JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
Prolog


__ADS_3

Brakk


Brakk


Seorang gadis yang baru saja turun setelah memanjat pagar sekolah, nampak melihat-lihat sekitar. Bibirnya bergerak menggumamkan kata, “Aman.” Seraya menggesekkan kedua telapak tangan untuk membersihkan debu yang menempel di sana. Ia mengambil ransel yang dijatuhkannya ke tanah. Pelajaran belum selesai tetapi, ia sudah pulang duluan.


Anila Dayita, bukan kali pertamanya gadis itu bolos sekolah, bahkan hampir setiap hari ia melakukannya. Bukan hanya bolos, ia bahkan selalu terlambat pergi sekolah. Apalagi jika bertemu hari Senin yang paginya melaksanakan upacara bendera. Kadang, Guru memergokinya terlambat ataupun bolos, tetapi Anila tidak pernah kapok walaupun selalu dihukum.


“Anila sudah ada di luar gerbang, Pak. Nanggung, dadah, selamat mengajar.” Itu yang ia ucapkan kala seorang guru berhasil menemukannya bolos sekolah. Guru selalu mengancam akan memanggil orang tuanya ke sekolah. Anila tak takut, orang tuanya sangat gila kerja. Bahkan sedikit waktu mereka bersama Anila. Setidaknya dengan guru memanggil mereka, orang tua Anila dapat datang padanya. Walau harus dimarahi, mungkin kedua orang tuanya lebih memperhatikannya. Namun, daripada memarahi Anila. Mereka memilih meminta maaf pada pihak sekolah, dan kembali bekerja.


Gadis itu tersenyum gembira seraya melompat-lompat kegirangan meninggalkan area sekolah.


“Nil!” panggil seorang murid laki-laki. Anila menghentikan langkah dan berlari. Terlihat, Erlangga teman bolos Anila menghampirinya dengan nafas ngos-ngosan. Nama yang terdengar tampan, namun seketika berubah ketika gadis itu memanggilnya.


“Ela, cemen. Gitu aja capek.”


Laki-laki itu sampai di hadapan Anila dengan tangan saling memegang lutut. Jeda sebentar sekedar Erlangga menghirup udara, sampai ia menegakkan badan dan menoyor dahi Anila.


“Ela ndasmu, nama gue malah jadi cantik. Panggil gue Angga seperti orang lain manggil gitu.” Anila tak menjawab, gadis itu sibuk mengusap dahinya yang sedikit berdenyut.


Bukan apa-apa, nama Ela menurutnya lucu. Apalagi nama itu copasan dari Mama Angga sendiri, Ana. Ana menginginkan anak perempuan, namun yang berojol malah laki-laki. Meski begitu, Ana tetap bersyukur dan menyayangi Angga. Tetapi ia memanggilnya dengan nama perempuan, membuat Putranya itu selalu mengejeknya jika memang sang mama masih belum bersyukur.


“Kok lo cepet sampe, Nil? Padahal tadi barengan.”


“Gue lewat depan,” jawab Anila yang membuat Angga melongo mendengarnya.


“Gila lo, berani banget. Ketahuan mampus.” Angga menyahut tak percaya.

__ADS_1


“Hal yang hanya anak laki-laki dipikirkan. Anila bisa melakukannya,” ucap Anila bangga.


“Kuy lah cari makan, lapar nih.” Angga merangkul bahu Anila, menikmati waktu bolosnya yang berharga.


Tanpa kedua remaja itu sadari, tak jauh dari tempat mereka. Seorang pria sedari tadi memperhatikan keduanya di dalam mobil.


“Hallo!” Pria itu menempelkan ponsel ke telinga setelah orang yang ia panggil menjawab teleponnya.


“Aku melihat kedua murid anda berada di jalan merdeka. Bersikap tegas lah, jangan sampai mereka mengulangi hal sama.” Orang di seberang belum menjawab tetapi, pria itu sudah menutup telponnya.


...***...


Anila sampai di rumah pukul 14.00 WIB. Gadis itu membuka pintu rumah yang ternyata tidak dikunci. Saat memasuki rumah, gadis itu kaget ketika mendapati kedua orang tuanya tengah duduk di sofa. Biasanya mereka akan pulang larut malam.


“Ka-kalian sudah pu—” Sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Ardi, sang ayah menyelanya.


“Maksud Ayah apa?” Gadis itu mulai takut mendengar suara Ardi yang lembut namun terdengar menusuk.


“Kamu sudah bosan sekolah!?” Suara Ardi mulai meninggi. Dada pria itu naik turun, Anila hanya diam menundukkan kepala. Gadis itu hampir menangis kala untuk pertama kalinya sang ayah memarahinya.


“Kalau bosan bilang! Papa siap meminta pihak sekolah untuk mengeluarkan kamu.”Anila bergelut dengan batinnya. Ardi begitu marah padanya. Apakah karena ia bolos sekolah. Tapi siapa yang memberi tahunya? Gadis itu tidak merasa guru atau siapapun melihat ia bolos kecuali Angga.


Pria itu mendudukkan dirinya di sofa, tangannya memijat pelipis. “Setidaknya kamu hargai kami yang lelah bekerja untuk menghidupi kamu, Nil.”


“Biasanya kalian juga tidak menghiraukannya. Kenapa sekarang memarahi Anil?”


“Kalian hanya mementingkan pekerjaan daripada Putri sendiri. Mengapa sekarang tiba-tiba peduli?” Air mata Anila perlahan turun. Ardi hendak berucap kembali, tetapi sang istri menghentikannya. Almira ingin mendengar apa yang diucapkan Putrinya.

__ADS_1


“Kalian selalu pulang larut malam dan kembali bekerja esok pagi. Kita bersama mungkin hanya saat sarapan, itu pun tidak lama. Selebihnya bekerja, bekerja, dan bekerja. Tidakkah satu hari saja kalian bersama Anil tanpa harus memikirkan pekerjaan?” Hening, tidak ada ucapan yang terlontar setelah itu. Anil tersenyum sinis, ia berjalan ke kamarnya dengan tergesa.


Sesampainya di kamar, tanpa aba-aba Anila membanting tubuhnya ke atas tempat tidur dengan posisi tengkurap, dan membasahi seprainya dengan air mata. Sebuah notif ponsel membangunkannya. Ia melihat itu dari sahabatnya Angga, atau yang biasa ia sebut Ela.


“Sok-sokan lo Nil bolos pake manjat pagar depan. Mungkin sebab itu kita ketahuan.” Sebuah pesan yang dikirim Angga.


Anila tidak memedulikannya lagi. Ternyata sang teman juga mengalami dampaknya. Ia tidak sendiri, “Syukur deh, berarti gue gak dimarahin sendiri.” Gadis itu tersenyum, sampai sejenak melupakan tangisannya tadi. Mengapa ribet? Bahagia itu sederhana. Menangis? Senyum adalah obatnya. Jika tidak mempan, setidaknya berpura-puralah, dengan begitu mereka mengira kau baik-baik saja.


...***...


Anila menggosok rambut basahnya dengan anduk. Gadis itu baru selesai mandi. Ia menyambar hair dryernya untuk mengeringkan rambut, dengan tubuhnya masih terbalut handuk kimono.


Gadis itu kini sudah siap dengan dandannya, sekarang mendadak perutnya berbunyi. Padahal ia baru makan ketika bolos dengan Angga. Anila membuka pintu kamar, namun ia kembali menutupnya dan menyisakan celah sedikit untuk mengintip.


Di ruang tamu, orang tuanya tengah berbicara dengan seorang pria.


“Langsung ke intinya saja.”


“Saya kemari berniat untuk melamar Putri kalian.” Anila membulatkan matanya. Tidak! Ini tidak mungkin, bisa-bisanya ada yang melamarnya ketika ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas kelas 11.


“Tapi Putri kami masih sekolah, Tuan,” jawab Almira.


“Saya akan menunggunya.”


“Ta-tapi dia masih kelas 11.”


“Ya, saya akan menunggunya. Bukan waktu yang lama untuk Putri kalian keluar.” Almira melongo, mengapa pria itu begitu memaksa. Dia juga terlihat terpaut tak begitu jauh umurnya dengan Almira. Sementara, Ardi hanya diam, pria itu tengah memikirkan sesuatu.

__ADS_1


“Baik, aku setuju. Aku tidak akan melepaskan putri ku pada lelaki lain.”


__ADS_2