
Melihat Narumu tewas, Perempuan itu menghampiri Narumu. namun secara tiba-tiba, Rain berhenti di hadapannya.
Mereka berdua saling bertatapan.
"Minggir dari hadapanku, aku ingin bertemu dengannya." kata perempuan itu.
"Lalu, siapa dirimu? apa kau adalah kenalan dari tuanku?"
"Ya, aku adalah kenalan tuan mu."
"Aku tidak percaya dengan kata katamu, sebelum tuan yang berbicara."
"Sepertinya, kamu harus diberi pelajaran."
"Coba saja kalau bisa."
Disaat Perempuan itu dan Rain hendak bertarung, Narumu pun berdiri di hadapan mereka untuk menghentikan mereka. mereka berdua pun berhenti ketika Narumu sudah berdiri.
"Tuanku?"
Narumu mendorong Rain mundur setelah berhasil menghentikan mereka.
"Apa luka anda sudah sembuh?"
"Seperti yang kamu lihat, aku sudah sembuh dan sehat kembali."
"Syukurlah, oh omong omong apa tuan mengenal dengan perempuan itu?"
"Perempuan itu?"
Narumu menoleh ke arah belakang melihat perempuan yang berdiri belakangnya, sontak ia pun terkejut ketika melihatnya.
"Blue?"
Perempuan itu adalah Blue, Ia adalah seorang perempuan dari ras demi human yang bertemu dengan Narumu di kerajaan Euphmion.
"Narumu, apa kabarmu?"
"Blue, apa yang sedang kamu lakukan disini?"
__ADS_1
Pertemuan mereka pun diganggu oleh para kesatria musuh, mau tak mau mereka pun harus menunda pertemuan mereka.
"Kita bicarakan nanti."
Blue pun pergi meninggalkan Narumu dan Rain, Narumu kembali menolong para penduduk.
"Semuanya! ikuti aku!"
Narumu bertemu dengan rombongan para penduduk, ia pun menyuruh mereka semua untuk mengikutinya. Di tengah penyelamatan, Narumu di hadang oleh salah seorang kesatria musuh.
"Sepertinya kalian ingin pergi dari sini ya?"
"Jika iya, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku akan menghentikan kalian."
Ia menarik pedangnya dari sarungnya, dan menodongkan pedangnya ke arah Narumu.
Narumu pun meladeni nya dan melupakan para penduduk, dengan segala kenaifan ia pun berjalan menghampiri kesatria itu.
"Oh kamu cukup berani juga."
Lalu, berdiri mencoba menusuk si kesatria, namun sayangnya kesatria itu berhasil menangkisnya.
"Lumayan juga."
"Hah, sudah saatnya seorang pahlawan beraksi! aku seorang karakter utama di dunia ini akan membunuh mu!"
"Omong Kosong!".
Mereka berdua pun saling maju dan saling menghantam pedang mereka, tenaga Narumu tak sekuat kesatria itu, jadi dengan mudahnya kesatria itu mendorong Narumu mundur.
Rain di tengah tengah pertempuran hanya terdiam melihat para kesatria saling membunuh, ia sama sekali tidak bergerak.
Lalu, datang beberapa kesatria yang mencoba menebasnya. dengan cepat, ia pun menghempas mereka dan kembali terdiam.
"Ah, aku harus berdiam begini karena tuanku tidak memberi aku perintah."
"Namun, aku sedikit bosan jika hanya berdiam, maafkan aku tuan, aku melanggarnya."
__ADS_1
Pada akhirnya, Rain pun ikut berperang. ia melesat ke atas dan menangkis semua sihir, ia membalikkan semua serangan sihir ke arah para penyihir musuh.
Melihat para penyihir musuh mati terkena sihir mereka sendiri, Rain pun tertawa terbahak bahak.
Narumu masih melawan kesatria itu, ia sangat sibuk dalam bertarung melawannya sampai sampai ia tidak melihat keadaan para penduduk yang sedari tadi hanya berdiam.
Namun tak disangka, ternyata para pasukan musuh sudah berada di belakang para penduduk. mereka pun membunuh semua penduduk tanpa sepengetahuan Narumu.
Disaat Narumu sadar bahwa para penduduk sedang dibunuh, pandangan ia pun menjadi teralihkan, ia pun mengabaikan kesatria itu dan berlari ke arah para penduduk.
"Hentikan!"
Ia pun menggendong salah satu anak kecil yang masih sedikit bernafas walau tubuhnya sudah di tusuk oleh pedang, ia pun menekan lukanya agar darah yang keluar tidak banyak atau menghambat keluarnya darah.
"Bertahanlah!"
Air mata mulai mengucur dari mata Narumu, air matanya jatuh di wajah anak itu. perlahan, mata anak itu terbuka melihat Narumu yang menangisinya.
"Ka-Kak, terimaka-sih su-dah meno-long kami... jadi, jan-gan menan..gis lagi...."
Anak itu memegang tangan Narumu serta menghapus air matanya, Narumu pun memegang tangannya dan tersenyum melihatnya.
"Maafkan aku, maafkan aku, karena telah mengabaikan keselamatan kalian. maafkan keegoisan diri ku, maafkan aku."
"Ti-dak apa..., jangan menan-gis lagi, jan-gan menan..gis lagi."
Anak itu mengelus elus pipi Narumu, dan membuat Narumu tersenyum dan memegang tangannya.
Namun, anak itu pun tewas akibat terlalu banyak mengeluarkan darah. tangannya pun terlepas dari genggaman Narumu dan membuat Narumu menjadi panik.
"Oi, Oi Bangunlah!"
Karena tidak percaya, Narumu mengecek nafas serta bunyi nadinya. dan ia sama sekali tidak mendengar bunyi nadi nya bahkan ia sama sekali tidak merasakan nafasnya.
Narumu pun menerimanya, ia menutup kedua mata anak itu dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku, maafkan aku."
Disaat itulah, kesatria yang melawan Narumu menusuk tubuhnya beserta tubuh anak itu. dan Narumu tewas di pelukan bersama Anak itu.
__ADS_1