ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH

ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH
55. Apakah Briana Punya Kembaran?


__ADS_3

VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DIBACA🌹😊 SUPAYA AYUZA RAJIN UNTUK UP.


Kenzo sang Daddy psikopat datang dengan mimik wajah yang terlihat sangat marah langkah lebarnya menuju lantai dua puluh, tempat kamar penginapan Erlan berada saat tiba di sana ia hanya menemukan Erlan yang tertidur pulas. Yang tubuhnya hanya ditutupi selimut dan tidak menemukan wanita yang tadi dimaksud Reza. "Mana gadis itu Reza?" Reza yang di tanya menggeleng. "Periksa CCTV sekarang juga," geram Kenzo dengan suara tegasnya tapi itu tidak membuat Erlan terusik sedikitpun dari tidurnya.


"Apa perlu kita bangunkan Tuan Erlan dulu?"


"Tidak usah, aku rasa dia sedang mabuk. Baru kali ini dia berbuat seperti orang b*doh."


"Apa ini karena tuan Erlon menikah dengan nona Briana?" tanya Reza yang berusaha menebak. Apa yang membuat Erlan melakukan ini semua.


"Bisa jadi, karena ia sempat mengatakan ingin menikah dengan Briana waktu Erlon menolak perjodohan itu."


Reza dengan keahliannya langsung mengotak atik laptopnya setelah sempat mengambil rekaman CCTV dari sang manajer hotel, sebelum mereka masuk tadi. Saat Reza ngezoom wajah Aurora yang tidak terlihat terlalu jelas namun ia bisa mengenalinya. "Tuan, bukankah dia gadis yang tadi?"


Kenzo sedang mengingat-ngingat. "Apa Briana punya kembaran? Kenzo malah bertanya balik setelah memperhatikan rekaman itu. "Tidak mungkin kan, kalau itu Briana," sambung Kenzo lagi.


Reza baru ngah setelah beberapa kali memutar rekaman CCTV itu. "Nona Ana rambutnya lebih panjang Tuan, sedangkan gadis ini rambutnya hanya sebahu."


Kenzo mendesis. "Apa karena Erlan dan Erlon kembar jadi pasangan mereka harus kembar juga," ucapan Kenzo membuat kepala Reza pusing seketika.


"Saya akan mencari informasi tentang gadis ini Tuan." Reza juga penasaran sama seperti Kenzo.


"Oke, kamu malam ini tidur disini. Jaga anak ini supaya nanti kalau dia bangun kamu bisa mengintrogasinya langsung."


Reza kesulitan menelan salivanya mendengar perintah Kenzo, karena ia tahu bagaimana Erlan yang sebenarnya.


"Apa kamu takut kepada Erlan? bukankah kamu sudah tahu aku lebih kejam darinya Reza. Maka turuti perintahku."


•••••


Erlan sengaja tidak ikut menginap di hotel milik Kenzo, karena ia tidak mau melihat Erlon si songong akan malam pertama dengan Briana. Wanita yang sempat singgah di hari Erlan namun dipatahkan oleh kenyataan, sehingga Erlan memilih mencari hotel yang agak jauh demi kesehatan jantungnya.


Tapi siapa sangka garis takdir Erlan di tentukan oleh Author yang membuat dirinya harus merenggut kesucian gadis yang bernama Aurora Arabella, gadis yang harus terpaksa menjebak Erlan supaya dirinya tidak dijebloskan ke dalam jeruji besi.


Saat Erlan membuka mata ia melihat Reza yang sedang tidur di atas sopa.


Bukankah tadi malam Ana ada di sini, lalu kenapa berubah menjadi Om Reza.


Erlan hanya mengingat wajah Briana yang m*nd*sah di saat dirinya berhasil menerobos goa yang tersegel rapi. Ia kemudian beberapa kali memukul kepalanya sendiri agar ingatannya yang semalam kembali semuanya tidak setengah-tengah seperti sekarang ini.


"Om Reza!" pekik Erlan membuat Reza langsung duduk dan mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal separuh di dalam dunia mimpi.

__ADS_1


"Tuan Erlan, Anda sudah bagun," lirih Reza.


"Ngapain Om di sini, dan mana Briana?"


"Non, Briana ada sama Tuan Erlon … masih berada di hotel Tuan."


Erlan melotot. Jika Briana masih bersama Erlon terus yang semalam itu siapa?


"Tuan, wanita yang tadi malam itu siapa? apa itu kekasih Anda?" Reza ingin memastikan sendiri, maka dari itu ia bertanya langsung kepada Erlan sebelum Kenzo datang.


"Sial, siapa wanita yang tadi malam kalau dia bukan Ana," guman Erlan tapi bisa didengar oleh Reza.


"Anda lebih baik membersihkan diri Tuan, sebelum Tuan Kenzo ke–"


"Jadi daddy sudah tahu, m*mp*s tamatlah riwayatku … ." Seketika bayangan Kenzo yang sedang mengamuk, seperti rekaman yang terlihat jelas di otak Erlan. Bercak darah, ****!!


***


Briana terbangun karena Erlon menyiramnya dengan segelas air yang ada di atas meja kamar hotel itu.


"Bagun, siapkan aku air hangat untuk mandi." Erlon berdecak pinggang di depan Briana yang kaget karena dibangunkan dengan cara begitu. "Cepat, aku bisa terlambat ke kantor."


Briana mengusap wajahnya. "Baik Tu-tuan."


Setelah beberapa saat Briana keluar dari kamar mandi, ia menghampiri Erlon yang sedang duduk di ranjang sambil memainkan benda pipihnya.


"Tuan, silahkan air hangat Anda sudah siap."


Erlon berdiri lalu memberikan Briana secarik kertas yang berisi apa saja yang harus Briana lakukan. "Baca supaya, aku tidak perlu repot-repot menyuruhmu."


Apa … layaknya pasangan suami istri, apa Tuan Erlon sudah amnesia. Bukankah dia yang mengatakan kalau ini hanya akan berlangsung hanya satu tahun lalu untuk apa aku melakukan ini semua.


"Tidak ada yang gratis di dunia ini, anggap saja itu sebagai bonus karena sudah berhasil menjadi istri dari Erlon."


"Bonus?" tanya Briana dengan muka polosnya.


"Iya, satu lagi jangan pernah mengatakan ini di depan Mommy dan Daddy."


Wajah Briana seketika menjadi murung, dan kemudian dia membatin setelah melihat Erlon menghilang di balik pintu kamar mandi.


Tuhan aku tahu kau mendengarku, melihat bagaimana aku hidup.

__ADS_1


Jika tidak ada yang menginginkan hadirku lantas, untuk apa aku terlahir?


Kedua orang tua ku saja tega membuangku di panti asuhan waktu aku masih kecil, lalu sekarang suamiku memandangku sebelah mata.


Erlon yang lupa membawa handuk keluar lagi dari dalam kamar mandi, ia melihat Briana yang masih saja berdiri tanpa mau mengangkat telpon yang dari tadi berdering. "B*doh, kenapa tidak diangkat telponnya, mungkin itu dari pelayan hotel yang ingin mengantar sarapan," cerca Erlon.


Briana terperanjat mendengar Erlon. "Saya tidak mendengarnya Tuan," ucap Briana.


"Telinga diciptakan untuk mendengar, kau malah menyia nyiakannya. Dasar gadis aneh."


Saat Erlon mengangkat telepon tersebut, ia kenal betul dengan suara itu.


☎📞


"Hallo … ."


"Buka pintu sekarang Erlon!" Terdengar suara Erlan di seberang telpon.


"Mau apa sih kak, masih pagi in–"


"Erlon, cepat!"


"Aish, bisa tidak kakak dengar dulu Erlon sampai selesai bicara."


"Buka!!" suara Erlan melengking membuat Erlon menjauhkan telepon itu dari telinganya.


Saat pintu terbuka Erlan sudah berdiri ditemani Reza yang terlihat gelisah, saat ini Erlan ingin memastikan bahwa gadis itu memang benar-benar Briana sampai ia rela datang pagi-pagi begini.


"Mana Briana?" tanya Erlan saat melihat Erlon berdiri masih memegang handuk.


"Di dalam, kakak. Ada urusan apa sama dia?"


"Briana … Briana … keluar," teriak Erlan memanggil Briana.


Erlon mengerutkan keningnya. "Apa ada sesuatu yang dia perbuat?"


Erlan masih tetap tidak menjawab setiap pertanyaan Erlon. Sedangkan Briana keluar setelah namanya dipanggil beberapa kali.


"Anda mencari saya Tuan?"


"Tadi malam sedang apa kamu di bar?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Erlan membuat Erlon menatap Briana juga.


(Tolong kakak, tinggalkan jejak kalian supaya author tidak down. Saat diri ini rela untuk begadang kalian malah baca tanpa meninggalkan like dan komen nyesek😭🤧 ).


__ADS_2