
VOTE, LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA🌹🌹
SUPAYA AYUZA RAJIN BUAT UP.😊
Darel heran kenapa Niko tidak pulang sudah lewat jam 12 malam, dia jadi curiga apa ini ada kaitannya dengan ucapan Niko yang mengatakan Kenzo masih hidup. Ditambah Anton memberitahunya ibu tiri Zizi meninggal dengan cara mengenaskan.
"Anton, siapa yang perlu kita curigai dalam kasus ini?"
Anton terlihat sedang berpikir, dia juga tidak tahu perbuatan siapa yang telah berani mengusik Darel.
"Saya sempat melihat dari rekaman CCTV yang berada di pinggir jalan, ibu tiri Nyonya Zizi sepertinya tidak mati karena kecelakan melainkan dibunuh. Kalau masalah Niko saya tidak tahu Tuan."
Penampilan Darel tidak seperti biasanya ia terlihat seperti tidak terawat, raut wajahnya kusut Anton tidak berani menegur Darel di saat keadaan semakin kacau begini.
"Anda mungkin butuh istirahat dulu Tuan."
Sejak Zizi pergi dan si kembar. Darel tidak pernah makan dengan teratur, jam tidurnya pun tidak menentu. Darel benar-benar merasa kehilangan sesuatu yang berharga dari hidupnya.
"Istriku apa sudah ada kabar?"
Anton menggeleng lemah, dia juga heran kenapa Zizi dengan cepat sekali menghilang seolah-olah ada yang membantunya keluar dari rumah ini. Padahal rumah ini dilengkapi dengan CCTV di mana-mana, tapi kenapa pas Zizi keluar CCTV itu tidak merekam itu semua.
"Tuan, besok pagi Tuan Al ingin bertemu dengan Anda ingin membahas masalah pengeluaran produk baru di pabrik kosmetik."
"Tuan Altan sepertinya dia bukan orang sembarangan. Aku rasa dia sengaja menyembunyikan identitas aslinya."
"Saya tidak bisa melacak informasinya lebih dalam lagi Tuan, karena komputer saya akan langsung error."
"Siapkan berkas yang harus aku bawa besok, aku ingin membuktikan kecurigaan ku selama ini benar atau tidak."
•••••
Divya menangis histeris di saat mulut Devan mengeluarkan busa, tidak ada yang membantu Divya sebelum mendapat perintah dari Darel.
"Darel kenapa kamu diam saja, bawa anak kita ke rumah sakit."
Suara Divya serak, ia tidak habis pikir disaat seperti ini Darel masih saja bersikap biasa saja tidak terlihat panik sedikitpun.
__ADS_1
"Darel aku mohon, Devan butuh pertolongan dengan cepat," lirih Divya "Hanya untuk Devan, aku mohon … ."
"Dari dulu aku sudah menyuruhmu untuk melenyapkan dia. Sekarang ini akibatnya dia hanya menjadi beban saja." Ketus Darel membuat Divya melayangkan tangan nya di pipi Darel.
"Ini anak kita Darel, kenapa kamu begitu tega!" pekik Divya "Benar kata Devan, kamu hanya sayang kepada anak kembar itu. Kenapa dengan anak kamu sendiri tidak." Suara Divya mulai meninggi.
Darel memegang pipinya yang sudah di tampar oleh Divya. "Lebih baik dia mati."
Divya menggendong Devan dan berlari dia ingin membawa sendiri Devan ke rumah sakit. Setelah mendengar ucapan Darel yang seperti belati menusuk-nusuk jantung Divya.
"Selangkah kamu pergi dari rumah ini, anggap itu sebagai tanda kamu setuju untuk berpisah dari ku."
Divya tetap melangkah, ia tidak menoleh sedikitpun dengan air mata yang sudah berderai. Ia hanya berharap tidak terjadi sesuatu kepada Devan.
***
Darel duduk di ruang meeting dia sedang menunggu Kenzo. Darel sudah lama mencurigai Kenzo maka dari itu dia akan menjebak Kenzo dengan pertanyaan.
"Tuan Al sudah sampai di lobi Tuan, saya akan menyusulnya dulu."
Pikiran Darel hanya tertuju pada Zizi, dia sampai tidak mendengar salah satu dari mereka bertanya apa merek produk yang akan diluncurkan ke pasaran supaya menarik konsumen.
"Tuan Darel, apa Anda setuju?" tanya Pak Bowo yang sudah berpengalaman di bidang jual beli.
"Tadi Bapak bilang apa? maaf saya kurang fokus."
"Begini Tuan, jika kita mengeluarkan produk baru otomatis kita harus mencari salah satu model yang terkenal."
"Biar Anton yang mengurus itu Pak Bowo."
"Baik Tuan, tapi sebaiknya kita menggunakan artis lokal kalau artis luar negri sepertinya membutuhkan waktu yang lama."
"Benar kata Pak Bowo," sahut mereka di dalam ruangan itu. "Kalau artis luar pasti prosesnya lama, kita kan saat ini mengejar waktu yang sudah sangat mepet." Tambah mereka lagi.
"Kita tunggu Tuan Al dulu supaya lebih jelas." Sergah Darel dengan cepat.
Tidak lama Kenzo datang dengan setelan Jas yang begitu rapi, damage nya tidak main-main mereka yang di sana terkesima melihat ketampanan Kenzo. Darel menyambut Kenzo dengan sangat ramah.
__ADS_1
"Selamat datang di perusahaan saya Tuan Al, mari silahkan duduk dulu."
Kenzo bersalaman dengan Darel, meski saat ini Kenzo ingin langsung melempar Darel dari gedung lantai dua lima ini. Tapi Reza selalu berusaha memperingati Kenzo bahwa Kenzo harus bermain dengan otak tidak dengan otot.
"Senang bertemu dengan Anda Tuan Darel, apa Anda baik-baik saja?"
"Sangat baik Tuan, apalagi istri saya selalu memenuhi kebutuhan saya." Darel sudah mulai memancing Kenzo.
"Oh ya, kapan Anda menikah Tuan? pasti istri Anda sangat beruntung."
"Lima tahun yang lalu Tuan Al, apa Anda sendiri sudah menikah?"
"Sudah, saya juga memiliki istri yang sangat setia tidak mudah tergoyah oleh rayuan laki-laki yang tidak tahu MALU." Kenzo menekan kata malu supaya Darel merasa tersindir.
"Wah pasti istri Anda sangat cantik Tuan." Darel pura-pura menyanjung.
"Kita bisa mulai meting ini Tuan Darel, Tuan Al?" Pak Bowo bicara. "Silahkan bagaimana pendapat Anda Tuan Al?"
Pak Bowo memberikan gambar merek produk kosmetik yang tadi sempat dibahas dengan Darel.
"Kenapa nama produknya berubah?" Kata Kenzo dengan nada datar.
"Saya lupa Tuan Al, nama produk itu gabungan dari nama saya dan istri tercinta saya." Darel tersenyum ia lagi-lagi ingin melihat reaksi Kenzo.
"DZ Glow. Saya tidak setuju," tangan Kenzo mengepal kuat di bawah sana. "Sebaiknya nama produknya diganti menjadi DA Beauty Glow." Kenzo tidak peduli tatapan orang-orang disana mengarah pada dirinya.
"DZ Glow sudah bagus Tuan Al, apa lagi ini istri saya sendiri yang menjadi testimoni produk ini. Kulitnya yang putih susu sangat cocok."
'Bajingan ini berani-raninya menyebut kulit istri ku di depan orang banyak. Sepertinya mulutnya ingin di sobek.'
Reza yang melihat urat tangan Kenzo menonjol, beberapa kali menepuk bahu Kenzo supaya Kenzo tidak berbuat gegabah. Di saat banyak orang seperti sekarang ini.
"Tuan Al, apa Anda masih tidak setuju?" Darel sudah merasakan aura Kenzo berbeda.
"Saya tetap tidak setuju Tuan Darel," sambil melonggarkan dasinya Kenzo tetap berusaha terlihat tenang. "Ini kan produk kita berdua kenapa harus nama istri Anda juga ada di sana?"
Kenzo tidak mau mengalah, mereka yang ada di sana di buat kebingungan.
__ADS_1