
VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DIBACA🌹😊 SUPAYA AYUZA RAJIN UNTUK UP.
Meski Erlon sering memperlakukan Briana sesuka hati, tapi Briana selalu tunduk kepada Erlon. Seperti sekarang meski keadaan Briana masih sangat lemah Erlon memaksa Briana untuk memasangkan dasi untuknya.
"Kau, sedang pura-pura tidur kan, sini bangun … pasangkan dasiku," perintah Erlon.
Briana terpaksa membuka matanya ia melihat Erlon berdecak pinggang. "Tuan, saya masih sangat lemas," ucapnya lirih.
Erlon yang baru akan menarik Briana, tiba-tiba Zizi masuk dengan membawa sarapan juga pil penambah darah serta vitamin. Karena Erlon lupa mengunci pintu jadi Zizi bisa masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Erlon, mau apa kamu." Zizi dengan cepat menaruh mapan itu dan menjewer telinga Erlon.
"Gak ada Mom, lepas … telingga Erlon sakit. Apa mommy mau Erlon memiliki telinga gajah?"
"Mommy lepas, asal suapin Briana sarapannya." Zizi masih saja menjewer telinga Erlon, hingga Erlon menyerah mau menyuapkan Briana.
"Hanya demi mommy," ucap Erlan pelan, tapi Zizi masih bisa mendengar itu semua.
"Mommy akan tunggu … sampai kamu selesai. Jadi jangan coba-coba bohongi Mommy." Zizi akhirnya melepaskan jewerannya.
•••••
Erlan akan pergi kerumah sakit, ingin melihat keadaan Aurora. Tapi Zizi juga ingin ikut, ternyata Kenzo sudah memberi tahu Zizi kalau Erlan menabrak kembaran Briana. "Apa keadaan Briana sudah baikan?"
Pertanyaan Erlan membuat Zizi yang sedang memainkan benda pipihnya langsung menatap Erlan. "Keadaanya masih belum stabil, kenapa wajah Erlan terlihat cemas?"
"Erlan merasa bersalah Mom, karena Ini semua juga karena Erlan." Wajah Erlan menjadi sendu.
"Makanya lain kali, kalau bawa mobil tuh harus hati-hati. Jangan sampai kejadian itu terulang lagi."
"Iya Mom, Erlan mengaku salah."
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Erlan dan Zizi sama-sama sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Erlan sibuk memikirkan jika Kenzo benar-benar akan menyuruhnya menikah dengan Aurora. Sedangkan Zizi memikirkan bagaimana caranya supaya Erlon bisa menerima Briana dengan tulus tanpa ada paksaan sedikitpun.
Karena letak rumah sakit tidak terlalu jauh, jadi mereka sampai di sana hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.
__ADS_1
Zizi berjalan beriringan dengan Erlan menuju kamar rawat inap Aurora. Tidak ada percakapan antara mereka sehingga sampai disana.
"Mommy masuk saja, mungkin Daddy masih ada di dalam," ucap Erlan sambil membukakan Zizi pintu. Dan benar saja Kenzo masih di dalam.
Kenzo menoleh saat mendengar suara pintu itu terbuka. "Sayang, sama siapa kesini?" tanya Kenzo sambil meraih kursi untuk Zizi duduk. "Duduk disini sayang, aku ada urusan sebentar."
"Iya, Mas. Aku akan menemaninya disini," jawab Zizi sambil tersenyum.
***
Anton begitu terkejut melihat Niko yang sudah tidak bernyawa, sedangkan Darel tidak melihatnya karena matanya ditutup menggunakan kain. Dengan cepat Anton membawa Darel kesalah satu ruangan di dalam gudang itu, setelah itu ia mengingat Darel di sebuah kursi dan ia segera keluar.
Reza belum berani mendekat ke arah jasad Niko, ia harus menunggu sampai Kenzo datang karena ia tadi sempat menghubunginya mengatakan kalau Niko sepertinya berhasil bunuh diri. Reza berdiri di pintu gudang itu seraya melihat mobil Kenzo yang baru masuk ke halaman rumah.
Ternyata Kenzo langsung mengarahkan mobilnya ke taman belakang dimana gudang itu berada. Reza berlari membuka pintu untuknya. "Apa tidak ada orang di rumah?"
"Hanya ada Non Briana, Tuan," jawab Reza sambil kembali menutup pintu mobil.
"Niko sepertinya sudah terlalu bosan hidup," guman Kenzo. Sambil terus melangkahkan kakinya menuju ruangan tersebut. Dan benar saja ternyata Niko tewas dengan cara memecahkan gelas yang belum sempat Reza bawa keluar menggunakannya untuk menyayat lehernya sendiri.
"Bakar mayatnya di dekat hutan tempat kamu dulu membuang mayat Jesi itu, supaya cinta mereka kekal abadi sebagai penghianat." Kenzo memerintahkan Reza.
Kenzo mengambil sebatang rokok, Reza dengan sigap menyalakan pemantik untuknya. Kempulan asap masuk ke dalam indra penciuman Reza.
"Biarkan saja dulu, dan kita sekarang memiliki rekan baru. Anton masuk," kata Kenzo membuat Reza heran karena setahunya Anton adalah tangan kanan Darel. Anton masuk dengan wajah ceria langsung berjabat tangan dengan Reza.
"Senang bertemu denganmu Reza," ucap Anton sambil memeluk Reza.
Reza masih belum mengerti ia hanya bisa melongo. "Apa kita saling kenal?" tanya Reza yang masih kebingungan.
Kenzo menjelaskan bahwa Anton masih memiliki kekerabatan dengan Reza. Kenzo tahu setelah Anton datang sendiri padanya beberapa hari yang lalu, menceritakan semuanya karena Anton membantunya untuk membawa Darel keluar dari persembunyiannya maka dari itu Kenzo percaya. Dan juga tubuh Anton sudah ditanami chip bila Anton berbohong dalam hitungan detik badannya akan hancur.
"Setelah mengurus mayat Niko, siapkan acara pernikahan Erlan dan Aurora yang akan dilangsungkan setelah Aurora pulang dari rumah sakit."
Anton juga Niko mengangguk secara bersamaan, setelah mendengar perintah Kenzo.
__ADS_1
•••••
Di Rumah sakit, Erlan mencoba mengajak Aurora bicara setelah Zizi keluar tadi menerima panggilan dari Kenzo.
"Em … nama kamu siapa?" tanya Erlan membuka percakapan.
Aurora melihat Erlan ia merasa ada getaran halus menusuk relung hatinya. Lama ia terdiam sebelum menjawab pertanyaan Erlan. Sebenarnya ia juga merasa malu dan juga bersalah atas apa yang telah ia perbuat tapi mau bagaimana lagi, toh itu juga bukan murni karena kemauannya.
"Aurora," jawabnya singkat.
"Kenapa kamu tega … menjebakku?"
Deg, pertanyaan Erlan membuat Aurora memalingkan pandangannya. Ia sekarang tidak tahu apakah dirinya harus jujur atau berbohong. "Bukankah Anda yang memaksa saya Tuan?" kata Aurora.
"Lantas kenapa kamu, berpakaian seperti saringan tahu?" Nada suara Erlan terdengar sangat mengejek bagi telinga Aurora.
Jika Briana lebih penakut beda halnya dengan Aurora yang berani, tanpa mau dipojokkan atas apa yang telah diperbuat.
"Terserah saya dong, tapi Anda menikmati itu semua 'kan?"
"Jika kamu tidak mirip dengan Briana, mana mungkin saya akan melakukan itu semua." Dengan nada suara datarnya Erlan bicara seolah bukan hanya dirinya yang harus disalahkan.
"Briana, di mana dia?" Aurora langsung mengingat nama Briana di saat Erlan menyebutnya tadi. "Kenapa Anda diam, tolong beritahu saya dimana Briana?" tanya Aurora sekali lagi.
"Katakan saja apa tujuan kamu menjebakku." Saat ini Erlan tidak mau membahas Briana, tadi ia hanya keceplosan menyebut namanya. Membahas Briana di saat seperti ini membuat hati Erlan kembali dilanda nyeri.
"Wah,ternyata anak Mommy sudah mulai dekat nih dengan calon mantu Mommy," ucap Zizi yang baru masuk membawa parcel buah mini. "Erlan bisa 'kan, menemani Aurora jalan-jalan hirup udara segar?"
"Tidak usah tante, lain kali saja." Tolak Aurora langsung.
"Lho, kenapa? bukannya tadi Aurora sendiri yang minta." Zizi semakin mendekat karena ia ingin menaruh parcel buah itu di atas meja.
"Gak jadi tante, kepala Aurora tiba-tiba merasa pusing," kilah Aurora dengan cepat.
MAMPIR DI KARYA BARU AYUZA JUGA KAK "Noda Di Seragam SMA"
__ADS_1
🌹🌹🙏😊
(Tolong kakak, tinggalkan jejak kalian supaya author tidak down. Saat diri ini rela untuk begadang kalian malah baca tanpa meninggalkan like dan komen nyesek😭🤧 ).