
Para warga mengamuk kepada para kesatria, mereka mendorong serta mencaci maki para kesatria.
Untuk mengetahui hal itu, Narumu bertanya kepada salah satu warga yang mengumpul disana.
"Permisi, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Ah, para kesatria menyuruh kami untuk mengungsi karena tempat ini akan terkena limbasan perang, namun para penduduk tidak terima tempat tinggal mereka dihancurkan."
"Ah begitu ya, terimakasih."
Para penduduk masih tidak terima, mereka pun mengamuk. walaupun begitu, para kesatria tetap berdiri dan tetap berpegang teguh.
"Saya mohon kepada seluruh penduduk untuk mengungsi atau keluar dari kota ini."
Lalu, datang seseorang menghampiri para kesatria. dia adalah pemimpin di kota ini, ia datang untuk bertanya kepada para kesatria.
"Tuan, saya ingin para penduduk untuk pergi dari kota ini karena takut kota ini akan terkena limbasan perang."
"Saya tahu itu, namun ada bayaran nya tidak?"
Salah satu kesatria berambut biru menunjukkan kantung lumayan besar di tangannya, ia menggoyangkan kantung itu untuk memastikan sang pemimpin.
"Para penduduk sekalian! saya sebagai pemimpin di kota ini menyuruh kalian untuk segera mengungsi!"
"Lalu, bagaimana dengan tempat tinggal kami?"
"Kami akan membuatnya kembali, yang terpenting nyawa kalian harus selamat!"
"Anda tidak akan mengerti perasaan kami! bagaimana perasaan kami kehilangan tempat tinggal!?"
__ADS_1
"Cih, betapa sulitnya para penduduk ini."
Para penduduk mulai emosi, mereka tak terima tempat tinggal mereka di gunakan untuk berperang.
"Huh... betapa sulitnya."
"Hah."
"Ada apa, Rain?"
Rain merasakan sebuah aura membunuh, dan aura itu juga terdapat banyak.
"Aku merasakan aura membunuh berjumlah banyak."
"Berkemungkinan, mereka adalah musuh dari para kesatria ini."
"Aku harus membantu pemimpin itu, sebelum waktunya terlambat."
Sebelum Narumu menabrak, Rain sudah lebih dulu menyelamatkannya.
Para penduduk mulai berlari panik, mereka berlari ke seluruh arah.
"Semuanya!"
Datang para kesatria yang dipimpin kesatria berambut biru, kumpulan kesatria berarmor lengkap.
"Serang!"
Para kesatria itu mulai maju melawan dibantu dengan para pemanah di belakang barisan, namun mereka sama sekali tidak memiliki penyihir untuk membantu dalam serangan akurasi jauh.
__ADS_1
Narumu pun bingung harus berbuat apa, sihir api masih muncul dari atas langit dan menghantam kota.
"Rain, ayo selamatkan para penduduk."
"Baik, tuan."
Narumu dan Rain berpencar, Narumu mulai mencari penduduk yang terjebak. ia mengangkat puing puing bangunan untuk mencari penduduk yang terjebak.
"Sial."
"Para penduduk berlarian ke seluruh arah, sulit bagi ku untuk menenangkan mereka."
Rain melihat sihir api yang mengarah ke arahnya, dengan cepat ia menangkis sihir itu menggunakan tangannya. sihir itupun menghilang ketika ditangkis oleh tangannya.
"Ah, aku ingin sekali melawan mereka, namun tuanku tidak memberikan perintah untuk bertarung. jadi, aku akan menahan diriku."
Narumu berlari menyuruh para penduduk untuk tetap tenang, namun usahanya sia sia saja.
Lalu, terdapat salah satu kesatria berkuda musuh yang menghampirinya. Ia menebas para penduduk yang berlarian, Narumu pun berlari ke arahnya menghantam sang kuda hingga kesatria itu jatuh dari kudanya.
Tulang tangan kanan, tulang pinggang bagian kanan dan tulang dagu bagian kanan hancur terkena tendangan kaki kuda yang begitu keras, Narumu pun terhempas jauh sedangkan kuda itu menabrak permukaan.
"Betapa bodohnya aku."
Kesatria itu pun bangun dan menusuk dada Narumu, dan membuat Narumu tewas.
Rain yang tengah menangkis serangan lawan terkejut ketika aura Narumu perlahan menghilang.
"Tuan."
__ADS_1
Namun, bukannya khawatir, Rain malah tersenyum sedikit. ia tahu kalau Narumu akan hidup kembali, dan benar saja Aura kehidupan Narumu terasa kembali.
Dan ternyata benar, Narumu sudah hidup kembali. tulang yang hancur pun terbuat ulang dan luka nya tertutup, Narumu menusuk kesatria itu menggunakan pedang yang berada di dadanya.