ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH

ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH
56. Siapa Sebenarnya Aurora?


__ADS_3

VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DIBACA🌹😊 SUPAYA AYUZA RAJIN UNTUK UP.


Aurora sempat mengganti pakaiannya karena ia tidak mungkin ke rumah sakit dengan pakaian yang seperti itu. Dalam sekejap ia sudah sampai dan berdiri di sebelah ranjang sang ibu, ternyata keadaan ibunya benar semakin drop dilihat dari semakin banyak alat medis yang terpasang.


"Ibu … jangan tinggalkan aku," suara Aurora serak. Aurora tidak bisa menahan dirinya supaya tidak menangis.


Setelah lama di ruangan sang ibu, Aurora melihat tangan ibunya bergerak dan mulai membuka matanya secara perlahan.


"A-Auro-ra …," suara ibu Aurora terbata-bata.


Aurora yang mendengar namanya dipanggil dengan cepat mendekatkan daun telinganya ke arah mulut sang ibu. Ia merasa mungkin ada sesuatu hal yang ingin disampaikan sang ibu, dan benar saja betapa hancurnya hati Aurora setelah mendengar kalimat ibunya.


"Tidak mungkin Bu, aku putri ibu 'kan," suara Aurora bergetar. "Ibu jangan bohong. Katakan lah," sambung Aurora.


Ibu Aurora menggeleng lemah. Ia kemudian memberikan Aurora secarik kertas lengkap dengan foto yang selama ini ia simpan di bawah bantalnya.


"Ma-maaf, se-selama ini i-ibu menyimpan se-semua … ra-rahasia ini," lirih ibu Aurora.


Seakan jantung Aurora berhenti berdetak setelah tahu kebenarannya. "Meski ibu bukan ibu kandung ku, tapi ibu yang telah membesarkan ku dengan kasih sayang." Tangis Aurora pecah seketika. "Aku tetap putri ibu 'kan, meski terlahir bukan dari rahim ibu."


Ibu Aurora mengusap air mata Aurora dengan tangan gemetar ia kemudian tersenyum sambil mengangguk, sebelum ia kembali memejamkan matanya untuk selama-lamanya. Aurora langsung berteriak histeris sambil memeluk tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. Entah apa yang terjadi tubuh Aurora lemas dan tidak sadarkan diri.


Dokter masuk dan membawa Aurora yang pingsan keatas bed yang ada di sebelah jasad sang ibu. Kemudian mereka mencabut semua alat yang terpasang di tubuh ibu Aurora.


Seorang laki-laki misterius datang menyamar sebagai salah satu keluarga Aurora. "Permisi dok, bisa saya bawa Aurora, beserta jasad ibunya untuk di kuburkan?"


Para dokter saling pandang karena selama ini yang mereka tahu hanya Aurora sendiri yang menjaga ibunya, dan tidak pernah melihat kerabat Aurora datang.


"Saya baru pulang dari kota dok, setelah tadi sempat mendapat kabar dari Aurora. Selama ini saya tidak pernah kesini karena pekerjaan saya tidak bisa ditinggalkan," ucap pria itu berbohong.


Para dokter akhirnya percaya setelah pria misterius itu memperlihatkan foto Aurora yang sedang duduk bersama diri nya di sebuah ruangan VIP.


"Kalau begitu silahkan, Anda urus semuanya Pak," kata salah satu dokter itu.

__ADS_1


"Baik dok, saya akan mengurus semuanya."


Dokter itu pergi setelah melepas alat-alat tersebut. Membiarkan pria misterius itu yang masih saja berdiri di sebelah ranjang Aurora.


•••••


Di kediaman pria misterius Aurora yang sudah sadar memohon supaya dirinya dibiarkan untuk melihat ibunya yang akan di makamkan.


"Tuan, untuk yang terakhir kalinya saya ingin melihat ibu saya dimakamkan." Aurora terus saja mengiba.


"Kamu menggagalkan semua rencana ku, dan sekarang kamu malah ingin pergi."


Aurora bersujud tidak peduli seberapa banyak orang di ruangan itu yang menatapnya. "Tuan, setelah ini saya akan menuruti semua perintah Anda … saya mohon."


"Tidak semudah itu, kamu harus tetap di sini," ucap pria itu. Hingga membuat Aurora menarik kerah baju pria tersebut. Tanpa diduga secarik kertas dan foto itu jatuh dari saku Aurora dan tepat di depan kaki pria misterius, kemudian pria itu langsung memungutnya setelah memperhatikan dengan jelas, timbul rasa penyesalan yang teramat dalam yang menusuk ke relung hatinya.


"Dari mana kamu mendapatkan foto ini?" tanya pria itu, tapi Aurora tidak mau menjawab. Ia sekarang hanya ingin pergi ke pemakaman sang ibu. "Dari mana Aurora, katakan!" bentak pria itu.


"Apa setelah saya menjawabnya, Anda akan membiarkan saya pergi ke pemakaman?"


"I-ibu saya," jawab Aurora dengan terbata-bata.


"Kamu boleh pergi, tapi harus kembali lagi kesini."


Aurora mengangguk dengan cepat. "Baik Tuan, terima kasih." Aurora sampai lupa mengambil foto yang ada di tangan pria itu. Ia pergi begitu saja tanpa penjagaan dari anak buah si misterius.


Saat anak buahnya akan mengikuti Aurora Pria itu mengibaskan tangannya. "Biarkan, kita lihat apakah dia menepati janjinya. Untuk kembali ke sini atau sebalik nya dia akan kabur."


***


Kenzo yang melihat Erlan sedang berdiri di depan kamar hotel Erlon dengan cepat ia kesana. Ia tidak akan membiarkan Erlan membuat Erlon salah paham.


"Erlan cukup, gadis itu bukan Briana. Kamu salah lihat."

__ADS_1


Erlan menoleh ke arah sumber suara, ia melihat Kenzo yang sudah rapi dengan setelan jasnya.


"Daddy," ucap Erlan dan Erlon bersamaan.


"Lebih baik kamu ikut dengan Daddy biarkan adikmu dan istrinya disini."


"Tidak Daddy, gadis itu memang Briana." Erlan masih saja bersikukuh.


Kenzo mau tidak mau akhirnya menyerah Erlan seperti ia menyeret anak kecil, untung saja dia tadi sudah mengantar Zizi pulang terlebih dahulu jadi Zizi tidak tahu kejadian ini.


"Dad, lepas. Jangan sampai Erlon menyakiti Ana, karena Erlan sudah merenggut kesuciannya."


Kenzo masih saja menyeret Erlan tapi langkah kaki Kenzo terhenti di saat Erlon menarik tangan Erlan dan langsung melayangkan tinju ke wajah sang kakak.


"Jadi begini kelakukan kakak di belakangku, kakak telah menodai istri Erlon." Nafas Erlon memburu. Sambil terus memukul Erlan. "Kakak macam apa yang telah berbuat hina begini," sambung Erlon.


Erlan tidak tinggal diam ia membalas pukulan Erlon. "Maka ceraikan Ana, dia sudah tidur bersama ku," ucap Erlan dan tidak memperdulikan Kenzo yang tampaknya sudah sangat murka.


Erlon memukul Erlan sampai tersungkur di lantai, dengan wajah yang lebam. Kenzo yang melihat itu menarik Erlon supaya ia tidak lagi memukul sang kakak.


"Reza bawa Erlan sekarang juga pergi dari sini, dan kamu Erlon lain kali jangan memukul kakakmu. Belum tentu apa yang dia katakan itu benar semua."


"Tapi Dad,kakak sudah meni–"


"Dengar penjelasn Daddy dulu, baru kamu bisa ambil kesimpulan," sergah Kenzo. Sedangkan Erlan menunjukan jari tengahnya kepada Erlon sambil tersenyum mengejek.


Erlon akan kembali memukul sang kakak, tapi Kenzo menahan tubuh Erlon. "Erlon!!" bentak Kenzo. "Sudah cukup, Daddy akan menjelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi."


Kenzo masuk ke dalam dan mulai menceritakan semuanya dari A sampai Z. Erlon seketika merasa bersalah sudah memukul Erlan tanpa tahu cerita yang sebenarnya. "Sekarang sudah jelas Erlon, kamu bisa bantu Daddy untuk mencari gadis itu," pinta Kenzo.


"Untuk apa?" tanya Erlon.


"Kamu bertanya untuk apa," pekik Kenzo sambil memukul meja, membuat Briana yang tadi membawa dua cangkir kopi langsung jatuh dari mapannya karena terkejut.

__ADS_1


(Tolong kakak, tinggalkan jejak kalian supaya author tidak down. Saat diri ini rela untuk begadang kalian malah baca tanpa meninggalkan like dan komen nyesek😭🤧 ).


__ADS_2