ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH

ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH
54. Erlan Mabuk


__ADS_3

VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DIBACA🌹😊 SUPAYA AYUZA RAJIN UNTUK UP.


"Kamu harus bisa membuatnya tidur bersamamu, bagaimanapun caranya," ucap pria yang selalu menjadi benalu di dalam keluarga Zizi.


"Tu-tuan, saya tidak bisa," ucap seorang gadis yang sepertinya seusia dengan Briana.


"Saya tidak mau tahu, bukankah kamu sudah menyepakati hal ini sebelumnya."


"Benar Tuan, tapi saya akan secepatnya mengganti uang itu. Tapi bukan dengan cara begini."


"Mau dapat uang dari mana, uang yang kamu pinjam jumlahnya tidak sedikit. Apa kamu mau saya melaporkan mu atas tuduhan kasus penipuan?"


"Bukankah waktu itu Anda sendiri yang menawarkan sejumlah uang tersebut lalu kenapa seka–"


"Baiklah, jika jeruji besi yang kamu inginkan."


Aurora nama gadis yang saat ini sedang gelisah karena mendapat ancaman dari pria yang sepertinya pantas disebut sebagai ayahnya. Ia tidak tahu kalau meminjam uang di pria itu akan membawanya ke dalam masalah yang sangat rumit.


"Bagaimana nasib ibu saya Tuan?" ucap Aurora dengan lirih.



"Itu urusanmu, bersiap-siap polisi akan membawa mu hari ini juga."



Aurora tidak ada pilihan lain, ia ingin kabur tidak mungkin karena ia tahu sekarang dirinya sedang berhadapan dengan orang yang paling ditakuti.


"Tuan, jadi saya ha-harus … a-apa?"


"Sekarang lihat baik-baik, ini wajah laki-laki yang harus kamu jebak. Saat ini dia sedang berada di sebuah bar, tenang saja, salah satu anak buahku akan membantumu."



Aurora melihat foto itu. "Apa ini orangnya? bukankah dia anak dari Tuan Kenzo pengusaha yang terkenal kaya itu," tanya Aurora dengan takut-takut.



"Benar, sekarang cepat kamu harus segera kesana, sebelum dia pergi."


Hanya demi uang biaya pengobatan sang ibu, Aurora harus rela mengorbankan keperawananya secara cuma-cuma kepada laki-laki yang dulu sangat ia impi-impikan. Tapi bukankah ia harus senang? lalu kenapa dia bersedih. Aurora memang sudah lama mengidolakan Erlan tapi bukan cara begini yang ia mau untuk bisa masuk ke dalam kehidupan Erlan.

__ADS_1


•••••


Erlan tersenyum getir sambil meneguk minuman dengan logo bintang tersebut, ia sebenarnya tidak biasa meminum-minuman yang mengandung alkohol. Tapi karena suasana hatinya sedang harudang maka ini jalan satu-satunya untuk meluapkan rasa kekecewaannya.


"Tambah minuman yang seperti ini," titah Erlan kepada salah satu pelayan di bar itu.


"Hai, apa kamu tidak mau memberikan ku minuman yang rasanya enak ini." Erlan tampaknya sudah mulai pusing.


"Maaf Tuan … Anda sudah minum sebanyak ini, saya tidak bisa memberikan minuman ini lagi."


Disaat penglihatan Erlan buram saat itu juga Aurora datang dengan pakaian yang sangat tidak pantas dan membawa sebotol bir dengan logo yang sama. Namun, ia tidak tahu anak buah laki-laki misterius itu sempat menaruh obat perangsang dalam minuman tersebut. "Ini Tuan, minuman yang Anda minta."


Senyum di bibir Erlan terbit. "Ana, bukankah ini malam pertamamu dengan Erlon lalu kenapa kamu ada di sini?"


"Bisa tunjukkan saya dimana kamar tempat Tuan ini menginap?" Aurora tidak ingin menjawab pertanyaan Erlan yang ia tidak mengerti. Sekarang ia harus bisa menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin, supaya misinya segera selesai dan tidak akan pernah mau lagi berurusan dengan yang namanya orang kaya.


Pelayan itu tidak menaruh curiga kepada Aurora karena ia mengira mungkin Aurora adalah kerabat dekat Erlan. Maka ia memberi tahu Aurora lengkap dengan kode kamar tersebut.


"Terimakasih, saya akan mengantarnya dulu ke kamarnya."


Aurora sekuat tenaga memapah tubuh Erlan yang sudah mulai merasa efek obat perangsang itu karena ia tadi sempat menghabiskan minuman itu sebelum Aurora membawanya untuk segera ke kamarnya.


Erlan merasa ada sesuatu yang aneh melepas jasnya, ia masih tetap tersenyum melihat Aurora dengan mata sayunya.


Aurora menggeleng. "Ayo Tuan masuk, Anda ha–"


Kalimat Aurora terputus tatkala bibir Erlan menempel di pipinya, ia mematung ketika melihat Erlan sudah bertelanjang dada. Ia sampai tidak sadar kapan Erlan membuka bajunya.


Erlan yang melihat pakaian Aurora yang sangat seksoy, tanpa pikir panjang membawanya naik ke atas ranjang. Dan terjadilah adegan umat pemersatu bangsa.


***


Kenzo yang sedang asik menjelajahi hutan amazon yang rimbun di kagetkan dengan dering ponselnya. Ia kemudian beranjak membiarkan Zizi sendirian yang sudah kecapekan karena ulahnya.


"Mas, mau kemana?" tanya Zizi melihat Kenzo akan berjalan ke arah balkon.



"Cari udara segar sayang, kamu tidur saja duluan."


"Udah tega bagunin aku tengah malam gini minta jatah, eh sekarang malah di tinggal," guman Zizi.

__ADS_1


Kenzo nyengir kuda. "Sebentar saja ya, sayang."


Setelah sampai di balkon dan memastikan Zizi tidak mengikutinya Kenzo dengan cepat menghubungi Reza, ia kemudian mendengar penjelasan Reza dari seberang telepon Kenzo seketika mengentaskan rahangnya.



"Tunggu aku akan kesana, jangan biarkan siapa saja tahu masalah ini."



Kenzo kembali ke ranjang dengan wajah merah padam untung saja hanya menggunakan lampu tidur jadi Zizi tidak melihat wajahnya dengan jelas yang memerah. Saat ini Kenzo akan mencari alasan yang tepat supaya Zizi tidak curiga. "Tunggu sebentar sayang, Reza menyuruhku untuk ke tempatnya sekarang, mungkin ada sesuatu hal yang penting."



Berbohong adalah jalan ninja Kenzo. Ia tidak mau melihat Zizi kecewa karena perbuatan Erlan.



"Hem … jangan lama-lama."


•••••


Erlan seperti orang yang sudah pro dalam urusan ranjang, ia tidak bisa berhenti bermain di atas tubuh Aurora dengan berbagai macam gaya.


Sedangkan Aurora hanya bisa menggigit bibirnya sendiri, karena Erlan cukup bermain ganas. Setelah cukup lama akhirnya Erlan jatuh di sebelah tubuh Aurora yang merasakan badannya sudah hampir remuk.


"Aku akan merebutmu dari Erlon," lirih Erlan sebelum memejamkan matanya.


Aurora merasa dirinya sudah benar-benar kotor, disaat dirinya menyesali perbuatan bodohnya notif masuk ke dalam ponselnya yang terletak di bawah lantai. Seketika Aurora merasa dunianya akan runtuh, dengan cepat ia memungut pakaiannya tanpa memperdulikan rasa perih dan sakit di bawah sana.


*Tidak, ibu harus bertahan. Tuhan jangan biarkan ini semua terjadi*.


Aurora berjalan dengan langkah gontai, ia terus saja berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan ibunya. Notif yang tadi dari pihak rumah sakit, yang mengabarkan keadaan ibunya semakin menurun.


Tidak ada yang lebih penting menurut Aurora selain kesembuhan sang ibu, yang selama ini merawatnya sepenuh hati sebelum sang ibu jatuh sakit.


Tuan kali ini saja, tolong jangan ambil ibuku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa.


Aurora sempat menabrak Kenzo pas dia sampai di pintu keluar hotel. "Maaf Tuan, saya buru-buru," ucap Aurora tanpa menatap mata elang Kenzo.


Kenzo yang saat itu juga terburu-buru hanya menatap Aurora sepintas lalu melanjutkan langkahnya, karena ia ingin cepat-cepat masuk ke kamar hotel Erlan. Tanpa Kenzo sadari Aurora memakai jas Erlan untuk menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan pakaian tipis.

__ADS_1


(Tolong kakak, tinggalkan jejak kalian supaya author tidak down. Saat diri ini rela untuk begadang kalian malah baca tanpa meninggalkan like dan komen nyesek😭🤧 ).


__ADS_2