ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH

ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH
Cinta Seorang Pycho (Promosi, lanjutan dari cerita ini).


__ADS_3

"Tuan, bisakah Anda jangan tidur seperti ini, saya sudah berada di pinggir ranjang,” kata Ana yang kini berusaha menggeser tubuh Erlon. “Tuan,” panggil Ana pelan. Sepertinya Tuan Erlon sudah masuk ke alam bawah sadar, gumam Ana.


Ana bangun lalu memperhatikan wajah Erlon. "Lagi tidur aja tetap tampan, bibir tuan Erlon yang merah jambu, kulitnya putih bersih," ucap Ana yang ternyata didengar oleh Erlon. Ana mulai meraba wajah Erlon. "Mulus seperti kulit bayi, pasti tuan Erlon rajin perawatan." Tangan Ana sekarang berhenti di hidung Erlon. "Sangat mancung, ciptaan Tuhan memang sangat sempur–"


"Raba sampai ke bawah juga gak apa-apa," seloroh Erlon yang masih memejamkan matanya.


Ana kaget ternyata dari tadi Erlon hanya pura-pura tidur saja, ia kemudian ingin menarik tangannya tapi Erlon sudah terlebih dahulu meraihnya dan meletakkannya di dadanya. "Tu-tuan … ."


"Tidakkah kau … maksudku kamu. Ya, tidakkah kamu bangga memiliki suami sepertiku, sudah tampan mapan lagi." Erlon menarik Ana supaya tidur di atas dadanya. "Apakah kamu bisa mendengar, detak jantungku?"


Ana tidak bisa bergerak karena Erlon memeluk tubuhnya sangat erat. "Tuan, apa yang sedang Anda la–"


"Seperti ini," ucap Erlon yang kini memasukkan tangannya ke dalam baju Ana. "Jauh lebih nyaman, dan juga hangat."


Ana merasa geli saat tangan Erlon meraba di balik bajunya. "Tuan, saya ge–"


"Berhenti memanggilku tuan, aku tidak suka," ketus Erlon. "Sekarang tatap mataku," pinta Erlon.


Ana menuruti perkataan Erlon ia menatap mata Erlon yang masih betah terpejam. Senyum di bibir Ana terukir indah, karena ia merasa lucu melihat Erlon yang sedang memutar kedua bola matanya yang terlihat jelas di kelopak mata Erlon.


"Jangan tersenyum padaku terus-menerus, aku bisa kena diabetes. Karena senyummu terlalu manis," ucapan Erlon membuat Ana menundukkan pandangannya.


Bukannya tuan Erlon masih memejamkan matanya. Lalu kenapa dia bisa melihatku tersenyum? Sangat aneh bisa melihat saat masih terpejam. Ana membatin.


"Apa kamu tahu, takdir tidak akan tertukar," suara Erlon membuat Ana menatap wajah rupawannya.

__ADS_1


Apa maksud tuan Erlon? Takdir tidak akan tertukar, gumam Ana. Yang tidak menyadari Erlon sudah membuka kaitan BH-nya di belakang.


"Seperti kita, meski aku tidak pernah menginginkanmu begitu juga kamu yang tak menginginkan aku. Tapi kenapa kita malah bersatu dalam ikatan pernikahan tanpa di dasari cinta … maka, itulah yang dinamakan takdir … ."


Ana mulai merasa tidak nyaman karena tangan Erlon berkeliaran di dalam bajunya. "Mmm … biar saya tidur di sopa saja tuan, sepertinya kasur ini sempit."


"Kita memang ditakdirkan untuk berjodoh, alam semesta pun sepertinya merestui hubungan kita juga. Kalau begitu maukah kamu menerima cinta ku?" Saat mengatakan itu mata Erlon terbuka, ia bisa melihat netra Ana yang bulat sedang menatap dirinya juga. "Bagaimanapun jalannya, serumit apapun tantangan jika kita memang ditakdirkan bersatu tidak akan ada yang bisa memisahkan kita."


Ana meraba dahi Erlon, ia pikir Erlon demam atau sedang kerasukan penunggu mansion. Makanya bicara Erlon tumben benar dan kata-katanya menebus ke relung hati Ana yang paling dalam. "Dahi Anda tidak panas, lalu kenapa Anda bicara seperti orang sakit." Ana mulai kebingungan.


"Aku tidak sakit, aku hanya mengungkapkan isi hatiku." Erlon semakin mendekatkan bibirnya dan bersuara, "Apa kamu tidak merasakan hal yang sama?"


"Tuan, apa yang sedang Anda bicarakan, sungguh saat ini saya tidak mengerti." Ana masih belum sadar, kalau ternyata tangan Erlon sudah nakal meraba punggungnya.


"Kita mulai dari malam ini, menikmati indahnya cinta." Erlon dengan cepat memutar tubuhnya sehingga ia sekarang berada di atas tubuh Ana. "Malam ini, akan ku buat menjadi sejarah dalam hidupku, kalau aku sudah resmi menjadi milikmu untuk selamanya." Erlon mulai mencium tengkuk leher Ana. "Katakan jika kamu menginginkannya … ."


"Jangan membohongi perasaanmu sendiri, ketika cinta mulai tubuh. Maka sulit bagi seseorang untuk lari dari kenyataan." Setelah mengatakan itu Erlon melakukan tugasnya menjadi seorang suami untuk yang pertama kalinya. "Nikmati, dan rasakan sensasinya." Erlon mulai menelusuri lembah yang ditumbuhi rumput hijau.


Ana hanya bisa memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang Erlon berikan tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia seperti dibuat melayang, tidak pernah sebelumnya ia merasakan sesuatu senikmat ini.


Dua jam berlalu Ana bagun karena ia ingin ke kamar mandi. "Aww, ah." Ana meringis karena ia merasa sakit di area sensitifnya.


"Mau kemana?" tanya Erlon yang merasa ada pergerakan di sebelahnya.


"Sa-saya mau ke kamar mandi tuan," ucap Ana pelan.

__ADS_1


"Panggil aku sayang, dan berhenti menggunakan kalimat formal. Oh, ya. Apa itu masih sakit?"


Kenapa menanyakan itu, rasanya aku sangat malu saat ini. Apa tuan Erlon juga mengingat dua jam yang lalu aku lakukan, batin Ana.


"Apa perlu aku gendong?" Erlon bertanya saat ia melihat ekspresi Ana. "Apa begitu sakit? Makanya wajahmu sampai merah begitu."


"Tu-tuan, sa-saya … ."


"Apa kamu ingin aku hukum, kenapa sulit sekali untuk memanggilku sayang." Erlon tanpa malu berdiri di depan Ana meski ia tidak menggunakan kain sehelai pun. "Sini aku gendong."


Ana memalingkan pandangannya dengan cepat. "Sa-saya … bisa sendiri tuan."


"Hadap sini, apa kamu sekarang malu? Padahal dua jam yang lalu, kamu men*e**h." Erlon semakin membuat Ana menjadi malu. "Jeritan dan suara penuh ga*r*h. Kenapa sekarang kembali ke setelan awal?"


Ana akhirnya bergegas untuk ke kamar mandi, walau ia kesulitan untuk berjalan. Tanpa menyahut ucapan Erlon. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara ponsel Erlon yang berdering.


"Ini kak Erlan," kata Erlon yang melihat Ana berhenti di dekat pintu kamar mandi. "Masuklah, sepertinya kak Erlan hanya iseng saja menelpon di larut malam begini." Erlon mereject panggilan Erlan. "Pengganggu!!" ketus Erlon yang kemudian memadam ponselnya.


Ana dengan cepat masuk ke kamar mandi, ia lalu menelan pil KB yang sempat Aurora berikan untuk dirinya waktu itu. "Maafkan saya, tuan," ucap Ana dan tak lama ia malah mendengar suara pecahan gelas. Ia lalu bergegas keluar takut terjadi sesuatu dengan Erlon.


"Tidak mungkin!!!" teriak Erlon sambil melempar apa saja yang ada di sana. "Mommy, Daddy, Om Reza. Katakan ini hanya lelucon!" Erlon semakin berteriak histeris.


Ana melihat Erlon sedang memegang ponselnya. "Apa yang terjadi tuan?" tanya Ana tapi Erlon malah memberikan Ana ponselnya. Kaki Ana menjadi lemas, setelah membaca isi pesan singkat yang Erlan kirim ke benda pipihnya itu. Seketika ucapan Zizi saat mereka ada di rumah sakit kembali terngiang-ngiang.


Mommy, sama Daddy titip Erlon. Bukan maksud mommy apa-apa tapi hanya ini pesan yang harus Ana ingat. Bagaimanapun badai menerjang kalian harus tetap bersama dalam keadaan susah maupun senang. Erlon anak yang baik tapi ia memiliki kekurangan yaitu kepribadian ganda. Tolong hadirkan malaikat kecil di tengah-tengah kalian supaya rumah tangga kalian semakin berwarna. Ingat pesan mommy, jangan tinggalkan Erlon meski dia sendiri yang memintanya.

__ADS_1



__ADS_2