
Pada sore hari, Blue dan Narumu masih duduk di dekat tembok, Narumu masih menundukkan wajahnya sedangkan Blue tertidur.
Perut Narumu berbunyi, bertanda lapar. ia mengangkat wajahnya, wajahnya bengap akibat menangis.
"Oi Blue bangun, saatnya makan."
Narumu membangunkan Blue, ia menggoyangkan tubuhnya.
Perlahan, mata Blue terbuka melihat Narumu.
"Narumu."
"Bangunlah, saatnya makan."
Narumu mengulur tangannya, Blue meraih tangannya.
Melihat keadaan sekeliling, bangunan kedai sudah hancur dan pasar hancur.
"Kita mau makan apa?"
"Seharusnya ada sebuah tenda yang menyiapkan makanan, tenda darurat yang menyiapkan makanan bagi korban. namun, aku sama sekali tidak melihatnya."
"Mungkin saja ada disana."
Narumu dan Blue berjalan mengitari kerajaan, mereka berdua mencari sebuah tenda darurat yang menyiapkan makanan. biasanya tenda darurat di gelar oleh para kesatria.
"Seharusnya para kesatria membuat sebuah tenda darurat, biasanya aku melihatnya di dalam game jika kalau terjadi sesuatu di dalam kerajaan mereka, maka para kesatria membuat sebuah tenda darurat untuk membantu para korban."
"Namun, dimana tenda itu? lagian, aku membutuhkannya untuk mengisi perut."
Mereka berdua masih mencari tenda itu, secara tiba-tiba Blue hampir terjatuh, namun secara cepat Narumu menolongnya.
Tangan mereka berpegangan membuat pipi Blue memerah.
"Hampir saja."
Narumu membantu Blue berdiri, lalu mengulur tangannya.
__ADS_1
"Apa?"
"Peganglah tangan ku agar kamu tidak jatuh kembali."
"Eh?"
Wajah Blue kian memerah, ia ragu ragu untuk memegang tangan Narumu. perlahan, tangannya terangkat dan menggenggam tangan Narumu.
Mereka berdua berjalan sambil berpegangan tangan layaknya seorang kekasih.
Semakin lama, Blue semakin merasa nyaman, secara tidak sadar ia nyaman menggenggam tangan Narumu. ia menggenggamnya dengan erat seperti tidak ingin dilepas.
Lalu, Narumu melihat para kesatria yang sedang berbicara, ia bersama Blue pergi menghampiri mereka untuk menanyakan tenda.
"Permisi, apa disini ada sesuatu seperti makanan? kami berdua sangat lapar."
Salah satu kesatria malah mendorong Narumu, dorongannya sangatlah kuat membuat Narumu terhempas mundur.
"Apa Maksudnya!?"
Narumu kembali termakan emosi, ia membuang tangan Blue dari genggamannya, Blue melihat tangan nya yang di buang dengan tatapan diam.
"Apa-apaan ini!? bukannya ada di gudang kerajaan!?"
"Itu semua milik raja! kami tidak berhak mengambil sesuatu milik raja tanpa persetujuannya!"
"Temukan aku dengan raja kalian, aku akan berbicara dengannya agar kalian di beri sebuah persetujuan untuk memberikan persediaan makanan!"
"Baiklah."
Secara tiba tiba, tangan Blue di genggam kembali oleh Narumu. Blue sontak terkejut melihat Narumu yang mengenggam tangannya, lalu ia tersenyum.
"Tangan ku nyaman dengan tangan mu, tanganku seperti tidak ingin lepas dari tanganmu."
"Apa yang kamu katakan?"
"Eh? tidak!"
__ADS_1
Mereka berdua berjalan menuju kastil kerajaan Euphmion, Narumu berniat menemui raja secara langsung.
Para kesatria membuka pintu kastil, di dalamnya terdapat benda benda mahal seperti lampu yang berlapis emas dan beberapa koleksi.
Narumu dan Blue diantar ke sebuah ruangan, disaat ruangan itu di buka, terlihat beberapa orang sedang berkumpul.
Mereka memakai pakaian yang terlihat mahal, dan di depan terdapat seseorang berpakaian layaknya raja dan di sebelahnya terdapat ratu dengan penasihat raja.
"Permisi yang mulia, dia adalah salah satu penduduk kerajaan Euphmion, dia ingin berbicara kepada anda."
"Baiklah, kita lanjutkan rapat ini nanti."
Narumu berjalan mendekati raja bersama dengan Blue.
Para bangsawan di sekeliling Narumu langsung membicarakannya, walaupun begitu Narumu tetap tak gentar. ia tetap berjalan walaupun di sekelilingnya banyak yang mencaci dirinya.
"Yang Mulia, saya ingin ber-----"
"Menunduklah! berani nya kau berbicara tanpa menunduk ke arah yang mulia!"
Penasihat raja membentak Narumu, karena sikap Narumu dinilai tidak sopan. namun, ia tidak ingin menunduk apalagi berlutut, ia tetap berdiri bersama Blue.
Disaat Blue hendak berlutut, Narumu menggenggam tangannya dan membangunkan dirinya.
"Kenapa?"
"Untuk apa kita berlutut dengan raja yang tidak mengkhawatirkan rakyatnya? lagian, berlutut kepada sang pemimpin bukanlah tradisi di dunia ku, kami hanya menunduk untuk saling menghormati."
"Sialan! beraninya---"
"Sudah cukup."
Raja membelai mereka berdua.
"Maafkan saya, yang mulia."
"Jadi, apa yang kau ingin bicarakan?"
__ADS_1
"Perkataan anda sangat tidak sopan ya... baiklah, ada yang ingin saya bicarakan kepada anda, raja."