ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH

ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH
42. Visual


__ADS_3

Altan Kenzo Alvaro



Zivanna Roselin



Darel Pratama



Divya Rabella



Reza Hartawan



Erlan Almo Alvaro & Erlon Almer Alvaro




Tuan Hercules & Daniar Sabrina



Kalau visualnya kurang cocok πŸ™. kalian boleh kasih saran di kolom komentar πŸ˜‰


Biar Ayuza ganti secepat kilat😁


πŸƒπŸŒΉπŸƒπŸŒΉπŸƒπŸŒΉπŸƒπŸŒΉ


Setelah Darel berdiskusi bersama anak buahnya ia berencana ingin melacak pelaku yang sebenarnya. Darel mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Rupanya pelakunya ingin mencari mati dengan ku."


Darel melangkah keluar dari dalam ruangan. Yang menjadi markas untuk kumpul berdiskusi setiap kali ada hal penting yang harus dibahas. Darel tidak ikut ke pemakaman karena ia tidak sanggup menyaksikan itu, sekarang Darel benar-benar menjadi sebatang kara.


Melihat Zizi yang keluar dari sebuah taksi membuatnya menghentikan langkah kakinya. Ia menyipitkan mata ketika melihat Zizi tersenyum tidak seperti biasanya Zizi akan selalu cemberut tapi kenapa hari ini terlihat berbeda. Senyum yang dulu hilang kini kembali lagi menghiasi wajah cantiknya.


Zizi yang melihat Darel dari kejauhan cepat-cepat merubah ekspresi wajahnya supaya kembali terlihat biasa saja. Tapi ada satu yang dia lupakan Zizi tidak bisa menahan rasa perih di bawah sana karena tadi Kenzo bermain cukup lama dan dengan liar.


"Dari mana saja, kenapa baru pulang?"


Zizi tidak berniat menjawab pertanyaan Darel. Dia masuk begitu saja tapi Darel menarik pergelangan tangannya hingga ia terhenti.


"Lepas, aku dari mana saja kamu tidak berhak tahu urusan pribadi ku."


"Aku berhak atas dirimu. Karena aku adalah suamimu … apa kamu amnesia?"


"Darel, statusku tidak akan berubah menjadi istri dari seorang Kenzo Alvaro sampai kapan pun itu."


"Jadi selama ini kamu masih mengharapkan laki-laki yang sudah meninggal itu. Kamu menganggap aku apa setelah semua apa yang aku lakukan."

__ADS_1


Darel sudah kehilangan kesabaran menghadapi Zizi. Sekarang dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak bisa dibandingkan dengan Kenzo. Ia kemudian menggendong Zizi.


Zizi memberontak ketika Darel membuka pintu kamar dan membawanya masuk. Dia baru menyadari di tubuhnya banyak tanda kepemilikan yang Kenzo tinggalkan.


Zizi begitu terkejut ketika Darel ******* bibirnya dengan sangat rakus, sementara jari Darel sudah siap membuka baju Zizi.


Zizi menggelang tapi itu sama sekali tidak menghentikan aktifitas Darel.


Saat tangan Darel berhasil membuka baju Zizi Darel membulatkan matanya secara sempurna melihat tanda merah yang begitu banyak. Darel berpikir Zizi berselingkuh di belakangnya.


"Apa ini alasan mu tidak pernah mau disentuh olehku, ternyata Zizi ku wanita murahan. Aku berusaha mati-matian untuk menahan hasrat ku tapi ternyata kamu malah mencari pelampiasan di luaran sana." Dahi Darel mengkerut. Matanya mengerjap beberapa kali.


"Darel, ini tidak … ." Darel menangkup lutut Zizi dan menciumnya.


"Zizi ku tidak mungkin kan menjadi Pe*a**r."


Zizi menatap Darel dengan tatapan kosong. Bagaimana bisa dia menyamakan dirinya dengan wanita penghibur lelaki berhidung belang.


"Itu tidak benar!" Zizi mengatakan itu dengan suara lantang.


Darel membuka pintu kamar mandi lalu menarik Zizi dengan paksa lalu dia mendudukan Zizi di bawah shower yang mengalir.


"Bersihkan dirimu, sebelum kamu melayani ku aku tidak suka bekas laki-laki lain menempel di tubuh mu."


Zizi membayangkan Darel akan benar-benar melakukan itu padanya.


'Mas Kenzo, selamatkan aku. Laki-laki ini sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya.'


"Bolehkah aku menutup mata, bahwa aku telah memiliki mu."




"Tapi kenapa aku tidak bisa melakukan ini."


***


"Tuan saya bisa menjelaskan … kenapa saya melakukan itu semua, tolong dengarkan saya."


"Jesi … Jesi, aku bisa melindungi keluargamu dari pecundang itu. Kenapa kamu harus berkhianat membuat jiwa pembunuh ku bangkit lagi."


"Saya akan melakukan apa saja Tuan, asal Anda melepaskan saya."


"Terlambat Jesi, ajalmu sudah di depan mata."


"Tuan, saya masih punya keluarga yang hanya saya satu-satunya harapan mereka."


"Di saat hanya aku harapan anak istri ku. Apa itu tidak terpikir oleh otak mu yang terlalu bodoh ini."


Kenzo menodong kepala Jesi dengan pistol yang hanya berisi satu peluru saja. Dia sudah bosan bermain-main dengan Jesi oleh karena itu, Kenzo ingin mengakhiri hidup Jesi. Dorrr … .


"Lakukan tugasmu Reza aku ingin pergi menjemput anak-anakku."


Reza melakukan tugasnya tanpa rasa jijik ia m*m*t*la*s* mayat Jesi, ingin mengambil tangannya saja.


"Giliran Niko, kamu malam ini harus membawanya ke hadapanku."

__ADS_1


"Apa tidak sekalian Anton Tuan?"


"Tidak, biarkan dulu dia menjadi budak brengsek itu."


β€’β€’β€’β€’β€’


Kenzo dengan santai menunggu si kembar keluar dari kelasnya. Ia memakai kacamata dan topi supaya tidak ada yang bisa mengenalinya.


Ia tersenyum sambil melambaikan tangan setelah melihat Erlan keluar tanpa Erlon. Kenzo yang melihat itu merasa ada yang terjadi dengan Erlon. Ia lalu berlari menghampirinya.


"Daddy, Erlon … di marahin sama Tante itu. Gara-gara mata anak nya di colok sama Erlon."


Kenzo melihat Erlon sedang menunduk sambil menangis. Seorang wanita tampak sedang marah-marah membentak Erlon. Kenzo tidak tinggal diam dengan langkah lebar dia meraih tangan Erlon.


"Sini sama Daddy."


"Oh, Anda orang tuanya. Ajar dong anaknya ini mata anak saya dia colok sampai berdarah." Wanita itu menunjuk-nunjuk mata anaknya.


"Tidak Daddy, dia yang duluan meninju mata Erlon. Makanya Erlon balas." Erlon berusaha membela diri.


"Anda harus tanggung jawab sekarang juga. Saya butuh biaya berobat untuk mata anak saya."


Kenzo tanpa bicara. Melempar sejumlah uang ke bawah kaki wanita itu. Wanita itu tidak percaya Kenzo memberikannya uang sebanyak itu.


"Kalau masih kurang hubungi saya, silahkan tulis nomor rekening Anda."


"Nah kan gini jadi enak, lain kali gak usah gitu ya, Nak."


Wanita itu menulis nomor rekening di ponsel Kenzo. Sambil memungut uang yang berserakan.


'Nikmati uang itu dalam waktu 24 jam. Sebelum aku mencabut nyawa mu.'


Tanpa permisi Kenzo membawa si kembar masuk kedalam mobil.


"Kenapa Daddy kasih Tante itu uang, anaknya nakal suka memukul teman-teman kita ya kan Kak Erlan?"


"Benar Dad, sangat nakal sekali."


"Sudah biarkan saja. Mulai sekarang kalian akan tinggal bersama Daddy."


Erlan dan Erlon menunduk lesu. Mereka sedang memikirkan Zizi.


"Mommy pasti mencari kita Daddy."


"Benar kata Kak Erlan Ded. Apa Daddy mau tahu, selama ini Mommy sering menangis diam-diam di saat melihat foto Daddy."


Kenzo tidak bisa membayangkan bagaimana hancur nya selama ini Zizi berpura-pura tegar dan kuat di depan anak-anak mereka. Di saat dirinya tidak bisa melakukan apa-apa.


"Daddy akan membawa Mommy juga, kalian tidak usah khawatir. Oke."


"Ta-tapi … om Darel bisa ngamuk kalau tahu Mommy tidak ada di rumah."


"Erlon benar Dad, om Darel juga suka membentak kita disaat kita menyebut nama Daddy."


Tangan Kenzo yang memegang setir mobil mengeluarkan urat-urat karena mencengkramnya dengan kuat. Ia merasa Darel ingin cepat menyusul kedua orang tuanya. "Apa Mommy sering menceritakan kalian tentang Daddy?"


"Setiap malam. Iya kan Kak, kata Mommy. Daddy orang yang hebat kita selalu mencium foto Daddy sebelum tidur, Mommy juga melakukan hal yang sama. Kata Mommy Daddy akan segera kembali ternyata Mommy gak bohong."

__ADS_1


__ADS_2