ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH

ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH
43. Positif Bucin Akut


__ADS_3

KASIH AYUZA VOTE DAN LIKE BARU BACA, SUPAYA DIRI KU YANG MENTAL KERUPUK INI RAJIN BUAT UP.😘😍


Darel sudah bertelanjang dada, ia mendekatkan bibirnya ke sisi leher Zizi dan mengecup nya dengan lembut. Membuat Zizi meronta namun Darel menahan tubuhnya.


"Darel, jangan … ."


"Kamu akan menikmatinya, sayang … aku janji." Darel tersenyum.


"Darel … cukup!' pekik Zizi karena Darel meraba daerah intim nya.


Zizi tidak menikmati setiap sentuhan yang Darel berikan, mungkin karena Zizi tidak memiliki rasa sedikit pun pada Darel.


"Apa kamu tidak menikmatinya sayang?"


"Cuih, aku membencimu Darel. Mana mungkin aku akan menikmati semua ini, lepas!"


Darel mengambil sebuah suntikan cairan. Zizi membelalak disaat Darel mengarahkan ujung jarumnya ke tangannya sendiri. Entah obat apa itu Zizi tidak tahu karena baru pertama kali ini melihat Darel menyuntik dirinya sendiri.


'Apakah Darel sakit?'


"Darel, jauhkan itu!" Zizi memekik, saat kaki Zizi yang tidak terikat mencoba menghalangi Darel. Alhasil terjadi kesalahan, Darel yang awalnya hendak memasukkan suntikan itu ke lengan nya sendiri malah tidak sengaja menancapkannya ke lengan Zizi.


Zizi mulai merasakan tubuh dan pipinya memanas. 'Apakah ini obat perangsang?'


Darel sebenarnya ingin menyuntikan dirinya supaya dia tidak merasa bersalah saat akan menggauli Zizi.


"Darel … ." Obat itu sudah bereaksi membuat Zizi kesusahan untuk bicara.


"Menjauh," pinta Zizi dengan suara serak, disaat Darel menindih tubuhnya.


Kaca jendela kamar itu tiba-tiba saja pecah. Membuat Darel geram, di saat ia ingin menikmati tubuh Zizi yang terlihat menantang ada saja halangan nya.


Darel turun dari ranjang ingin melihat apa yang dibungkus dengan kain berwarna putih. Yang bisa membuat kaca itu menjadi pecah, membiarkan Zizi menggeliat kesadaran Zizi sudah mulai berkurang karena pengaruh obat perangsang itu.


"Bedebah!" Darel merasa ada orang yang ingin mempermainkannya. Di saat dia membuka kain tersebut sebuah tangan yang Darel kenal dari cincinnya milik Jesi.


Darel memungut kembali pakaiannya lalu memakainya. Dia keluar begitu saja membiarkan Zizi yang sudah merasa tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


•••••


"Mas Kenzo," desah Zizi dengan mata yang berkabut.


Zizi mencium leher Kenzo dengan rakus.

__ADS_1


"Cari hotel di dekat sini Reza, laki-laki sialan itu sepertinya sudah memberikan istri ku obat perangsang."


Kenzo berhasil masuk ke kamar Zizi karena bantuan Reza. Dengan gerakan cepat Kenzo membawa Zizi kabur dari rumah Darel. Tanpa ada satu orang pun yang tahu.


"Lebih cepat!" seru Kenzo.


Reza tidak fokus karena melihat Zizi sudah turun ke bawah dan meraba pusa*a milik Kenzo yang sudah menegang.


"Apa kamu sudah bosan melihat dunia Reza." Kenzo menarik kelambu untuk menutupi dirinya yang ada di belakang. Supaya Reza tidak melihat itu semua.


Bibir Kenzo merayap di bibir Zizi menyesapnya dengan penuh perasaan hingga mata Zizi terpejam, ketika bibir mereka berpadu hangat.


Reza yang mengemudi mendengar dengan jelas setiap de*sah*n Zizi.


"Aahhh … ."


Akibat efek perangsang dari obat itu pikiran Zizi mulai liar. Dia membayangkan bentuk tubuh Kenzo yang membuatnya menarik tengkuk leher Kenzo.


"Mas, aku pengen," suara Zizi lirih.


Kenzo yang tidak tega melihat Zizi membuka seluruh baju Zizi. Dia sempat melihat bekas dirinya masih sangat jelas disana. Bibir Kenzo perlahan turun dan menyentuh pu*ing pa*u**ra Zizi. Mengisapnya layaknya seorang bayi.


Reza merasa dirinya hanya menjadi pendengar setia, di saat Tuannya melakukan pengadukan semen di dalam mobil.


***


Kenzo berada di sebuah gang kecil dan sangat sepi. Dia sedang menunggu wanita yang sudah membentak Erlon. Ternyata tujuannya meminta nomor rekening supaya ia bisa dengan mudah mengetahui alamat nya. Kempulan asap dari sebatang rokok yang Kenzo hisap menandakan dia sedang tidak baik-baik saja.


Kenzo dengan mudah menyelinap masuk ke dalam rumah wanita yang saat ini sedang asik berendam di bathtub, wanita itu bangun setelah melihat bayangan lalu memkai handuknya. Kenzo yang sedang sibuk memasang sarung tangannya masih bersembunyi di balik gorden.


"Aneh tidak ada orang, padahal tadi aku melihat sangat jelas ada bayangan. Apa mungkin itu karena aku kurang istrirahat." Wanita itu bicara sambil melangkah lagi menuju bathtub ingin berendam lagi.


"Apa ada ingin istrirahat dan tidak pernah bangun lagi." Suara Kenzo yang lantang membuat buku kuduk wanita itu berdiri dan segera melihat Kenzo.


"Siapa kamu, keluar dari rumah saya!"


Kenzo semakin mendekat, wanita itu tidak akan bisa mengenali karena Kenzo memakai masker. "Kamu tidak perlu tahu, wanita yang berpura-pura sok baik padahal sangat licik."


Kenzo sudah tahu wanita itu mengadopsi anak hanya untuk menjadikanya pengemis selama ini berpura-pura menjadi ibu yang baik. Dan mengajarkan anak itu nakal waktu di sekolah. Jika anak itu terluka maka dia akan meminta ganti rugi.


"Keluar kamu!" Teriak wanita itu.


Kenzo malah menjambak rambut wanita itu dan menenggelamkannya di bak mandi yang airnya penuh. Wanita itu tidak bisa memberontak karena Kenzo dengan gerakan cepat melakukan itu.

__ADS_1


Setelah wanita itu tidak memberontak Kenzo rasa wanita itu sudah modar. Ia menuju dapur dan langsung memotong selang gas. Kenzo lantas membuang patung rokonya dan keluar melalui jendela.


"Hidup hanya sebagai sampah masarakat."


•••••


"Sudah sekian lama tapi masih saja, kelakuan seperti dulu meninggalkan aku sendiri pas sudah dapat enaknya doang."


Kenzo diam saja seperti sedang di marahin oleh Mamanya sendiri. Zizi saat ini membelakangi Kenzo.


"Maaf sayang, tadi Mas ada urusan."


"Alesan." Jawab Zizi ketus.


Mana mungkin Kenzo akan bicara jujur, Zizi akan semakin marah padanya. Saat ini Kenzo akan membunuh siapa saja, yang terlibat untuk menyingkirkannya dulu.


"Hadep sini dong sayang, masak kamu gitu aja ngambek."


"Mas sih, bisa gak. Kalau sudah dapat jatah tuh gak usah main pergi aja. Aku kan masih mau di kelonin."


"Sekarang boleh. Sini sayang."


"Udah gak mood, sana Mas pergi saja. Pekerjaan lebih penting dari aku."


"Perasak-an kamu deh yang maksa Mas ngelakuin itu, kenapa sekarang Mas yang seolah-olah bersalah?"


"Karena wanita selalu benar." Zizi mengulum senyum, dia tidak mau mengalah begitu saja. "Ngaku aja pekerjaan lebih dari segela-galanya."


Kenzo mencari cara agar mood Zizi kembali. "Siapa bilang, andai kata. Sayang ingin aku meninggalkan dunia pembisnisan akan aku lakukan sekarang juga."


Kenzo meraih posnselnya mencari nomer Reza dan menekan tombol hijau. Tidak lama panggilan itu tersambung.


"Hallo, Reza. Mulai besok saya mengundurkan diri, kasih tahu Papa."


'Tidak bisa, Erlan dan Erlon masih akan mengeluarkan biaya yang banyak. Mas Kenzo pikiranya sempit sekali, padahal tadi aku cuma menggeretaknya saja.'


Zizi berbalik mengambil ponsel Kenzo langsung menutuskan panggilan itu.


"Kenapa, apa sayang sekarang takut miskin?"


"Gak takut miskin, tapi Erlan dan Erlon harus menjadi anak yang sukses. Kalau tidak dari sekarang kita mempersiapkan mereka tabungan lalu kapan?"


Kenzo mencubit hidung Zizi. "Terus kata-kata yang tadi?"

__ADS_1


"Lupakan. Sekarang bawa aku kerumah Papa, si kembar pasti cariin aku."


__ADS_2