ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH

ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH
41. Al Atau Kenzo


__ADS_3

SEBELUM DI BACA BERI VOTE DAN LIKE YA, SUPAYA AYUZA TAMBAH SEMANGAT UNTUK TETAP UP.


"Kumpulkan semua anak buah sekarang di tempat biasa Anton, kamu Niko cepat cari Jesi. Dari kemarin aku tidak pernah melihat nya."


Semua yang ada di rumah Darel ketakutan karena melihat jasad Nyonya Angel yang sangat mengerikan, Divya salah satu yang menjadi tersangka. Sekarang dia hanya bisa menangis disaat Darel memukulnya dengan sabuk. Sudah puluhan kali Divya mengatakan bahwa dia bukan pelakunya.


"Katakan siapa yang membayar mu untuk melakukan ini semua kepada Mama ku."


"Bu-bukan … ak-aku, pelakunya Darel, tolong percayalah. Aku su-sudah … menemukan Mama dalam keadaan begi–"


"Sandiwara apa yang kamu perankan?" Sambil berjongkok di depan Divya. Mata Darel memerah memancarkan kemarahan yang luar biasa.


"Seret wanita ini ke gudang, rupanya dia tidak mau membuka mulut."


"Aku sudah jujur Darel, jangan bawa aku ke gudang itu lagi."


Darel berbalik disaat Devan berteriak memanggil Divya, anak itu tidak ingin membiarkan para bodyguard membawa Divya. Darel dengan sigap menangkap tubuh kecil itu. Tanpa diduga Devan menggigit tangan Darel.


"Papa jahat. Lepaskan Mama Dev, Mama jangan biarkan Devan sendiri."


Darel tetap memerintahkan para bodyguard untuk membawa Divya, Tangisan Devan membuat Zizi tidak tega dia mendekati anak kecil itu mengambilnya dari Darel.


"Devan sayang, mau main sama Kakak kembar?"


Devan menggeleng masih menangis melihat Divya di seret secara paksa. Anak kecil itu tiba-tiba mimisan karena Divya belum sempat memberinya obat. Zizi panik karena selama ini yang ia tahu Devan sehat-sehat saja.


"Darel, apa yang harus aku lakukan? Devan mimisan sebanyak ini."


Darel sepertinya tidak peduli dan tidak mau tahu. Ia hanya melihat sepintas dan berbalik untuk segera pergi dari ruangan itu. Zizi ingin sekali menjambak rambut Darel karena ia sangat kesal. Di saat anak kandungnya sendiri butuh pertolongan dia malah cuek.


'Kasihan sekali kamu Devan, Tante akan merawat kamu.'


Zizi tidak berani melihat jasad Nyonya Angel. Dia merasa merinding menurutnya Divya sudah berkata jujur.


'Kenapa sekarang Dokter Divya melakukan ini, kalau memang dia pelakunya seharusnya sudah sejak dulu kan.'


•••••


"Mom, kenapa hidung Dedek Devan berdarah?"


"Jangan kenceng-kenceng nanti Devan bangun, bisa nangis seperti yang tadi."


"Iya nih Kak Erlan, kayak Erlon dong gak berisik."

__ADS_1


"Sudah, kita keluar biar Dedek Devan tidur."


"Mom Daddy datang ke sekolah kita." ucapan Erlon membuat Zizi menghentikan langkah kakinya.


"Kak Erlan bakal bilangin Daddy, supaya dimarahi karena sudah kasih tahu Mommy."


Zizi belum percaya dan ingin memastikan ucapan si kembar tidak mengada-ngada.


"Daddy … kapan itu?"


Erlon menatap Erlan meminta persetujuan supaya berterus terang kepada Zizi. Tapi Erlan menggeleng kecil.


"Katakan Mommy tidak akan marah, Mommy berjanji."


"Daddy yang waktu itu kita peluk di restoran Mom." Jawab si kembar serempak. Tapi dengan suara yang sangat kecil.


'Dugaanku tidak salah, itu benar Mas Kenzo. Tapi kenapa dia tidak datang menjemputku.'


Zizi segera mencari alamat rumah Kenzo, dari internet karena Kenzo juga cukup populer di kalangan pengusaha tapi dengan nama Altan. Setelah Zizi menemukannya dia dengan buru-buru pergi mumpung Darel juga tidak ada di rumah. Kedua si kembar sudah ia titip di pelayan yang ada di sana beralasan ingin pergi shopping.


***


"Tuan Al, ada yang ingin bertemu dengan Anda."


"Laki-laki atau wanita?"


"Aku tidak ingin menerima tamu wanita Reza usir saja dia."


"Tapi Tuan Nyonya itu katanya ada urusan pen–"


"Sejak kapan kamu membantah ku Reza."


Zizi yang mendengar Kenzo tidak menerima tamu wanita tanpa permisi menerobos masuk dan terpaku seketika mata hazel itu menatapnya. Rindu yang sudah lama terpendam menjadi gumpalan-gumpalan terasa lebur seketika.


"Ini Nyonya itu Tua–"


"Keluar Reza!"


Reza merasa aneh, tadi Kenzo marah-marah tidak menerima tamu. Tapi kenapa sekarang malah Reza yang diusir bukan tamu itu.


"Apa Mas sudah memiliki wanita lain, yang lebih cantik lebih segala-galanya dari aku. Setelah lama aku menunggu kenapa baru sekarang Mas menunjukkan diri."


Zizi langsung tutup poin dia tidak suka berbasa basi. Kenzo terpaku melihat Zizi yang semakin cantik setelah sekian lama tidak bertemu.

__ADS_1


"Selama ini hanya aku yang masih tetap yakin Mas masih hidup. Lalu kenapa Mas membiarkan aku melalui hari-hari yang sulit, jawab apa sekarang hatimu sudah menjadi milik wanita lain?"


Zizi mendekat lalu memukul dada bidang Kenzo. Disana Zizi meluapkan kekecewaannya rasa benci, senang, bercampur menjadi satu. Sedangkan Kenzo menikmati pukulan kecil dari Zizi.


"Aku mencari yang hilang, dan berjuang untuk yang tak ada ironis sekali bukan? Mas bagiku candu sedangkan aku bagi Mas mainan."


Kenzo membawa Zizi dalam pelukannya, keduanya larut dalam perasaan nya masing-masing. Zizi bisa merasakan hembusan nafas Kenzo.


"Tidak ada wanita yang aku cintai di dunia ini selain dirimu, apa kamu masih belum mengerti?" Kenzo membuka suara setelah lama diam membisu. Sekarang Zizi sudah tahu itu berarti pertumpahan darah akan segera dimulai.


"Lantas kenapa Mas membiarkan aku terhukum rindu?"


"Aku terbaring koma, mengalami luka bakar yang cukup parah ingatan ku juga hilang. Aku berusaha keras supaya ingatan ku kembali tapi tidak bisa. Kamu tahu setelah kita bertemu di restoran itu ingatanku sedikit demi sedikit mulai pulih."


Kenzo lalu menceritakan Zizi bagaimana dia bisa selamat dan menceritakan Tuan Hercules mengalami kecelakaan mobil. Tidak lain pelakunya Darel. Zizi merasa bersalah karena menuduh Kenzo yang tidak-tidak. Mereka berdua masih betah berpelukan layaknya pasangan yang baru bertemu setelah lama terpisah oleh jarak dan waktu.


"Bolehkah aku bercerita dan tertawa bersama mu?"


Zizi meraba rahang Kenzo, dia sempat terpesona melihat senyum Kenzo yang menawan.


"Lebih dari sekedar itu juga boleh, aku sudah siap."


Kenzo seperti mendapat lampu hijau tanpa ragu dia menggendong Zizi. Dan membaringkannya di sopa, baju yang mereka pakai sudah berserakan. Kenzo membuat Zizi sampai lemas tidak berdaya. Kenikmatan yang Kenzo berikan membuat raut wajah Zizi berseri-seri.


•••••


"Sudah bangun, sayang?" Seru Kenzo.


Zizi tersenyum, sambil melilitkan selimut di tubuhnya, entah dari mana Kenzo mendapatkan selimut padahal mereka sekarang berada di kantor. Zizi melihat pakaiannya yang berserakan sudah tidak bisa dipakai lagi, sobek semua.


"Apa yang tadi itu terasa nikmat?"


Zizi melempar Kenzo dengan tisu yang berada di dekat nya. Karena mendengar kalimat Kenzo yang terdengar sangat memalukan.


"Apa mau nambah?" Kenzo terkekeh melihat pipi Zizi memerah karena malu.


Kenzo mendekati Zizi, lalu membuka selimut yang menutupi tubuh Zizi. Zizi seperti anak kecil saat Kenzo memasangkan nya pakaiannya dia hanya bisa diam melihat tangan kekar itu.


"Aku ingin tetap seperti ini berada di dekat Mas."


"Tunggu waktu yang tepat sayang, aku akan membawamu pergi dan anak-anak kita. Jadi bersabarlah sedikit."


"Sampai kapan? sampai Darel berhasil meniduriku?"

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, kamu harus bisa menjaga apa yang sudah membuatku candu dalam setiap lekuk tubuhmu. Apa kamu paham sayang?"


"Aku paham, tapi Mas harus menepati janji."


__ADS_2