
VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DIBACA🌹😊 SUPAYA AYUZA RAJIN UNTUK UP.
Kenzo menatap Zizi yang masih setia mengelus dada bidangnya. "Apa Erlon benar mau menerima Briana?" Kenzo bertanya karena ia belum sepenuhnya percaya dengan apa yang Erlon katakan.
"Mas, kita dulu sama seperti mereka menikah tanpa didasari rasa cinta, tapi percayalah seiring berjalannya waktu mereka akan saling mencintai." Zizi sudah terlanjur sayang kepada Briana maka ia akan melakukan berbagai cara supaya Briana menjadi menantunya.
"Erlon ingin mengenal Briana terlebih dahulu sebelum mereka menikah, dia meminta waktu satu bulan," kata Kenzo sambil melihat mata Zizi yang sepertinya menahan ngantuk.
"Tidak masalah Mas, selama Erlon menepati janjinya."
"Bagaimana dengan Erlan?" tanya Kenzo. Tapi Zizi yang ditanya sudah memejamkan matanya pertanda ia sudah tertidur.
"Kebiasaan deh," guman Kenzo dengan pelan. "Terimakasih sudah menghiasi hari-hari ku, aku akan selalu setia sampai akhir hayat ku," sambung Kenzo Sambil mencium kening Zizi, ia juga ikut memejamkan matanya.
•••••
"Tante, saya sepertinya tidak bisa ikut masuk, karena saya tidak pernah makan di restoran yang sangat mewah seperti sekarang ini."
"Bagus kalau nyadar, pulang sana jalan kaki." Erlon bicara tanpa pikir panjang.
Tapi tanpa di duga Erlan menarik tangan Briana hingga mereka berdua berjalan berdampingan hingga mereka terlihat seperti pasangan yang serasi.
"Berhenti!" seru Erlon ia tidak terima calon istrinya dipegang oleh sang kakak. Ada rasa tidak terima di hati Erlon.
"Bukankah kamu menyuruh Briana untuk pulang," jawab Erlan dengan nada suara datar. "Lebih baik kamu saja yang pulang, karena wajahmu terlihat sangat menyebalkan."
Erlon menunjuk wajahnya sendiri setelah mendengar Erlan. "Kita kembar, jadi wajah kakak juga otomatis terlihat menyebalkan." Erlon tidak peduli melihat tatapan tajam Zizi.
"Sama tante Ana sini, biarkan saja mereka berdua berdebat sampai besok."
Zizi tersenyum saat Briana meraih tangannya. "Gini kan, tidak ada yang marah. Ayo kita masuk, sebentar lagi Daddy pasti sampai."
Kenzo tidak bisa ikut bersama mereka karena ada yang harus diurus, terpaksa ia harus kesana belakangan menyusul mereka.
Briana duduk di tengah-tengah Erlan dan Erlon entah itu kebetulan atau sudah direncanakan oleh Erlan sendiri. Briana seperti sedang bersanding dengan dua pangeran tampan sekaligus.
__ADS_1
"Mau pesan apa Ana?" ucapan Erlan membuat Erlon melihat ke arahnya.
Briana yang tidak pernah makan di restoran mewah hanya bisa diam karena yang dia tahu hanya nasi goreng sama telur ceplok.
"Pesan apa saja pasti dia doyan," sahut Erlon sambil melihat menu apa saja yang tersedia disana.
"Apa Daddy terlambat?" ucap Kenzo yang baru tiba ia melihat mereka yang sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Mas … gak kok, kita baru saja mau pesan makanan, sini duduk."
Setelah Kenzo datang, Erlon tidak lagi bersuara, mereka berempat makan malam dengan tenang. Meski Briana merasa aneh dengan makanan yang ia makan. Namun, ia tetap memaksa dirinya untuk memakan hidangan yang telah Erlan pesankan untuk dirinya.
***
Sebulan berlalu begitu cepat, sekarang sudah tiba waktunya Briana akan menikah dengan Erlon. Ia pasrah karena kejadian itu, andai saja Erlon tidak melakukan hal tersebut mungkin Briana masih ada sedikit harapan untuk menolak.
Di saat Briana akan naik ke atas altar, Zizi sempat berbisik di telinga Briana dengan suara yang terdengar bergetar.
"Terimakasih karena sudah mau menikah dengan putra Mommy, jadilah pasangan hingga akhir hayat."
"Sudah jangan bengong, Erlon sudah lama menunggu mu," sambung Zizi lalu menuntun Briana sampai ke atas altar.
Erlon tidak bisa berkedip sedikitpun melihat Briana yang ternyata sangat cantik. Jantungku rasanya berdebar-debar, ah … ini tidak mungkin. Ingat Erlon jangan sampai masuk ke dalam perangkapnya untuk jatuh cinta padanya. Erlon membatin hingga ia tidak sadar Briana sudah berdiri di hadapannya.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanya Briana.
Zizi yang akan turun, menarik ujung baju Erlon. "Erlon, jangan coba-coba membuat malu Mommy." Zizi sempat mendengar Briana masih memanggil Erlon dengan sebutan Tuan. Ia lalu memperingati Briana. "Ana, setelah kalian resmi menjadi suami istri. Ubah nama panggil untuk Erlon, kalimat yang tadi kedengarannya sangat tidak pantas seorang istri harus memanggil sang suami tuan. Apa Ana paham?"
Briana mengangguk kecil. "Iya tan- maksud Ana Mommy."
Zizi kemudian turun setelah mendengar jawaban Briana, ia berjalan menuju Kenzo yang duduk di bangku paling depan Erlan juga ikut hadir, meski ia harus menyaksikan wanita yang ia inginkan malah menikah dengan sang adik.
Acara berjalan dengan sangat mulus, tidak ada kendala seperti yang Kenzo dan Zizi takutkan, sekarang Briana sudah resmi menjadi menantunya meski Zizi tahu siapa Briana yang sebenarnya. Sedangkan Erlon sungguh tak pernah menyangka gara-gara menolong Briana, sekarang ia malah menjadi pasangan suami istri.
•••••
__ADS_1
Erlon yang melihat Briana duduk di atas ranjang mencoba mendekatinya, ia ingin tahu apakah Briana benar-benar gadis lugu.
"Apa kau mau merasakan nikmatnya surga dunia?"
Briana tidak menjawab Erlon karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud Erlon. Emang ada surga di dunia ini? perasaan aku tidak pernah mengunjunginya.
"Kau tidak mendengarku?" Erlon masih bicara dengan nada suara biasa saja. Tapi lagi-lagi Briana tidak menanggapi itu, hingga Erlon menatap Briana dengan tatapan datar. "Kau istriku dan malam ini malam pertama kita, menurutmu apa yang akan kulakukan?"
Briana memang polos tapi untuk masalah yang satu ini dia sedikit-dikit mengerti. "Bukankah, kita menikah han–"
Erlon membukam mulut Briana dengan telapak tangannya, sebelum Briana bicara panjang lebar. "Layani aku," Erlon menyeringai iblis.
Tubuh Briana seakan terasa lemas, membayangkan Erlon akan melakukannya, padahal dalam surat perjanjian tersebut tidak ada yang tertulis Briana harus melayani Erlon layaknya pasangan suami istri.
Tapi dugaan Briana salah Erlon malah melempar selimut dan satu bantal ke lantai. "Tidur di bawah, aku mana sudi menyentuh tubuh kotormu ini. Menjijikan sekali," kata Erlon dengan nada jengkel.
"Jangan berharap lebih, cepat turun," lanjutnya. Membuat Briana langsung turun dan mulai tidur untung saja kamar Erlon memiliki karpet yang cukup tebal, jadi Briana tidak perlu tidur di atas lantai yang pasti sangat dingin karena Erlon tidak bisa tidur tanpa AC.
Sedangkan di kamar hotel sebelah Kenzo dan Zizi sedang memadu kasih, sepertinya mereka juga tidak mau kalah dengan sang putra.
"Sayang … ."
"Hem … ."
"Jangan ngambek gini dong, kan jadi jelek."
"Mas sih, anak kita yang malam pertama. Malah ikut-ikutan," celetuk Zizi dengan wajah cemberutnya.
"Kita kan, sebagai orang tua, harus ikut serta sebagai contoh yang baik dan benar," ucapan Kenzo membuat Zizi memutar kedua bola matanya.
"Contoh kemesuman maksud kamu Mas, ada-ada saja."
Kenzo malah tertawa mendengar kalimat Zizi yang ada benarnya juga.
(Tolong kakak, tinggalkan jejak kalian supaya author tidak down. Saat diri ini rela untuk begadang kalian malah baca tanpa meninggalkan like dan komen nyesekðŸ˜ðŸ¤§ ).
__ADS_1