JADI GURU DEMI CALON ISTRI

JADI GURU DEMI CALON ISTRI
23. Berteman?


__ADS_3

..."Hanya aku dan dirimu. Tak peduli banyak orang mengelilingi. Karena, kamu ... orang yang selalu aku lihat dalam duniaku."...


Kringg ....


Suara bel berbunyi. Para murid SMA Pelita Merdeka bersorak gembira. Mereka segera menaruh alat tulisnya dalam tas, dan berbondong pergi ke kantin.


"Ang ...," panggil Niora pada Angga, namun tak ia lanjutkan ketika pemuda itu lebih dulu berdiri, bagai tak mendengarnya.


Tangan gadis itu terkepal di udara. Sampai ia melihat Angga berhenti di bangku paling depan. Bangku yang dihuni oleh gadis yang kemarin ia lihat berboncengan dengan kakak tirinya.


Niora menatap tidak suka kedua remaja itu. Apalagi ketika Angga mengeluarkan senyum manis pada Anila. Hingga keduanya berjalan keluar beriringan, dan menghilang dari pandangan Niora.


"Apa hubungan kalian sangat spesial!?"


...***...


"Ini dia pesanan Nak Anila sama Nak Angga." Bi Ami meletakkan nampan yang di atasnya terdapat dua mangkuk mie ayam beserta dua gelas minuman coklat, kedua remaja itu memiliki selara hampir sama.


"Terima kasih, Bi," ucap Anila dan Angga serempak. Makanan yang mereka pesan beberapa menit lalu sekarang berasa di hadapannya. Mereka hanya tinggal menyantapnya.


"Oh, iya, Bi. Garam yang Anila tadi pakai ternyata habis. Tapi Bibi kasih tahu harganya aja, Anila bisa ganti."


"Tidak apa-apa, hanya sebungkus garam saja," timpal Bi Ami tersenyum ramah.


Angga yang sudah menikmati mie-nya itu pun berhenti menyuap. "Garam? Buat apaan garam, Nil?" tanyanya dengan masih mengunyah mie.

__ADS_1


Anila gelagapan, ia lupa jika ada Angga di sana, tidak mungkin gadis itu menceritakan tentang Rafin?


"Eh, katanya Mama lo kadang gak sempat bikinin sarapan buat lo? Kebetulan tadi Mama gue masak, terus bawa ke sini deh gue." Anila menyodorkan sekotak sarapan yang ia bawa pada Angga. Hal itu tak lain untuk mengalihkan pembicaraan.


"Nih."


Benar saja, mata Angga langsung berbinar dan seakan melupakan pertanyaan tadi. Anila pun tersenyum senang. Segera, pemuda itu membuka tutup kotak makan siang yang diberikan Anila. Ia dihadapkan dengan sayur kangkung di dalam sana. Menu yang sederhana, namun ketika ia memasukkan ke dalam mulut, nampak begitu menyukainya.


Angga memasukan sayur itu ke mulutnya hampir tidak ada jeda. Ia rindu masakan rumah, walau hanya sekadar kangkung yang mendingin juga bukan ibunya yang memasak, pemuda itu menyukainya.


"Sabar anjir. Gue juga gak bakal ambil itu makanan." Angga tak mempedulikan gadis itu. Ia hanya sibuk dengan makan kangkung itu. Sementara, mie ayam yang tadi Angga pesan dianggurkan.


Ting


Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Rafin. Pria itu tengah berbaring di atas berankar rumah sakit untuk mengobati bentolan akibat ulat bulu.


"Katanya sudah menjauhkan gadisku dari pemuda itu, nyatanya masih saja mereka berhubungan." Rafin membatin.


Tadi pagi Ardi memberitahunya jikalau Anila berangkat bersamanya. Ardi pun begitu yakin mengatakan jika Anila tidak akan berhubungan dengan pemuda yang mereka kira adalah kekasih Anila.


"Apakah harus aku yang melakukannya sendiri, Ardi?"


...***...


Semua pelajaran telah berakhir, bel pulang pun akhirnya berbunyi. Membuat semangat para murid pun bergejolak. Akhirnya tempat tidur empuk, mereka menantinya.

__ADS_1


"Eh, sorry, gue gak sengaja nabrak lo," ungkap Niora pada seorang gadis. Tidak sengaja? Hal itu tidak mungkin. Gadis itu sedari tadi bersembunyi di balik tembok dan menunggu gadis yang selalu bersama Angga menghampirinya.


Hingga, ia berlagak seolah hal itu tidak disengaja. Ia hanya ingin berbicara dengan gadis yang dekat dengan kakak tirinya tersebut. Mungkin akan lebih tertarik jika kedua gadis itu dekat juga.


"Ahh, iya, gapapa." Anila menjawab, hendak berlalu dari sana. Namun, Niora mengikutinya.


"Lo mau ke parkiran juga?" Anila hanya mengangguk tanda jawaban.


"Gue juga."


"Lo bawa kendaraan sendiri?" tanya Niora basa-basi.


"Gue nebeng teman."


"Iyakah? Yang mana?" Anila menghentikan langkah, gadis itu menunjuk pada Angga yang sudah mengeluarkan motornya yang terparkir bersama kendaraan murid lain. Terlihat Angga menengok pada mereka dan melambaikan pada Anila.


"Itu, gue duluan."


"Ah, iya." Niora memandang gadis itu tidak suka. Bisa-bisanya ada gadis begitu dekat dengan sang kakak. Bahkan saling melempar tawa, sedangkan hubungan Angga dengan Niora seperti orang asing.


Gadis itu mengangkat ponselnya untuk menghubungi seseorang. Setelah panggilan diangkat dari orang diseberang, gadis itu menempelkan ponsel pada telinga.


"Huftt, gue gak tahu kenapa manggil lo, tapi gue bener-bener butuh bantuan lo sekarang."


...***...

__ADS_1


Ada cerita keren nih, rekomendasi banget buat dibaca. Wajib masukin perpustakaan sih ini. Bikin baca ketagihan dan pingin lanjut terus.



__ADS_2