
VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DIBACA🌹😊 SUPAYA AYUZA RAJIN UNTUK UP.
Briana sedang membantu ART di rumah Zizi untuk memasak. Ia merasa badannya sudah kembali fit. "Masak apa Bi?" tanya Briana melihat bi Entum.
Bi Entum tersenyum melihat Briana yang sudah berdiri di dekatnya.
"Masak ini Non." Bi Entum menunjuk satu-satu hidangan yang sudah tersedia di atas meja.
"Yah, telat dong," ucap Briana yang melihat semua masakan bi Entum sudah tersaji rapi.
Kebetulan Erlon lewat dan mendengar ucapan Briana seketia ia menghentikan langkah kakinya. "Putri tidur, mau bangun pagi-pagi buta sekali. Jangan mimpi deh." Sambil mengambil bergedel Erlon melihat Briana yang menunduk. "Kau ikutlah denganku hari ini."
"Kemana?" tanya Briana yang masih betah menunduk.
"Apa kau sudah berani bertanya sekarang." Erlon kembali menyomot satu bergedel.
Bi Entum yang merasa dirinya manjadi nyamuk, segara permapitan untuk pergi.
"Tuan, Non. Saya ke belakang dulu."
Erlon menjawab dengan anggukan, saat Briana akan mengikuti bi Entum akan pergi Erlon menarik tangannya. "Mau kemana?"
Briana yang tangannya di tarik secepat kilat melepaskannya. "Saya mau, ke kamar Tuan."
"Siapa yang mengizinkan kau pergi, hem … ." Erlon kembali menarik pergelangan tangan Briana. "Tidak usah berias, kau akan tetap terlihat jelek." Erlon sengaja mengatakan itu.
Zizi dan Kenzo yang hari itu akan sarapan, melihat pemandangan langka itu mereka berdua tersenyum. Sambil menuruni anak tangga. "Kayaknya kita akan kalah nih Dad, sekarang Erlon terlihat lebih romantis dibanding kita," kata Zizi sambil mengulum senyum.
Kenzo langsung menggendong Zizi ala-ala bridal style, setelah mendengar perkataan Zizi. Sedangkan Erlon menyemburkan bergedel itu dari mulutnya karena ia melihat Kenzo tanpa ada rasa malu sedikitpun. "Kenapa, kalian iri?"
Serempak Erlon dan Briana menggeleng mendengar Kenzo. "Ngapain iri, Erlon juga bisa lebih dari itu." Erlon menggigit bergedel itu lagi ia berencana akan menyuapkan Briana menggunakan mulutnya langsung. "Ayo sayang gigit," perintah Erlon membuat bulu kuduk Briana berdiri. Karena baru kali ini Erlon memanggilnya sayang dan menyuruhnya melakukan hal yang tidak mungkin ia lakukan.
__ADS_1
Zizi turun dari gendongan Kenzo, ia melihat Briana yang sepertinya sedang gugup. Zizi berharap Briana akan mau menuruti Erlon tapi Briana malah mengambilnya menggunakan tangan, tidak dengan mulutnya membuat Erlon menatapnya tajam. "Di dalam bisa, kalau disini aku malu," ucapan Briana membuat Zizi tertawa lepas. Karena ia tahu bagaimana sifat pemalunya Briana.
"Kalau begitu kita ke dalam, membuatkan Mommy dan Daddy cucu. Gimana?" Senyum maut yang Erlon berikan membuat kaum rebahan semakin berhalu setinggi pucuk teh.
Zizi seperti melihat adegan dirinya yang dulu malu-malu, tapi kelamaan malah menjadi tidak tahu malu. "Omongan mu Erlon, seperti orang yang sudah sangat berpengalaman." Nada suara Zizi seperti mengejek bagi Erlon.
Erlon dengan gerakan cepat menautkan bibirnya dengan bibir Briana. Zizi juga Kenzo melotot secara bersamaan karena melihat kelakukan Erlon yang saat ini menikmati bibir ranum Briana. Dengan penuh penghayatan. ****! batin Erlon karena pusakanya di bawah sana tiba-tiba menegang.
Erlan yang mau ikut sarapan pagi itu mengurungkan niatnya, karena melihat dua pasangan sejoli yang sedang di mabuk cinta. "Erlan berangkat dulu Mom, Dad." Erlan melewati mereka begitu saja, sambil berpura-pura memperbaiki dasinya padahal dasinya sudah sangat rapi.
Zizi dan Kenzo tidak mendengar Erlan karena mereka terlalu fokus melihat Erlon.
Erlon yang merasa sudah cukup, dengan santai mengelap bibir Briana dengan tisu.
"Sayang, kamu bisa sarapan terlebih dahulu sama Mommy dan juga Daddy. Aku mau mandi sebentar."
***
Dengan hanya berjalan kaki mereka sudah sampai di rumah yang tidak terlalu besar itu. Karena Erlon sengaja mencari rumah yang hanya berjarak beberapa meter dari kediaman kedua orang tuanya. Mengingat dia tidak bisa jauh-jauh dari Zizi.
"Tuan, apa kita akan tinggal di sini?"
"Iya, supaya aku bisa leluasa mencekik lehermu kapan saja aku mau," kata Erlon membuat Briana merasa ketakutan.
"Apa Anda tidak bercanda Tuan?" tanya Briana dengan keringat yang sudah membanjiri telapak tangannya karena mendengar ucapan Erlon. Ia jadi teringat pada kejadin di gudang saat dirinya diam-diam mengikuti Kenzo.
"Tidak, aku bisa membunuh siapa saja dengan sangat mudah," tutur Erlon semakin membuat Briana ketakutan. "Kalau ingin selamat, jangan coba-coba berniat kabur dari sini atau kau akan tau sendiri akibatnya." Erlon mengancam Briana.
Briana merasa hidupnya mungkin tidak akan bertahan lama kalau ia tinggal hanya berdua dengan Erlon. Karena ia tahu perkataan Erlon tidak pernah main-main.
"Sekarang masuk, dan tunjukkan dimana tempat kau ingin dibunuh," bisik Erlon di daun telinga Briana yang masih mematung.
__ADS_1
"Tu-tuan, ja-jangan membuat, sa-saya takut," gagap Briana karena ia benar-benar takut Erlon akan melakukan itu kepada dirinya.
"Selama kau, menjalankan perintah ku dengan baik nyawa kau akan aman. Jadi usahakan jangan membuat mood ku berantakan, apa kau paham gadis langka?"
"Pa-paham, Tu-tuan."
Entah sejak kapan Erlon merasa lucu melihat ekspresi ketakutan Briana seperti ini, sekarang menakuti Briana adalah mood booster baginya.
Briana terlebih dahulu masuk ke dalam ia melihat rumah itu sepertinya sangat nyaman. Ia merasa Erlon bisa memilih tempat tinggal yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. "Rumah ini sangat bagus, dan juga isinya sudah lengkap," gumam Briana. Yang sedang berjalan sambil membuka pintu yang bertulis KAMAR GADIS NORAK.
Sampai segitunya, membuat tulisan segede gaban.
Briana membalik papan nama gantung itu, dan berbanding terbalik dengan tulisan yang tadi. KAMAR TAMU.
Dia memang cerdas, menyembunyikan fakta.
Briana masuk ke dalam kamar itu, dan ia sangat penasaran dengan isi lemari yang terlihat begitu banyak. Setelah membuka lemari Briana tidak percaya bahwa Erlon telah menyiapkan begitu banyak pakaian yang ada di dalam lemari itu.
"Ganti pakaianmu yang murahan itu." Erlon tiba-tiba sudah berdiri saja di belakang Briana. "Cepat, mataku sakit melihatnya."
"Baik. Tuan, apa Anda bisa keluar dulu," kata Briana dengan ragu-ragu.
"Apa kau mengusirku dari rumah ku sendiri, ganti pakianmu di depanku sekarang juga," bentak Erlon.
Briana dengan cepat membuka bajunya di depan Erlon sehingga Erlon dengan susah bayah menelan ludahnya, karena melihat tubuh Briana yang begitu berisi ternyata di balik kaos kebesaran yang selalu Briana pakai terdapat gunung kembar yang sangat menantang. Erlon yang takut matanya ternoda dengan cepat berbalik.
Kenapa tubuhnya sangat sexsi, sial adik kecilku bangun lagi.
Briana yang melihat Erlon berbalik merasa mendapat kesempatan untuk mengganti pakiannya tanpa harus merasa gugup seperti yang tadi.
(Tolong kakak, tinggalkan jejak kalian supaya author tidak down. Saat diri ini rela untuk begadang kalian malah baca tanpa meninggalkan like dan komen nyesekðŸ˜ðŸ¤§ ).
__ADS_1