
Pada sebuah desa sederhana, desa yang damai dan tentram. desa ini terletak di dekat hutan dan perbatasan wilayah kerajaan.
Terlihat seorang lelaki muda yang tengah memotong kayu, ia menggenggam sebuah kapak tajam di tangannya dan memotong kayu menjadi 2.
Setelah memotong seluruh kayu, Pemuda itu duduk di sebuah kursi, ia mengelap keringat yang mengucur di seluruh wajahnya.
Yang tak lain dia adalah Narumu.
Narumu meminum air dari botol yang ia bawa, suasana pada pagi itu lumayan panas, kadang angin berhembus terkadang tidak.
"Haah... panasnya."
Narumu kembali bekerja, kali ini ia mengangkat potongan kayu menuju sebuah toko. di toko itu, terdapat pengrajin kayu yang terkenal di desa ini.
"Paman, aku sudah membawakan kayu nya."
"Terimakasih Nak, itu upahmu."
Narumu mengambil upah yang di berikan, upahnya berkisar 8 koin emas. setiap hari, Narumu menerima 8 koin itu.
Narumu masuk ke salah satu bangunan, yang dimana bangunan itu adalah tempat kamar sewaan. Narumu tinggal disana, harga per minggu adalah 4 koin emas.
"Huh... kini aku tidak memiliki tujuan apapun, lagian aku tidak tahu menahu tentang dunia ini."
"Kini aku memilih untuk bekerja, lebih baik aku bekerja dibanding harus berpetualang tak jelas."
"Uang yang sudah ku kumpulkan adalah 20 koin emas digabung dengan 8 koin emas baru, berarti 28 koin. menurutku, itu sudah lebih dari cukup."
Narumu menghela nafas.
"Mau bagaimanapun, aku ini memang seorang karakter utama. mungkin saja, atau mungkin tidak."
"Secara tidak jelas, aku dipanggil ke dunia lain tanpa tujuan dan alasan, aku juga tidak mengetahui siapa yang memanggilku kesini, aku juga tidak tahu siapa karakter utama di dunia ini, mungkin saja aku. dan bahkan aku sama sekali tidak mengetahui heroine nya!"
__ADS_1
"Sudah lebih dari setahun aku menunggu heroine, namun tidak ada yang datang. malahan aku mendekati karakter sampingan, pantas saja tidak ada alurnya."
Secara tiba-tiba, muncul sebuah hujan api dari atas langit, hujan itu menghantam desa.
Kamar Narumu ikut terkena, bagian luar sudah terbakar, kaca jendela juga sudah pecah. Narumu bingung ingin keluar lewat mana, ia berlari ke arah jendela.
Melompat lewat jendela dan jatuh ke bawah, kaki nya sedikit berbunyi ketika mendarat.
Hujan api itu kian membanyak bahkan sampai tak berhenti menghujani.
Salah satu api mengenai tubuh Narumu dan membuat Narumu terbakar, ia berjalan sempoyongan sambil menepak nepuk seluruh tubuhnya untuk mematikan api.
Namun, ia mati kebakar. tubuhnya gosong tak berbentuk.
Lalu, Narumu kembali bangkit. tubuhnya yang gosong kembali menjadi seperti semula.
"Sial, siapa yang menyerang?"
Muncul tiga orang berpakaian seperti penyihir, mereka muncul dari arah tebing curam. salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah api dari tangannya.
"Oh, ada yang bersemangat."
"Kalahkan dia, Banu."
"Baik."
Salah satu dari mereka menempelkan kedua tangannya di permukaan, secara tiba-tiba tanah bergetar seperti sedang diguncang. lalu, muncul sebuah taring batu yang berjumlah banyak.
Salah satu batu muncul tepat di arah Narumu, batu itu melesat cepat, sulit untuk Narumu menghindar. alhasil, batu itu mengenai tubuhnya, batu itu berhasil menghancurkan bagian dada Narumu dan membuatnya tewas dalam sekejap.
"Lihatlah dia, langsung kalah hanya dengan hantaman batu berduri."
"Hahaha."
__ADS_1
Ketiga orang itu menertawai Narumu.
Disaat mereka selesai tertawa, secara tiba-tiba di sebelah mereka terdapat Narumu yang hendak memukul mereka.
Mereka bertiga sontak menjadi terkejut melihat Narumu masih hidup, Narumu berhasil memukul satu orang, orang itu terhempas jauh hidungnya mengeluarkan darah.
"Bagaimana mungkin kamu bisa selamat dari hantaman itu!?"
"Entahlah, aku bahkan tidak tahu tentang itu."
Disaat Narumu hendak memukul kedua orang, salah satunya memakai sebuah racun ke mata Narumu.
"Ah mataku!"
Narumu berjalan mundur sambil mengelap matanya, ia terus mengelap matanya dan pada akhirnya jatuh ke bawah.
Ketiga orang itu kabur dari desa meninggalkan Narumu yang kesakitan.
Narumu membuka matanya, mencoba melihat. pandangannya menjadi buram, sebelah mata kanannya tak terlihat sedangkan sebelah kiri buram.
"Sialan!"
Kini, Narumu menjadi buta. ia tidak dapat melihat secara jelas, lalu ia meraba raba ke tanah mencari sesuatu, ia menemukan sebuah ranting pohon yang lumayan panjang serta tajam.
Narumu mengarahkan ranting itu ke matanya, ia berniat menusuk matanya untuk menyembuhkan matanya, setidaknya itu lah yang dipikirkannya.
"Semoga saja bisa!"
Narumu menelan ludahnya dan menarik nafasnya, kemudian menusuk mata sebelah kanan.
Ia berteriak kesakitan, darah mulai keluar dari matanya mengalir lewat tangan dan ranting itu.
Kemudian, ia menusuk mata kiri.
__ADS_1
Setelah menusuk kedua matanya, ia hanya tinggal menunggu. rasa perih sangat terasa di bagian matanya, bahkan sulit untuk di hilangkan.
Secara cepat, matanya kembali normal. mata yang sudah rusak terbuka membentuk mata baru yang dapat digunakan.