ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH

ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH
58. Ternyata Darel


__ADS_3

VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DIBACA🌹😊 SUPAYA AYUZA RAJIN UNTUK UP.


Briana masih saja meyakinkan Aurora hingga tubuh Aurora yang tadi menegang kini sudah mulai bisa menerima jarum transfusi darah itu.


"Sudah bisa dok," ucap suster itu dengan wajah leganya.


Briana kemudian mundur membiarkan para dokter melakukan tugasnya.


"Darahnya, masih kurang," seru salah satu perawat.


Briana yang masih di sana mencoba menawarkan dirinya sebagai pendonor. "Silahkan dokter cek golongan darah saya, mungkin golongan darah saya juga sama."


Erlon menggelang. "Enak saja, nanti kalau darah kau di ambil. Terus sakit siapa yang repot," ketus Erlon. Membuat semua mata memandang pada dirinya.


"Apa Anda tidak punya hati?" Briana tidak habis pikir di saat keadaan begini Erlon masih saja berpikiran sampai kesitu.


"Punya, kalau kau ingin melihatnya … belah salah satu dada dokter ini, dan seperti itulah bentuk hatiku."


Briana rasanya ingin memukul Erlon, bisa-bisanya Erlon menyuruhnya melakukan hal yang sangat tidak manusiawi. "Anda ke–"


"Kenapa, apa kau takut?"


Para dokter heran kenapa mereka berdua lebih terlihat seperti anak kecil yang lagi berantem. Kenzo masuk menatap Erlon seketika semua yang ada di dalam sana merasakan aura Kenzo sangat berbeda.


"Erlon, kamu keluar," suara Kenzo terdengar tenang. Namun, semua yang ada di sana yang mendengarnya entah mengapa menjadi bergidik ngeri. "Kamu Ana, lanjutkan niat baikmu." Kenzo ternyata menyetujui kalau Briana mendonorkan darahnya untuk Aurora.


"Dad, kenapa harus dia?" Erlan bertanya dengan wajah lesu.


"Bukankah kamu dengar sendiri, dua kantong darah itu masih kurang … dan saat ini, stok golongan darah itu sudah habis."


Erlon tidak ingin membuat keributan di rumah sakit, dan pada akhirnya ia menyetujuinya. "Sok, baik … norak," ucap Erlon di telinga Briana sebelum ia keluar bersama Kenzo.


Kenzo meninju lengan Erlon karena ia sempat mendengarnya. "Jaga sifatmu Erlon, ini rumah sakit. Apa kamu mau Daddy memukulmu disini?"

__ADS_1


Erlon berjalan mendahului Kenzo tanpa menjawab, memuju Erlan yang terlihat frustasi. Ia ingin meminta maaf kepada sang kakak karena ia telah gegabah memukulnya sampai wajah Erlan yang tanpan jadi babak belur.


"Kak … ." Panggil Erlon


"Hm, ada apa? mau mukul kakak lagi."


"Maaf, Erlon sudah salah paham," kata Erlon bersungguh-sungguh.


"Jika ingin ku maafkan, ceraikan Briana dan kamu harus menikah dengan Aurora."


Erlon mengeraskan rahangnya niatnya ingin minta maaf pada Erlan, tetapi Erlan malah membuat darah Erlon semakin mendidih.


"Oh … setelah merusak anak gadis orang, kakak tidak mau bertanggung jawab." Erlon melihat wajah Erlan lekat-lekat.


"Apa bedanya dengan kamu, yang menikah hanya karena melakukan pelecehan." Erlan bicara lantang.


Keadaan menjadi memanas, Reza hanya bisa melihat dari kejauhan. Karena ia sedang mengurus administrasi Aurora.


Kenzo yang baru keluar melihat kelakuan putrannya yang akan kembali saling memukul, dengan satu kali ia menghentakan kakinya Erlon dan Erlan menoleh secara bersamaan. "Pulang, Daddy akan menyerahkan semua ini pada Mommy kalian," ucapan Kenzo membuat keduanya panik. Karena kelemahan mereka adalah melihat air mata Zizi tumpah.


Di rumah Zizi terlihat gelisah karena ia mencoba menghubungi Kenzo maupun dua Er ponsel mereka tidak ada yang aktif, Zizi takut terjadi sesuatu kepada mereka.


"Nyonya, makan malam sudah siap," kata asisten rumah tangga Zizi.


"Baik Bik, tapi tunggu Mas Kenzo dan anak-anak pulang dulu," jawab Zizi dengan sopan.


"Saya permisi dulu Nyonya, kalau begitu."


Zizi mengangguk dan ingin mencoba kembali menghubungi nomor Kenzo, tapi masih sama tidak aktif.


Mas, kamu dimana sih. Katanya sebentar anak-anak juga nomor ponselnya tidak aktif.


Suara deru mobil membuat Zizi langsung menuju pintu, ia yakin itu pasti Kenzo dan benar saja Kenzo keluar dari mobil bersama Erlan yang duduk di depan. Sedangkan Erlon duduk di belakang sambil memapah Briana yang terlihat sangat lemas.

__ADS_1


"Erlon, gendong istrimu. Kamu tidak melihat dia sudah lemas begitu." Kenzo bicara sambil menutup pintu mobil.


"Sudah ku katakan, dia hanya akan bisa merepotkan," ketus Erlon. Ia masih belum sadar kalau Zizi sedang berdiri di pintu.


Erlon yang mendapat pelototan dari Kenzo, dengan sangat terpaksa menggendong Briana dengan gaya bridal style. "Baiklah Dad, untuk kali ini saja oke."


Zizi yang belum tahu Briana mendonorkan darahnya, tersenyum kepada Erlon ia berpikir Erlon sudah membuatkannya cucu sampai Briana lemas tak berdaya seperti itu.


"Sepertinya kita akan cepat punya cucu ya Ded," seloroh Zizi.


"Cucu apanya Mom, dia ini hanya bisa nyusahin." Seperti biasa Erlon akan bicara dengan nada datar kalau menyangkut masalah Briana.


Setelah Zizi memperhatikan wajah Erlon dan Erlan secara bergantian Zizi. Menutup mulutnya sendiri karena begitu shock.


"Apa kalian berantem lagi?" tanya Zizi dengan nada penuh selidik. Wajah yang tadi ceria kini menjadi murung. "Kalian berdua sudah besar, mau sampai kapan kalian begini terus?" sambung Zizi dengan perasaan penuh kecewa.


"Mom, sini nanti Daddy kasih tau," kata Kenzo lembut. "Dan kamu Erlon … bawa Briana cepat masuk kedalam," perintah Kenzo.


•••••


Saat Reza pergi ke toilet, pria misterius itu masuk kedalam ruangan Aurora. Ia kemudian duduk sambil membelai rambut Aurora. "Maafkan Papa sayang, karena sikap egois Papa kalian berdua menderita."


Air mata Aurora tiba-tiba menetes mendengar kalimat itu. "Papa sudah membunuh kakak kalian. Bangunlah Nak, dan hukum Papa," lirih si misterius sambil mengusap air matanya. "Papa di butakan oleh cinta yang bertepuk sebelah tangan, andai saja mama kalian masih hidup. Papa akan bersujud di bawah kakinya untuk meminta maaf …," sambung pria itu. Hingga ia tak sadar Reza sudah berdiri sambil memegang alat kejut listrik.


Dengan langkah hati-hati Reza mendekat kemudian mengarahkan alat itu ke leher pria tersebut. Karena si pria tidak sempat menghindar alat kejut listrik yang mengenai lehernya membuatnya jatuh pingsan. Saat Reza membuka topi si pria dan juga maskernya, Reza yang kaget langsung mengikat si pria dengan dasinya dan menghubungi Kenzo.


Selang beberapa jam Kenzo datang sendiri dengan langkah tergesa-gesa menuju ruangan Aurora. Saat ia membuka pintu pria misterius itu ternyata sudah sadar dan langsung menunduk.


"Cuih, ternyata kamu masih hidup bajingan. Kemana saja selama ini," kata Kenzo sambil mendekatinya. "Apa kamu sudah bosan bersembunyi, makanya kamu menunjukkan diri sekarang."


"Maafkan aku kak Kenzo, selama ini a–"


"Maaf …," sergah Kenzo dengan cepat sambil tertawa terbahak-bahak. Ia tidak menyangka ternyata Darel masih hidup. Iya pria misterius itu ternyata adalah Darel yang selama ini bersembunyi, niatnya ingin kembali menghancurkan keluarga Kenzo tapi niatnya ia urungkan setelah tahu Aurora adalah putrinya yang dulu Divya kandung dan menyembunyikan itu semua dari semua orang.

__ADS_1


(Tolong kakak, tinggalkan jejak kalian supaya author tidak down. Saat diri ini rela untuk begadang kalian malah baca tanpa meninggalkan like dan komen nyesek😭🤧 ).


__ADS_2