
VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DIBACA🌹😊 SUPAYA AYUZA RAJIN UNTUK UP.
Erlan membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit, ia tidak jadi pergi ke kantor gara-gara moodnya yang tiba-tiba saja berubah tidak karuan. Kebetulan hari ini keadaan Aurora sudah membaik itu artinya ia akan diperbolehkan untuk pulang. Meski ia harus menggunakan kursi roda dulu dikarenakan kakinya yang cedera masih tidak bisa berjalan untuk sementara waktu.
Erlan masuk ia menemukan Aurora yang sedang mencoba menaiki kursi roda itu sendiri, untung saja Erlan datang tepat waktu. "Biar ku bantu, Jangan keras kepala."
"Saya tidak butuh bantuan Anda, saya bisa sendiri," ketus Aurora, yang mengingat Erlan tidak mau menjawab pertanyaanya tempo hari yang lalu.
"Aurora ayolah, niat ku baik."
Namun, Aurora tetap berusaha melakukannya sendiri tapi tidak berhasil. Membuat Erlan mengangkat Aurora ke atas kursi roda tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Tidak sopan sekali Anda, menyentuh saya." Suara Aurora membuat Erlan menatapnya.
"Kenapa? apa kamu keberatan. Terus, apa bedanya dengan kamu," ucap Erlan yang membuat Aurora cemerut.
"Kalau Anda, tidak rugi-rugi amat. Nah sedangkan saya nanti suami saya akan bilang apa, kalau saya sudah tidak perawan lagi." Aurora akan membela dirinya meski ia tahu dirinya memang bersalah.
"Aku juga sudah tidak perjaka karena kamu, jadi bukankah kita sama-sama inpas." Erlan mendorong kursi roda Aurora menuju taman yang ada di rumah sakit itu.
"Mana ada perjaka seperti Anda, yang terlalu bar-bar di atas ranjang." Aurora langsung menutup mulutnya setelah mengatakan itu karena ia tadi sebenarnya keceplosan.
"Berhenti berpura-pura tidak tahu Aurora, kamu sendiri yang telah memasukkan obat perangsang ke dalam minuman itu." Sambil berjalan Erlan akan terus menjawab apa saja yang keluar dari mulut Aurora.
Tunggu, obat perangsang. Jadi itu sebabnya dia bisa sebuas itu pada malam … ah sial. Aku terjebak dalam ucapanku sendiri. Aurora membatin.
"Kenapa diam, apa sekarang kata-katamu sudah habis."
"Tidak, saya merasa tidak pernah menaruh obat perangsang itu. Anda mungkin mengada-ada saja."
Mereka sampai di taman itu, terlihat banyak orang-orang yang berlalu lalang. Ingin menikmati udara segar di pagi hari seperti Aurora. "Ini, hasil tes air urine ku ternyata minuman rendah alkohol itu mengandung obat pe–"
"Mana saya tahu, saya hanya menuruti perintah Anda," sergah Aurora dengan cepat.
__ADS_1
"Gara-gara kamu, sekarang saya harus menikahimu," ucapan Erlan membuat Aurora menatap mata elang itu yang mirip dengan mata Kenzo.
"Saya tidak mau, cukup ini akan menjadi pertama dan terakhir. Saya akan pergi dari kehidupan Anda." Aurora tidak menyadari rombongan Zizi saat ini sedang melihat ke arah mereka.
"Oh … ya, lihat Mommy datang sama siapa." Erlan menunjuk Zizi yang datang bersama Tuan Hercules dan juga nyonya Daniar. "Keluarga ku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja, setelah apa yang kita lakukan." Erlan tidak tahu saja saat ini Aurora sedang melawan rasa gugupnya karena ia takut keluarga Erlan akan mengira dirinya wanita murahan.
"Apa itu kake–"
"Oma dan Opa, mereka sengaja datang jauh-jauh kesini hanya untuk melihat cucunya yang akan menikah dengan gadis yang keras kepala seperti mu."
Saat mereka semakin mendekat, Aurora menghias wajahnya dengan sebuah senyuman. Yang sebenarnya ia paksakan.
"Jangan memaksa dirimu untuk tersenyum, terlihat jelas diraut wajahmu ada rasa ketakutan," imbuh Erlan membuat Aurora semakin merasa tidak karuan.
***
Ternyata apa yang Aurora takutkan tidak terjadi, sekarang dia sudah dibawa pulang ke rumah. "Kenapa, apa Aurora tidak mau tinggal di sini?" tanya Zizi ketika mereka baru turun dari mobil.
"Kenapa pada diam, ayo Mom kita masuk mungkin Oma sama Opa kecapean." Erlan tidak mengingat kalau Aurora belum bisa berjalan.
"Apa kamu lupa Erlan, calon istri kamu masih di dalam mobil," cetus Zizi membuat Erlan gelagapan.
"Daddy ajak mommy sama Oma, Opa masuk. Biar Erlan yang nanti menggendong Briana. Ya 'kan Erlan?" tanya Kenzo yang melihat Erlan menggaruk kepalanya.
"Hm … ya Dad, kalian masuk saja duluan."
Setelah Erlan memastikan mereka semua masuk, Erlan melihat Aurora masih saja diam. "Hanya wajah yang mirip, tidak dengan sifat," ucap Erlan.
"Mana kembaran saya sekarang, apa Anda juga menjadikannya babu di rumah ini." Suara Aurora terdengar sangat lantang. "Jangan mentang-mentang ini rumah Anda saya akan takut, Anda terlalu percaya diri," sambung Aurora membuat Erlan memejamkan matanya karena ia sedang mencium aroma parfum Briana.
Dan benar saja Briana berlari menuju Aurora karena Zizi sudah memberitahunya kalau mereka benar-benar saudara kembar. Tanpa memperdulikan Erlon Briana terus saja berlari ia ingin memeluk sang kakak, dengan nafas yang ngos-ngosan air mata Briana bercuruan ketika ia melihat Aurora membentangkan tangan di dalam mobil yang tadi sudah terbuka dalam keadaan duduk.
"Kak Aurora," suara Briana serak.
__ADS_1
Aurora tidak bisa bicara, karena setelah sekian lama sekarang ia baru bisa bertemu dengan Briana. Suara isak tangis keduanya saling bersahutan sedangkan Erlan hanya bisa menyaksikan.
•••••
"Apa kamu disini jadi pembantu?" tanya Aurora ketika mereka berada di dalam kamar.
"Aku menantu di rumah ini kak," kata Briana memberi tahu Aurora.
"Menantu. Jadi, kamu sudah menikah. Mendahului kakak?"
Briana mengangguk, ia mulai menceritakan bagimana dirinya bisa sampai ke Indonesia Dan karena apa dia harus menikah dengan Erlon. Tapi Briana tidak menceritkan kalau Erlon suka memperlakukannya semena-mena.
Katukan pintu membuat Briana langsung berdiri, karena ia tahu itu pasti Erlon yang akan mengajaknya untuk pindah hari ini juga. "Briana pergi dulu ya kak, lain kali Ana pasti kesini."
"Mau kemana? bukannya kamu juga tinggal di sini?"
"Mulai hari ini tidak lagi kak," ucap Briana lirih.
"Kenapa?" Aurora masih saja penasaran.
Saat Briana akan kembali menjawab, kepala Erlon sudah menyembul masuk dan menjawab pertanyaan Aurora yang sempat ia dengar.
"Supaya kita bisa mandiri ya, 'kan. Sayang?" Erlon lagi-lagi memanggil Briana dengan kata sayang.
"I-iya, aku pergi dulu kak. Rumah kami tidak jauh dari sini kakak bisa main kalau keadaan kakak sudah membaik."
Aurora menjawab Briana dengan senyuman dan anggukan kecil, ia belum sempat menceritkan kalau Darel papa mereka masih hidup Aurora akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan itu.
"Kakak istirahat saja, jangan takut semua orang di rumah ini baik." Briana meyakinkan sang kakak, meski ia sendiri belum yakin.
"Cepat sedikit sayang," kata-kata Erlon terdengar manja di telinga Aurora sedangkan di telinga Briana itu terdengar sebagai nada ancaman.
(Tolong kakak, tinggalkan jejak kalian supaya author tidak down. Saat diri ini rela untuk begadang kalian malah baca tanpa meninggalkan like dan komen nyesekðŸ˜ðŸ¤§ ).
__ADS_1