
Setelah sampai, Narumu dan Rain berjalan masuk ke dalam penginapan, karena ia diturunkan tepat di depan penginapan.
Narumu mulai menanyakan harga satu kamar kepada pelayan.
"Permisi, saya ingin menyewa kamar."
"7 Koin Emas, 2 malam."
"Mahal nya! apa anda tidak dapat mengurangi nya lagi?"
"Tidak, itu sudah harga standar di penginapan ini."
"Baiklah."
Narumu memberikan 7 koin kepada kasir, kasir pun memberikan sebuah kunci beserta nomornya.
Narumu pun berjalan ke atas menuju lantai dua, karena semua kamar terletak di lantai atas. ia berjalan mencari no kamar nya.
"102, ya ini dia."
Narumu menemukan kamar nya, ia mulai masuk ke dalam. di dalamnya terdapat dua ranjang yang terpisah, jadi Narumu tidak perlu lagi tidur berdekatan Dengan Rain karena itu membuat diri nya menjadi gugup.
Sesampainya di kamar, Narumu langsung menaruh tas dan tidur santai. ia kelelahan setelah melawan para kesatria.
Sedangkan Rain duduk di bangku dekat jendela, ia menatap pemandangan lewat jendela.
Kamar yang Narumu sewa terdapat sarapan pagi gratis, hanya sarapan pagi saja yang gratis selebihnya tidak. Itu pun lumayan menguntungkan bagi Narumu yang sedang krisis uang.
__ADS_1
Narumu mulai menghela nafas, ia bingung bagaimana caranya mendapat uang.
Namun, di sepanjang pikiran nya, ia malah terpikirkan untuk mencuri. pilihan itu terus muncul di kepalanya, membuat Narumu pasrah.
Sebenarnya, bisa saja Narumu mencuri. Namun, ia sama sekali tidak memiliki keahlian dalam mencuri. semasa di dunia asli, ia pernah mencuri walau sekali.
Narumu pernah mencuri roti dari supermarket yang berujung dipukuli oleh teman teman nya karena ketahuan.
Narumu tidak ingin lagi di pukuli, ia takut walau sudah berapa kali merasakan kematian dan kesakitan yang lebih menyakitkan dibandinh dipukuli.
Narumu kembali menghela nafas.
Semakin lama ia berpikir, kepalanya semakin kelelahan. ia pun keluar kamar untuk mencari angin segar.
"Anda ingin pergi kemana, Tuan?"
"Saya ikut, Tuan."
"Baiklah, Ayo."
Narumu dan Rain pun berjalan keluar kamar, disana mereka berjalan santai sambil melihat pemandangan. Disaat ia berjalan, ia melihat seorang pencuri yang sedang melecehkan seseorang. pencuri itu berada di balik lorong sempit.
Hati Narumu pun ingin menyelamatkannya, Namun Tubuh Narumu pun menolak. ia tidak ingin terlibat lagi hanya untuk menyelamatkan seseorang, kali ini sifat Narumu berubah, ia lebih dingin dan berpikir lebih cepat dibanding sebelumnya.
Ia tidak mau mengorbankan tubuhnya hanya untuk menyelamatkan seseorang.
Rain pun mengetahui hal itu, karena sedari tadi ia melihat ke arah Narumu. ia melihat ketika Narumu sedang melihat pencuri itu, tubuhnya bergerak namun malah ia hentikan sendiri. itupun semuanya dilihat oleh Rain.
__ADS_1
Walaupun sifat Narumu sudah berubah, Namun menurut Rain hatinya tidak. ia merasakan kalau hatinya masih sama seperti dulu, yaitu hati lembut yang mudah di rusak.
Narumu berhenti di sebuah toko, disana ia melihat ada beberapa pilihan roti. karena pagi ini, Narumu baru saja menyewa kamar, jadi ia tidak mendapatkan jatah sarapan gratis. Narumu harus menunggu esok hari untuk mendapatkan jatah itu.
Ia sama sekali belum memakan apapun, Rain pun sama.
"Halo Kak, ingin membeli apa?"
"Rain, kau ingin apa? akan aku belikan."
"Eh? tuan, saya tidak perlu, tuan saja terlebih dahulu."
"Jangan begitu, walau kamu ini pelayanku, aku menganggap mu bukan hanya pelayan melainkan satu keluarga denganku. jadi, terima saja."
Kedua Pipi Rain memerah, ia pun memegang jari kelingking Narumu. Narumu pun terdiam melihat Rain memegang jari nya, ia pun membiarkan Rain memegang jarinya.
"Kau mau apa, Rain?"
"Aku ingin roti yang sama dengan yang anda pesan, Tuan."
"Baiklah, Roti Gula 2."
"Baik, 3 Koin."
Narumu memberikan 3 koin kepada pedagang.
Narumu memberikan satu roti gula kepada Rain, dan menyantap bagiannya. Rain menyantap roti nya sambil memegang jari Narumu, sedari tadi ia tidak melepaskan pegangannya.
__ADS_1
Disaat Narumu sedang makan, ia melihat seorang lelaki muda dan perempuan yang mungkin sepantaran dengannya. tatapan sang anak perempuan pun melihatnya dan mereka berdua saling tertatap.