergi jauh dari sini, kamu bisa menaruh mereka di panti asuhan," kata Jesi dengan pelan takut ada yang mendengar mereka.
Seorang wanita yang sudah berusia 35 tahun, tidak sengaja mendengar mereka kemudian mendekat. "Permisi boleh saya yang mengadopsi satu bayi ini?" tanyanya dengan sopan.
Jesi dan temannya saling pandang, sebelum menyerahkan salah satu bayi itu.
"Boleh, ini Anda bawa saja bayi ini pergi." Sambil menyerahkan bayi itu teman Jesi tersenyum lega.
Jesi yang saat itu mendapat panggilan dari Darel, dengan cepat memberikan foto dan juga secarik kertas yang sudah Divya tulis, ia memberikannya pada orang asing itu lengkap dengan nama bayinya.
"Gue jadi bawa nih satu bayinya?" tanya teman Jesi.
"Ya, tapi ingat. Taruh di panti asuhan dan nama bayi ini Briana." Bisik Jesi.
Dari sanalah Briana dibawa keluar negeri sedangkan Aurora tetap di Indonesia. Setelah semua selesai Jesi berniat akan pulang tapi di tengah perjalanan Reza asisten Kenzo menghadanya ia ingin membawanya Jesi hadapan Kenzo. (Baca bab dimana Jesi disiksa).
__ADS_1
**FLASHBACK**
Aurora membuka matanya secara perlahan setelah mendengar itu semua, ternyata benar ia memiliki kembaran. Meski Aurora sangat membenci Darel, tapi jauh di lubuk hatinya ia tidak bisa pungkiri hatinya sangat merindukan sosok ayah.
"Pergi," ucap Aurora lirih.
Semua yang ada di sana menoleh ke arah Aurora yang sudah sadar. "Aurora, anak Papa." Darel berdiri dengan tangan yang masih terikat.
"Jangan mendekat, saya tidak punya Papa yang berhati iblis seperti Anda." Sudut mata Aurora mulai berair.
"Papa menyesal Aurora, bisakah kamu memaafkan Papa." Saat Darel akan semakin mendekat ke arah ranjang Aurora, Kenzo menghalanginya.
"Putrimu saja tidak mau mengakui mu." Kenzo tersenyum mengejek.
"Kak Kenzo, biarkan aku meminta maaf kepada putriku. Sudah terlalu banyak dosa yang telah aku perbuat."
Kenzo melihat mata Aurora yang sepertinya juga sangat merindukan Darel, tapi karena egonya lebih besar maka ia menyembunyikan rasa rindunya dengan cara menolak kehadiran Darel.
"Aurora, lihat mata Papa sebentar saja," pinta Darel yang masih saja tidak ingin menyerah.
"Keluar, dari sini sekarang juga!" bentak Aurora.
Kenzo memerintahkan Reza membawa Darel keluar dari sana, melalui isyarat kedipan matanya. Darel tidak memberontak ia akan membiarkan Aurora sembuh total dulu baru ia akan mencoba mendapatkan hati putrinya.
Sekarang tinggal Kenzo yang ada di ruangan itu, yang menemani Aurora. Kenzo diam karena ia sama sekali tidak tahu harus mulai bicara dari mana dengan Aurora yang saat ini menatap dirinya.
"Om, jangan biarkan dia masuk lagi."
Ternyata Aurora terlebih dahulu membuka suara. "Dimana adikku?"
"Ada di rumah, cepatlah sembuh supaya kamu bisa bertemu dengannya," jawab Kenzo
"Boleh saya pergi ke makam Mama saya?"
Kenzo terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
(Tolong kakak, tinggalkan jejak kalian supaya author tidak down. Saat diri ini rela untuk begadang kalian malah baca tanpa meninggalkan like dan komen nyesekðŸ˜ðŸ¤§ ).