
Dengan langkah pasti Erlon berjalan memasuki cafe ia tidak peduli dengan para pelayan yang berteriak histeris saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di dalam cafe itu. Tapi ada yang membuat langkahnya terhenti di saat ia berhasil menangkap bayangan seseorang yang begitu sangat ia kenal.
Ngapain dia disini, apa dia juga di ajak sama kak Erlan? guman Erlon di dalam hati.
Erlon datang sendiri sedangkan rombongan yang lain masih berada di belakang. Saat ia menatap Ana dari kejauhan tatapannya terhalang oleh tubuh Bimo yang saat ini mendekat ke arahnya.
"Selamat datang tuan, saya tidak menyangka Anda ternyata benar-benar datang ke cafe saya yang kecil ini," kata Bimo terlihat antusias.
Erlon tersenyum semakin membuat para pelayan yang di sana terpesona. "Senang bertemu dengan Anda, Pak. Bimo," ucap Erlon. Tapi tatapan matanya entah kemana.
"Semoga ini semua sesuai dengan permintaan Anda tuan. Dan saya juga sangat beruntung bisa bertemu dengan Anda."
"Ini sederhana tapi terlihat sangat mewah, Anda benar-benar luar biasa Pak Bimo. Sesuai dengan keinginan saya."
Beberapa rombongan Erlon datang mereka disambut dengan baik oleh beberapa waitress, sedangkan Erlon masih asik berbincang-bincang dengan Bimo tapi Erlon tidak sadar Bimo mengangkat tangannya memberi kode supaya lampu dimatikan. Suara yang tadi riuh kini menjadi hening.
Sesaat setelah lampu cafe itu mati tiba-tiba lampu kelap kelip menyala di atas panggung, suara musik mulai terdengar bersamaan dengan munculnya perempuan dengan pakaian yang begitu sangat sexsi membuat siapa saja yang melihatnya akan tergoda.
Suara alunan musik yang mendayu-dayu ditambah suara merdu yang masuk di telinga terdengar begitu sangat sopan membuat mereka hanyut dalam setiap lirik yang sekarang sedang di bawakan oleh Ana.
Pupus
Lagu Dewa 19
(Dari mbah google).
Aku tak mengerti apa yang kurasa
Rindu yang tak pernah begitu hebatnya
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu
Aku persembahkan hidupku untukmu
Telah kurelakan hatiku padamu
Namun kau masih bisu, diam seribu bahasa
Dan hati kecilku bicara (oh-wo)
__ADS_1
Baru kusadari
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku
Semoga waktu akan mengilhami
Sisi hatimu yang beku
Semoga akan datang keajaiban
Hingga akhirnya kaupun mau
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu
Meski saat ini Ana menggunakan topeng mata tapi Erlon tetap bisa mengenalinya.
Ternyata … dibelakangku pakaianmu seperti ini, guman Erlon. Yang mengepalkan tangannya di bawah sana dengan sangat kuat.
Suara tepuk tangan membuat lampu di cafe itu menyala tapi bersamaan dengan itu Ana sudah tidak ada lagi di atas panggung, membuat Erlon semakin yakin itu adalah Ana gadis yang selalu ia perlakukan seenak jidat.
"Iya, tuan. Saya tunggu disini."
Erlon pun berjalan setelah mendapat jawaban dari Bimo, ia sebenarnya ingin mencari Ana dengan beralasan ingin ke toilet. Saat Erlon berpapasan dengan pelayan laki-laki ia mencoba menanyakan nama Ana. "Permisi, apa yang tadi penyanyi itu namanya Ana?" tanya Erlon.
Sedangkan pelayan itu terlihat bingung.
"Mungkin maksud Anda Briana tuan," ucap pelayan itu dengan takut-takut karena ia bisa melihat aura Erlon sangat berbeda.
"Ya, maksud saya itu. Dimana dia sekarang saya ingin bertemu dengannya."
"Tadi saya sempat melihatnya pergi ke arah toilet tuan," ujar pelayan itu.
Tanpa menjawab Erlon berjalan menuju toilet wanita semberi membalas pesan sang kakak yang bertanya apakah semua berjalan dengan lanjar. Hingga tak menyadari ada seseorang yang berjalan di depannya. Bruk … .
"Aw," ringgis orang yang Erlon tabrak.
Saat Erlon melihat siapa yang ia tabrak, semakin membuat suasana hatinya menjadi kesal. "Lu, seperti setan. Ada di mana-mana," ketus Erlon.
__ADS_1
"Owh, ternyata lu, yang booking nih tempat."
"Minggir, itu bukan urusan lu."
Mila yang hanya numpang pipis di toilet cafe itu merasa heran kenapa Erlon malah pergi ke arah toilet wanita. Saat dirinya ingin mengikuti Erlon ponselnya tiba-tiba berdering yang membuatnya mengurungkan niatnya. Firman, lu ganggu gue aja, gumam Mila di dalam hatinya. Ya, itu Mila yang niatnya ingin bertemu dengan Firman di cafe itu tapi cafe itu sudah di booking oleh Erlon maka dari itu ia hanya numpang pipis saja.
—-
Ana yang sedang mencuci wajahnya di toilet, mendengar suara ketukan pintu.
Perasaan tadi toilet sedang kosong semua, tapi kenapa ada yang mengetuk pintu. Apa mungkin mereka cuma iseng saja, Ana membatin sambil membilas mukanya. Namun, lagi-lagi ketukan pintu itu mulai terdengar membuat Ana bersuara dengan nada yang sedikit lantang. "Iya, tunggu sebentar."
Ana dengan buru-buru memasukkan sabun cuci wajahnya ke dalam tasnya saat ia rasa sudah selesai, Ana meraih gagang pintu lalu membukanya seketika ia langsung mundur setelah melihat siapa yang berdiri. "Tu-tuan, Erlon. Sa–"
"Jadi ini yang kau lakukan di belakangku," potong Erlon dengan cepat. Ia masih berdiri sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. "Berpakaian seperti ini, sungguh memalukan."
"Tuan, saya hanya be–"
"Membiarkan laki-laki lain melihat tubuhmu, sedangkan pada suamimu sendiri kau berpakaian seolah-olah aku tidak punya hak atas tubuhmu." Erlon lagi-lagi memotong pembicaraan Ana. Karena ia tidak ingin mendengar alasan apapun itu. "Sekarang pulang, dan layani aku. Aku ingin meminta hakku sebagai suami." Erlon sebenarnya dengan sudah payah menelan salivanya saat melihat dua tonjolan yang begitu padat, terlihat berdesakan seperti ingin keluar dari balik gaun yang sexsi itu.
"Tuan, bukankah dalam surat itu tidak ada," ucap Ana yang sudah takut melihat mata Erlon memerah.
"Aku berubah pikiran, sekarang ikut aku."
Ana malah semakin mundur, membuat Erlon merasa dirinya di tentang. "Saya akan pulang sendiri tuan, Anda tunggu saja di rumah," ujar Ana yang melihat Erlon mendekat.
"Sejak kapan aku berani menantangku, hah?" Erlon memegang dagu Ana. "Pulang, atau aku akan melakukannya di sini."
Ana memegang tangan Erlon ia menurunkan tangan kekar itu dari dagunya. "Saya pasti akan pulang tuan, tapi jangan sekarang. Acara belum se–"
"Baiklah," kata Erlon sambil menutup pintu toilet itu lalu menguncinya. "Rupanya, kau lebih ingin disini. Gadis nakal."
Sekarang giliran Ana yang dengan susah payah menelan salivanya di saat Erlon membuka jasnya. "Tu-tuan, jangan saya mohon … ."
Erlon malah tersenyum nakal, ia senang melihat wajah ketakutan Ana seperti ini. "Ayolah, itu terasa sangat nikmat. Jika kau sudah merasakan punya ku, aku yakin kamu akan ketagihan," seloroh Erlon. Yang sekarang malah membuka kancing kemejanya satu-satu.
Ana yang tidak bisa berpikir jernih malah berteriak, ia ingin meminta bantuan siapa tau ada orang di luar. "To-tolong, siapapun di luar tolong saya!" teriak Ana, ia kemudian mencoba meraih kunci yang Erlon pegang tapi tidak bisa karena Erlon malah memasukkannya kedalam celananya.
"Ayo ambil, supaya kau bisa menyentuh adik kecilku yang sedang tidur." Tantang Erlon yang saat ini mengulum senyum.
__ADS_1
Maaf ya, Ayuza ganti judulnya 🙏🙏☺☺🌹🌹😉😉Jangan lupa mampir🤗🤗