
VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA SEBELUM DIBACA🌹😊 SUPAYA AYUZA RAJIN UNTUK UP.
Mau tidak mau akhirnya Erlon dan Erlan keluar dari mobil. Para preman itu tidak tahu siapa yang mereka hadapi saat ini.
"Serahkan wanita itu, sebelum kamu menyesal," ucap kedua preman itu yang tampak terlihat beringas.
Erlon tanpa aba-aba memukul kedua preman itu dengan membabi-buta, Erlan hanya diam saja melihat begitu beringasnya sang adik. Sehingga suara sirine polisi menghentikan Erlon yang hampir saja membunuh kedua preman tersebut.
Mereka ingin dibawa ke kantor polisi untuk diminta keterangan. "Sudah ku katakan, wanita itu akan membawa kita pada masalah." Ketus Erlon mengibaskan rambutnya.
"Erlon!" teriak Kenzo yang melihat mereka akan masuk ke dalam mobil polisi.
Polisi yang melihat Kenzo langsung menunduk. "Apa yang kalian berduka lakukan?" bentak Kenzo
Zizi menepuk bahu Kenzo supaya ia tidak kehilangan Kendali. "Mas, kita dengar dulu penjelasan mereka." Zizi berujar karena ia tahu Erlon tidak akan pernah memukul orang tanpa sebab.
"Ded, mereka preman ingin membawa wanita itu." Tunjuk Erlan kedalam mobil.
Zizi yang melihat ke arah yang ditunjuk Erlan kaget. Karena wanita itu mirip dengan seseorang yang begitu familiar di matanya.
"Sudah berapa kali Daddy katakan, jangan pernah main hakim sendiri."
Sambil menyerahkan kartu identitas dirinya sebagai jaminan putra-putranya supaya tidak akan melakukan perbuatan tercela lagi seperti sekarang. "Bawa preman itu Pak," geram Kenzo.
"Kalau begitu kami permisi Tuan." Setelah mengatakan itu para polisi pergi membawa dua preman yang sudah lemas itu tanpa Erlan dan Erlon.
"Pakai mobil Daddy ke kantor, kalian berdua harus hadir di rapat penting hari ini."
Zizi yang mendekati mobil dimana Briana masih menunduk. Ia mengira Zizi akan marah-marah kepadanya karena gara-gara dirinya Erlon dan Erlan berurusan dengan polisi.
"Mom, tolong … bawa wanita itu pulang," pinta Erlan karena ia yakin Briana wanita baik-baik.
Mobil yang tadi Kenzo bawa akhirnya dipakai oleh Erlan dan Erlon. Kenzo menyuruh salah satu sopir yang ada di rumahnya untuk menjemputnya.
•••••
"Nama kamu siapa Nak?" tanya Zizi setelah mereka sampai di rumah, rencananya jadi gagal untuk pergi ke rumah sakit dimana Pak Hardian sekarang sedang terbaring lemah.
"Na-nama … sa-saya Briana," jawab Briana dengan nada suara yang menahan tangis.
__ADS_1
"Nama yang indah, cantik seperti orangnya." Zizi tahu saat ini Briana gugup.
Zizi memberikan gaun kepada Briana ia lalu menyuruhnya untuk mandi saat ini penampilan Briana terlihat begitu berantakan. "Mandi dulu ya, Ana. Tante tunggu di sini."
Briana berjalan ke arah kamar mandi, perasaan nya kini sudah lebih tenang karena ia dipertemukan dengan orang-orang baik.
Matanya mirip dengan dokter Divya, sedangkan hidung bibir seperti Darel. Apa ini cuma perasaanku saja. Zizi membatin.
Briana keluar dengan wajah yang lebih fresh Zizi tersenyum melihat nya. "Sini duduk dulu," pinta Zizi.
Briana duduk dan memberi tahu Zizi dari mana asal usulnya, Zizi mendengar itu menjadi terharu di saat ia ingin memiliki seorang anak perempuan malah ada orang yang tega menitipkan anaknya ke panti asuhan.
"Ana boleh istirahat, tante keluar dulu," kata Zizi sambil beranjak ia ingin menemui Kenzo.
Perpaduan wajah Darel dan Divya, takdir macam apa ini Tuhan.
***
Kenzo memerintahkan Reza untuk mencari informasi Briana hari ini juga. Ia penasaran apakah Briana dikirim oleh musuhnya sebagai jebakan, sekarang Kenzo lebih waspada ia tidak mudah percaya pada siapa pun yang belum ia kenal.
"Apa kamu sudah menemukan informasi anak itu?" tanya Kenzo sambil menaikkan sebelah kakinya. "Bacakan sekarang," sambungnya.
"Jadi benar anak itu … kenapa dunia ini sempit sekali," desis Kenzo. "Apa informasi itu tidak salah Reza?"
"Tidak Tuan, saya juga sempat tidak percaya. Tapi setelah beberapa kali saya mengotak atik komputer ternyata memang kenyataanya begitu."
Kenzo tidak tahu harus berbuat apa, tidak mungkin ia akan menolak permintaan Zizi kalau dia ingin mengurus surat-surat supaya bisa mengadopsi Briana.
"Mas …," suara Zizi membuat mereka menoleh.
"Sayang, sejak kapan kamu di–"
"Aku sudah dengar semuanya Mas, ayolah kita harus berdamai dengan kenyataan."
Kenzo mengisyaratkan agar Reza keluar, supaya ia bisa leluasa berbicara dengan Zizi.
"Masa lalu biarlah berlalu, kita hapus dendam yang tiada akhir ini." Zizi menggenggam erat tangan Kenzo.
"Sayang … aku tidak bisa," lirih Kenzo.
__ADS_1
"Mas aku mohon … kali ini saja."
Kenzo menatap lekat-lekat kedua bola mata layu Zizi. "Baiklah, kalau sampai anak itu menciptakan masalah di kemudian hari dalam keluarga kita, aku angkat tangan."
•••••
Malam sudah semakin larut hanya Erlan yang pulang tepat waktu, sedangkan Erlon anak itu selalu pulang kapanpun ia mau.
Disaat semua orang sedang tertidur pulas, Erlon pulang dengan langkah sempoyongan. Ia saat ini dalam keadaan mabuk karena tadi dia kalah taruhan jadi ia harus meminum minuman keras itu sebanyak tiga botol. Sesuai dengan kesepakatannya tadi dengan teman-temannya.
Briana yang belum tidur berniat mencari udara segar. Tapi langkahnya terhenti di saat ia melihat Erlon berjalan sambil menenteng jasnya. Saat Briana menghampirinya tanpa diduga Erlon menarik Briana lalu membawanya masuk ke kamarnya.
"Tu-an lepaskan saya …," teriak Briana di saat Erlon ingin menarik gaun yang tadi pagi Zizi berikan untuknya.
Elran yang saat itu lewat di depan kamar Erlon tidak sengaja mendengar teriakan Briana karena pintu kamar Erlon tidak tertutup sepenuhnya. Erlan masuk langsung menyalakan lampu sehingga ia dapat melihat gaun Briana sudah robek karena perbuatan Erlon.
"Erlon. hentikan, apa yang kamu lakukan." Erlan menarik Erlon hingga terjatuh ke lantai.
Erlon bangun malah menyerang Erlan terjadilah baku hantam antara Kakak dan adik itu. Briana menangis sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
"Apa kalian berdua butuh senjata?" ucap Kenzo yang baru datang. Ia mendengar kegaduhan makanya dengan cepat ia menuju lantai dua dimana kamar Erlon berada.
"Dad, Erlon mabuk lagi," ringis Erlan karena mulutnya terluka.
Sedangkan Erlon masih duduk dengan wajah yang tak kalah babak belur masih merasa kepalanya pusing. "Erlon, kamu benar-benar tidak pernah mendengar ucapan Daddy." Kenzo masih tetap bicara tenang. Karena bukan kali ini saja Erlon pulang dalam keadaan mabuk berat.
"Bawa Erlon ke bawah Erlan … ."
Kenzo melihat Briana yang ketakutan, ia memanggil Zizi supaya bisa menenangkan Briana yang masih saja menangis.
"Apa Elron berhasil menodaimu?" tanya Kenzo kepada Briana.
Briana tidak berani menjawab, karena tadi Erlon sudah berhasil meninggalkan tanda merah dekat pa**d**anya.
"Katakan, Om tidak akan menyakitimu."
"Tu-tuan Er-Eron … ti–"
"Sudah Mas, biar aku yang bicara dengan Briana," potong Zizi yang baru saja masuk. "Mas lebih baik melihat Erlon," pinta Zizi.
__ADS_1
(Tolong kakak, tinggalkan jejak kalian supaya author tidak down. Disaat diri ini rela untuk begadang demi kalian, kalian malah baca tanpa meninggalkan like dan komen nyesekðŸ˜ðŸ¤§ ).