
Di hari bahagia ini juga Zizi mendapat kabar kalau Pak Hardian menghembuskan nafas terakhir, perasaanya yang tadi bahagia kini menjadi duka Kenzo dengan sigap menangkap tubuh Zizi yang akan tumbang. Zizi tidak menyangka sang ayah juga pergi meninggalkan dirinya, meski Pak Hardian selalu jahat kepada Zizi tapi tidak pernah terlintas di benak Zizi akan membenci sang ayah karena baginya masa lalu biarlah berlalu.
"Mas, ayah … ."
"Sudah terlalu lama ia terbaring lemah sayang, mungkin ini sudah waktunya," ucapan Kenzo membuat Zizi menangis sejadi-jadinya.
"Mas tolong maafkan semua kesalahan ayah, supaya ayah bisa pergi dengan tenang." Air mata Zizi semakin deras mengalir. Ia mengingat bagaimana dirinya diperlakukan oleh Pak Hardian.
"Sudah ku maafkan sejak dulu, kamu tidak usah memikirkan hal itu." Kenzo menuntun Zizi naik ke atas ranjang. "Kita semua pergi ke pemakaman dulu, habis itu kita baru berangkat ke acara."
Hari ini Erlan dan Aurora akan menikah, meski Aurora menolak pernikahan ini tapi siapa yang bisa menentang kehendak seorang Altan Kenzo Alvaro. Jangan mimpi tidak akan ada yang bisa kecuali nyonya Zivanna Roselin.
Zizi merasa sudah bisa mengontrol dirinya, maka dari itu Kenzo membawa Zizi keluar dari kamar untuk segera pergi ke acara pemakaman.
•••••
Acara pernikahan Aurora dan Erlan berjalan dengan mulus, sekarang mereka semua sedang bersiap-siap untuk pulang. Briana mendorong kursi roda Aurora hingga langkahnya terhenti di saat laki-laki menariknya. Mata Aurora sudah terasa panas karena melihat sang Papa sudah berdiri sambil memegang bunga tulip kesukaannya, sedangkan Briana masih bingung karena ia belum pernah melihat Darel.
"Putri-putriku, maukah kalian memaafkan kesalahan papa," kata Darel sambil menahan rasa sesak di dadanya.
Briana mematung setelah mendengar perkataan Darel. Tidak dengan Aurora yang menarik tangan Briana agar mereka segera menjauh dari Darel.
"Ana, ayo kita pergi. Mungkin mereka sudah lama menunggu kita di dalam mobil."
Namun, Briana masih saja menatap wajah Darel. ia merasa Darel benar-benar tulus meminta maaf.
"Briana, laki-laki itu bukan Papa kita. Papa kita tidak sejahat dia." Tunjuk Aurora ke wajah Darel.
"Papa," lirih Briana memeluk tubun Darel. "Kakak, mari kita memaafkan kesalahan papa," sambungnya lagi.
Sekeras-keras hati Aurora melihat air mata Darel jatuh entah mengapa hatinya menjadi tersentuh. Ditambah melihat wajah Briana yang terlihat sangat berbeda setelah melihat Darel.
Darel melepaskan pelukannya dari Briana dan ia berlutut di depan kursi roda Aurora. "Aurora papa tahu, papa bersalah. Tapi sebelum papa masuk ke penjara. Tolong maafkan papa."
Darel akan menebus kesalahan yang diperbuat karena selama ini ia telah memproduksi ganja. Terlihat para polisi datang bersama Kenzo yang ternyata Darel sendiri yang meminta supaya Kenzo melaporkannya sewaktu ia dikurung di dalam gudang.
__ADS_1
"Papa benar-benar sudah berubah kak, jadi kita harus memaafkannya," kata Briana.
Aurora mengusap air mata Darel, karena apa yang dikatakan Briana ada benarnya juga. "Tebus semua kesalahan Papa, aku dan Briana akan selalu menjenguk papa kesana." Air mata Aurora lolos juga setelah tadi ia tahan.
Darel tersenyum, ia lega karena sekarang putri-putrinya mau memaafkan dirinya. Polisi datang dan langsung memborgol tangan Darel.
***
Lima bulan usia pernikahan Erlan dan juga Aurora tapi mereka sama sekali tidak pernah akur, begitu juga dengan Briana Erlon semakin memperlakukan dirinya sesuka hati.
"Mommy sengaja undang kalian makan malam," kata Zizi membuka percakapan. Ia Zizi ingin makan malam dengan kedua putranya juga menantu-menantunya.
"Silahkan di makan, ini semua mommy lho yang masak," ucap Kenzo yang baru datang sambil ikut bergabung.
Zizi tersenyum membayangkan bagaimana nanti rumahnya akan menjadi ramai, jika kedua menantunya memiliki anak-anak yang kembar. Kenzo yang tau isi pikiran Zizi ia menyenggol sikunya.
"Kalian tahu mommy kalian sudah sangat ingin memiliki cucu." Perkataan Kenzo membuat mereka saling pandang pada pasangannya masing-masing.
"Apa belum ada tanda-tanda," tanya Zizi yang semakin membuat para pasangan kembar itu salah tingkah.
Erlon yang tidak mau kalah dalam segi apapun dengan cepat mengelus perut datar Briana. "Sebentar lagi, disini juga bakal ada cucu mommy." Erlon mencubit perut Briana supaya Briana tidak diam saja. "Sayang, katakan pada mommy juga Daddy."
"I-iya, Mom. Sebentar lagi Briana pasti akan hamil." Kalau saja Briana tidak takut pada Erlon mungkin dia sudah berterus terang kalau Erlon hanya menjadikannya pembantu bukan sebagai istri.
"Kalau kalian akur begini, mommy merasa senang. Jika nanti salah satu dari kami pergi terlebih dahulu … kalian harus tetap akur seperti ini." Zizi berkata begitu karena ia tidak tahu kapan ajal itu akan datang. Sedangkan Kenzo menggenggam erat tangan Zizi.
"Mommy gak boleh ngomong begitu, mommy harus tetap sehat-sehat sama Daddy, katanya mau cucu dari kita."
"Benar kata Erlon mom," sambung Erlan.
Malam itu menjadi makan malam yang sangat menyenangkan antara keluarga Zizi juga Kenzo, sehingga mereka berpamitan untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
•••••
Pasutri yang tadi meminta cucu pada menantunya, sekarang malah mereka yang sedang asik memadu asmara di ranjang panasnya. Meski mereka sudah berumur tapi Kenzo masih kuat untuk memberikan Zizi kepuasan biologisnya.
__ADS_1
"Mas, aku tidak menyangka kalau pernikahan kita bisa bertahan lama."
"Pasti semua pernikahan akan bertahan lama sayang, kalau tidak ada kata perceraian." Kenzo terkekeh, melihat ekspresi Zizi yang berubah. "Sini, gantian kamu yang jadi pemimpin."
Zizi malah mendorong Kenzo sehingga penyatuan mereka terlepas. "Kita lebih baik tidur, ini sudah larut malam."
"Kamu tega sayang, punyaku belum keluar," guman Kenzo.
"Belum keluar apa sih Mas, lihat berapa banyak tisu yang sudah berserakan." Zizi menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Belum sayang, ayolah." Rengek Kenzo seperti anak kecil. Ia merasa tubuh Zizi memiliki magnet yang kuat.
Zizi yang tidak tega melihat Kenzo, ia menggunakan keahliannya di bidang servis menyervis untuk memuaskan Kenzo. Malam yang kelabu menjadi saksi bisu bagaimana pasutri itu selalu menghabiskan malam-malam mereka dengan berolahraga di atas ranjang.
Kenzo mengelus kepala Zizi yang sedang melakukan tugasnya di bawah sana, ia memejamkan matanya sambil menikmati itu semua. Saat sesuatu akan keluar Kenzo dengan cepat menarik pasukanya dari mulut Zizi.
"Kenapa, biasanya selalu ku telan," kata Zizi membuat Kenzo mengulum senyum.
"Gak apa-apa sayang, aku maunya keluar di luar saja."
Tapi ternyata itu hanya jebakan Kenzo saja, Kenzo dengan gerakan cepat mengarahkan senjatanya ke milik Zizi yang masih dengan posisi yang sama.
Zizi kemudian m*d*sah, disaat pusaka Kenzo menerobos masuk untuk kesekian kalinya.
Cukup sampai di sini saja cerita Zizi dan Kenzo, karena mereka berdua sudah bahagia.
\_TAMAT\_
\[Untuk kisah Zizi dan Kenzo\]
Jika kalian ingin lanjut di buatkan kisah si kembar tolong komen ya, supaya Author tahu mau lanjut atau udahan.🙏🙏
__ADS_1
Maaf jika cerita Author terlalu pendek.🌹🌹