ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH

ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH
49. Bertemu Wanita Lugu


__ADS_3

VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DIBACA🌹😊 SUPAYA AYUZA RAJIN BUAT UP.


Kenzo harus membuang egonya jauh-jauh di saat dokter mengatakan stok golongan darah AB tidak ada, ditambah Zizi harus cepat mendapat donor darah. Yang ada di sana golongan darahnya tidak ada yang cocok satupun.


Tuan Hercules berharap Kenzo akan mau menjemput Pak Hardian, karena saat ini cuma dia harapan satu-satunya.


"Tidak ada jalan lain, Nak. Kamu harus menjemput Pak Hardian."


"Rumah Sakit macam apa ini … yang bisa kehabisan stok darah."


"Nak, ayolah Zizi di dalam sedang berjuang kamu harus cepat. Operasinya harus segera dilangsungkan untuk mengambil peluru itu."


Reza datang mengatakan ia tidak berhasil menemukan mobil yang membawa Darrel tadi.


"Tuan Saya gagal unt–"


"Jemput Pak Hardian sekarang juga! nyawa istriku lebih penting."


•••••


"Aku dimana … ."


Pandangannya menyapu sekeliling, sejauh matanya memandang hanya ada cahaya yang menerangi ruangan dimana tempat Zizi berada sekarang. Suasana terasa sangat sejuk meski di dalam ruangan itu tidak ada jendela.


"Ibu … ." senyum merekah tampak di bibir mungil Zizi begitu melihat sosok wanita paruh baya berpakaian serba putih, mendekatinya.


Ibu Zizi semakin mendekat, dengan wajah berhias senyum. Zizi memandangnya dengan takjub sebab wajah ibunya begitu putih bercahaya.


Zizi berjalan mengikuti ibunya karena tangannya digenggam erat oleh sang ibu.


"Ibu kita di mana?"


"Ini tempat tinggal ibu sayang, kamu harus kembali. Cucu-cucu ibu sangat membutuhkan Mommy mereka."


"Zizi ingin di sini sama ibu … ."


"Apakah Zizi tidak sayang dengan si kembar juga Kenzo?"


Ibu Zizi menunjuk salah satu pintu yang berada di sebelah kanan. "Zizi sayang, sekarang waktunya belum tiba. Kamu harus kuat perjalanan hidupmu masih sangat panjang, Nak."


"Ibu Zizi sayang ibu …," lirih Zizi.


"Ibu juga sayang Zizi, sangat sayang. Kembalilah, Nak. Kamu adalah wanita pilihan. Ibu percaya kamu bisa melewati ini semua."


Zizi teringat dengan ucapan nyonya Daniar yang mengatakan. Bahwa dia adalah wanita pilihan.


Erlan, Erlon, Mas Kenzo, Papa dan Mama


Zizi akhirnya berjalan ke arah pintu yang tadi ibunya tunjuk. Ibu Zizi melambaikan tangannya di saat Zizi sudah sampai di ambang pintu.


🍃🌹🍃🌹🍃🌹


(20 Tahun)

__ADS_1


"Mom, Erlan mau berangkat kerja dulu."


"Kok buru-buru, sarapan dulu gih!"


Di saat usianya sudah 25 Tahun, Erlan dan Erlon belum juga memikirkan untuk menikah. Zizi tidak menyangka putra-putranya sudah beranjak dewasa. Sejak pengangkatan peluru di perut Zizi, Zizi tidak bisa memiliki anak lagi.


Kenzo yang dari tadi membaca sebuah majalah melihat ke arah Erlan sudah rapi, ia begitu bangga kepada kedua putranya karena mereka berdua mampu meneruskan perusahaan yang berhasil Kenzo rebut kembali dari Darel.


"Erlon ma–"


"Disini Mom," jawab Erlon dengan cepat sambil memasang dasi.


"Erlon juga tidak sarapan?" tanya Zizi.


"Di kantor nanti bisa, ayo Kak Erlan. Kita berangkat dulu Ded, Mom."


Beginilah kebiasaan Erlan dan Erlon mereka jarang sekali untuk ikut sarapan. Zizi tidak habis pikir jiwa pebisnis Kenzo mengalir begitu saja di kedua putra mereka.


Orang tidak akan bisa membedakan mana Erlan dan Erlon karena wajah mereka berdua benar-benar mirip. Hanya Zizi dan Kenzo yang bisa membedakan mereka karena sifat Erlon lebih mirip dengan Kenzo angkuh dan terkesan cuek. Kalau Erlan duplikat Zizi selain berwibawa Erlan lebih manja meski dia adalah seorang Kakak.


"Ya sudah, kalian bawa bekal saja ya, tunggu sebentar."


Zizi tidak akan membiarkan Erlan dan Erlon pergi begitu saja tanpa membawa bekal karena kesehatan putra nya juga penting.


***


Saat ini Erlon yang menyetir, dia terkesan ber-bar dalam mengemudi. Sang kakak sudah memperingati tapi Erlon hanya menggapnya angin lalu.



"Kakak diam saja. Oke," jawab Erlon dengan santai.



Saat Erlon akan berbelok terlihat wanita menyebrang tanpa melihat kiri kanan. Erlon reflek menginjak pedal rim, ia kemudian turun ingin memarahi wanita itu. Erlan memegang tangan Erlon.


"Biar Kakak, kamu diam saja di dalam mobil," pinta Erlan. Karena dia tahu betul Erlon pasti akan memarahi wanita itu.


"Erlon saja, wanita itu apa tidak punya mata."


Erlon turun dari mobil tanpa mendengar ucapan Erlan. Ia melihat wanita itu masih berdiam diri.


"Punya mata dipakai. Untung saja mobil kesayangan ku tidak lecet, cepat minggir dari sana," kata Erlon tanpa melihat wajah wanita itu.


"Tuan, tolong bawa saya pergi dari sini. Orang-orang itu akan menjadikan saya sebagai pemuas nafsu."


Wanita itu membuka suara saat melihat orang-orang yang mengejarnya kini semakin dekat.


"Bukan urusan saya, hai. Wanita yang kalian cari ada di sini." Erlon malah memanggil pria yang seperti preman itu.


"Tuan …," lirih wanita itu.


Erlan merasa kasihan, ia dengan cepat keluar lalu menarik tangan wanita itu masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Kakak selalu saja menjadi pahlawan kesiangan," desis Erlon.


"Sudah masuk, kita tidak punya waktu untuk meladeni para preman itu."


•••••


"Terima Kasih Tuan, Anda sudah menyelamatkan saya."


"Nama kamu siapa? dan ngapain para preman itu mengejar kamu?" Erlan bertanya dengan suara khasnya.


"Nama saya Brian–"


"Turun sini, ngapain kakak sampai nanya nama-nama segala," ketus Erlon.


"Saya tidak punya tempat tinggal Tuan, tolong kasihani saya."


"Saya tidak mau tahu, ngerepotin saja."


Erlan dari tadi diam memperhatikan wanita itu, ia merasa wanita itu berkata jujur.


"Sudah lah Erlon, lebih baik kamu fokus menyetir."


"Maksud kakak, kakak ingin kita membawa gembel ini ke kantor?"


"Erlon, jaga sedikit tutur bahasamu. Kamu seperti orang yang tidak berpendidikan," bentak Erlan.


"Kakak, membentakku gara-gara wanita yang kita tidak kenal asal-usulnya ini?"


Wanita yang tadi bernama Briana itu hanya diam saja di saat ia mendengar perdebatan kecil antara Erlon dan Erlan.


Briana wanita yang berusia 23 Tahun ia besar di panti asuhan sebelum dua orang yang tidak dikenal menculiknya lalu membawanya ke indonesia. Briana berasal dari Australia ia bisa bahasa indonesia karena di panti asuhan dia selalu belajar melalui kamus.


Sebenarnya tadi dia kabur setelah sempat mendengar para preman itu ingin menjualnya. Dengan harga yang begitu fantastis, tapi sebelum itu terjadi Briana sudah terlebih dahulu kabur.


"Elron, apa salahnya kita membantu nya?"


"Kakak saja yang membantunya Erlon tidak mau."


Tanpa mereka sadari para preman itu mengejar mereka menggunakan sepeda motor, dan berteriak-teriak.


"Woy … berhenti, kembalikan wanita j*l*ng itu. Dia milik kami."


Elron yang mendengar itu menatap Briana yang terlihat gemetaran.


"**** … mereka berhasil mengejar kita."


Erlon menggunakan keahliannya untuk menyelip ke kiri dan ke kanan, membawa mobil mewah itu.


"Kakak tahu, ada kalanya kelebihanku ini akan di pergunakan."


"Ini karena keadaan yang mendesak, hanya untuk kali ini kakak mendukung mu."


Pereman itu malah menembak kedua ban mobil yang di kendarai Erlon. Hingga mobil itu berhenti mendadak.

__ADS_1


__ADS_2